Diberdayakan oleh Blogger.

Pages

  • Beranda
Google+ Youtube facebook twitter instagram Email

SKULIZER

SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN


Ahirnya aku berkesempatan juga menonton film yang saat review ini ditulis sudah mencapai 2.432.961 penonton. Film Suzanna : Bernafas Dalam Kubur bukan lah remake dan bukan pula biopic melainkan sebuah penghormatan besar untuk sang ratu horor. Melihat bagaimana banyaknya easter egg film terdahulunya di tampilkan membuktikan bahwa para pembuat film ini tahu betul caranya membuat film "Suzanna" bukan sekedar horor malas yang hanya menggeruk pundi-pundi uang.

Filmnya sendiri bercerita tentang Suzanna (Luna Maya) dan sang suami, Satria (Herjunot Ali) hidup bahagia nan penuh cinta telah diberikan momongan. Hingga sampai suatu hari ketika Satria pergi ke luar negeri, Suzanna memutuskan untuk menonton layar tancap bersama pembantunya (Asri Welas). Dikarenakan kondisi badan yang kurang sehat, Suzanna terpaksa pulang lebih awal.

Ditempat lain, 4 orang pemuda yaitu Umar (Teuku Rifnu Wikana), Dudun (Alex Abbad), Jonal (Verdi Solaiman) dan Gino (Kiki Narendra) yang tak lain adalah karyawan Satria sedang merampok rumah Suzanna karena kesal permintaan naik gaji mereka di tolak. Aksi mereka berempat pun dipergoki oleh Suzanna. Alhasil sebuah kejadian tak mengenakan menimpa Suzanna membuat dirinya harus menjadi arwah penasaran yang nantinya akan menghantui 4 orang tersebut.

Judul Bernafas Dalam Kubur seperti gabungan 2 film Suzanna terdahulu yaitu Bernafas Dalam Lumpur (1970) dan Beranak Dalam Kubur (1971) namun nyatanya elemen-elemen plot Suzanna : Bernafas Dalam Kubur lebih banyak terinspirasi dari film Sundel Bolong (1981). Anggy Umbara yang sebelumnya menduduki posisi sutradara tiba-tiba ditengah jalan diambil alih oleh Rocky Soraya entah karena apa. Mungkin itu jugalah yang membuat adegan makan sate tidak dimasukkan kedalam frame.


Di 15 menit awal film ini memang diisi oleh drama. Tujuannya guna menjadi pondasi cerita dan lebih memperdalam karakter. Penonton jadi mengerti alasan mengapa hantu Suzanna masih berpura-pura menjadi Suzanna manusia. Itu terbukti ketika Jonal berkata : "Jika kau membunuhku maka kau akan kembali ke alam sana dan tak dapat bertemu lagi dengan suami mu" hantu Suzanna yang mendengar itupun terdiam. Terdapat hasrat yang kuat untuk terus bersama sang suami.

Pergerakan kamera dalam film ini cukup apik. Lihat aja adegan ketika 4 karyawan Satria merampok rumah Suzanna. Juga sinematografinya yang membuat adegan penguburan jasad Suzanna terasa lebih segar. Jangan lupakan juga tata rias film ini, yang menyulap Luna Maya menjadi Suzanna hampir 100 persen mirip. Akting Luna Maya juga sangat dan mungkin yang terbaik. Hampir tidak ada bedanya ketika Luna Maya sedang berakting diam dengan Suzanna asli.

Untuk urusan horor film ini memang tak lebih baik dari film-film Suzanna sebelumnya. Hal itu sudah sewajarnya, dikarena Suzanna sendiri memiliki aura magis yang begitu kuat, hanya dengan melihat matanya saja penonton sudah merasa ketakutan. Namun Suzanna : Bernafas Dalam Kubur bukan berarti gagal dalam membuat penonton takut. Masih terdapat kengerian di beberapa adegan dan kadar gore yang sedikit meningkat dari film-film Suzanna. 


Terakhir, ketika saya sedang asyik-asyiknya menonton. Seorang anak kecil yang duduk dibangku sebelah saya dengan polosnya bertanya kepada sang ayah. "Yah, kenapa dia jadi hantu. bukannya dia rajin sholat?". Alih-alih mendapat jawaban, sang ayah malah terdiam. Mungkin pertanyaan itu jugalah yang ingin saya tanyakan kepada sang pembuat cerita.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Film ini aku temukan di lapak download langgananku. Tertarik menonton karena trailer filmnya yang memperlihatkan sekumpulan anak muda dan komunitas musik Funk. Sebagai orang yang menyukai film-film bergenre musical dan punya niat untuk membuat film seperti itu suatu hari nanti, tidak ada salahnya untuk menonton film ini. Hitung-hitung buat menambah referensi.

 Adegan awal film ini memperlihatkan beberapa simbol-simbol aneh di dalam sesuatu yang berbentuk seperti telur melayang-layang layaknya di luar angakasa. Lalu selanjutnya kita menyaksikan adegan seorang pria terbangun dari tidurnya dan memutarkan musik funk di Turntable lalu mengangguk-angguk seperti kerasukan jiwa. 

Kebanyakan film musical mengambil konsep pertunjukkan Opera atau Broadway Musical. Jarang sekali ada yang mengambil konsep musik anak jalanan. Sekalipun ada, kualitas filmnya tidak terlalu bagus. Melihat adegan awal film ini di tambah lagi trailernya membuat ekspektasiku jadi tinggi. Berharap mendapatkan tontonan musical ala funk, film ini justru membuat kepalaku pusing. 

Bercerita tentang tiga anak muda yang menyukai musik funk, Enn (Alex Sharp), John (Ethan Lawrence) dan Vic (AJ Lewis). Mereka bertiga lalu mendatangi klub musik funk di Croydon dan menyaksikan pertunjukan Band gila bernama Dyschords. Setelah pulang dari Croydon, di perjalanan Enn mendengarkan alunan musik aneh. Mereka lalu mengikuti arah musik tersebut dan sampai pada sebuah tempat. 


Di tempat itu mereka bertiga di sambut oleh seorang perempuan yang memakai kostum aneh bernama Stella. Stella lalu mengijinkan mereka bertiga masuk ke dalam. Selama berada di dalam, mereka melihat hal-hal aneh dan absurd. Enn pun bertemu dengan seorang perempuan bernama Zan (Elle Fanning) yang tertarik akan musik funk dan meminta Enn untuk mengajaknya ke pesta.

Dari situ segala ekspektasiku tentang film musical ala funk lenyap sudah. How to Talk to Girl at Parties, bak novel Supernova karya Dee Lestari. Ceritanya mengarah pada sebuah kunjungan makhluk asing di bumi dan cerita romansa antara makhluk asing tersebut dengan manusia. Makhluk asing tersebut tidak mengerikan seperti dalam film Predator namun berbentuk layakya manusia.

Mereka mempunyai tradisi yang aneh, ada yang terus berteriak, menari-nari dan ada juga yang bisa menumbuhkan diri. Simbol-simbol di awal adegan merupakan penjelasan tentang tiap-tiap koloni makhluk asing tersebut. Mereka adalah Semangat, Pikiran, Suara, Keinginan, Seks, & Kekuatan. Namun seiring dengan tumbuhnya benih asmara antara Zan dan Enn, koloni tersebut bertambah satu lagi yaitu Hati. 


How to Talk to Girls at Parties bukanlah sajian nan murahan yang asal sekedar absurd. Dengan adanya Nicole Kidman di dalam film ini jelas menunjukan bahwa film ini mempunyai nilai lain. Namun entah terletak di kesalahan naskah atau kurangnya eksekusi Sutradara, film ini jadi sajian garing nan membosankan. 

Beberapa adegan cukup menghibur ketika filmnya masuk ke ranah musik Funk. Aksi gila dari vocalis Dyschords merupakan yang terbaik dari film ini. Sang vocalis tampil nyentrik dengan busana seperti banci dikejar Satpol PP. Ia berteriak, berjoget, meludah bahkan melompat dari atas panggung dan menciumi orang yang bakal mengontraknya. 

Tak ketinggalan juga aksi gila dari Elle Fanning yang bergaya Funk dan bernyanyi seperti vocalis Evanescence. Kepandaian Elle Fanning memainkan ekspresi datar dan tatapan ingin ingin tau bahkan sampai melakukan adegan ciuman gila seperti : menciumi satu persatu orang yang ada di Croydon, Menciumi hidung Enn, menjilati kuping Enn dan adegan ciuman sambil muntah. 


Menjelang klimkas, film ini kehilangan daya tarik dan seperti kebingungan untuk mengakhiri film. Karakter Enn yang merupakan karakter utama dalam film ini juga belum mampu mengambil simpati penonton. Akting Nicole Kidman sudah tidak perlu di ragukan lagi, namun lemahnya penulisan naskah membuat dialognya terasa aneh. Mungkin itu karena tema filmnya yang tentang makhluk asing.

Terakhir, How to Talk to Girls at Parties merupakan film fiksi ilmiah romansa komedi yang masih dapat memberikan hiburan terlepas dari semua keanehan yang ada dalam filmnya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Film ini dibuka dengan adegan seorang pria yang terlihat kebingungan setelah bangun tidur. Pria itu memerhatikan bentuk tubuhnya, lalu memotret dirinya sendiri, menyebutkan sesuatu di kamera dan menyetel alarm untuk jam 23.00 dan menyetel lagi untuk jam 23.50. Adegan selanjutnya kita tahu kalau pria yang bernama Justin tadi mempunyai pacar yang sangat manis bernama Rhiannon. 


Secara cerita, film ini berfokus pada kehidupan asmara Rhiannon. Ketidakpuasannya terhadap sang pacar karena dinilai terlalu cuek dan kurang memerhatikan dirinya membuat Rhiannon mencoba membuka hatinya untuk orang lain. Namun layaknya sebuah film romansa pada umumnya, kehadiran orang lain itu tak bertahan lama, karena kemudian sang pacar mengetahui dan mengusirnya. Rhiannon pun kembali terjebak pada kehidupan romansa yang membosankan. 

Sekilas dari sinopsis diatas memperlihatkan pada kita bahwa tidak ada yang aneh dalam film Every Day. Ceritanya juga terlihat biasa dan mudah ditemui pada film romansa lainnya. Itu jugalah yang terjadi padaku ketika pertama kali menonton. Berharap mendapatkan cerita romantis nan sedih, Every Day justru bergerak keranah fiksi ilmiah.

Rhiannon di datangi oleh orang asing yang kemudian mencoba untuk akrab padanya. Anehnya lagi, orang asing itu seperti mengetahui semua kesukaan Rhiannon. Rhiannon pun tertarik dan jatuh cinta pada orang asing tersebut. Sayangnya orang asing itu hanya bisa bertahan satu hari. Karena esoknya orang itu akan berpindah tubuh ke orang lain lagi. Inilah bagian aneh dalam film Every Day.


Orang asing itu bernama 'A' adalah seseorang yang terbangun di tubuh berbeda setiap harinya. Di adegan pembuka, 'A' terbangun di tubuhnya Justin, pacar Rhiannon. Hal itu juga yang membuat Justin begitu romantis kepada Rhiannon. Mengajak Rhiannon berkencan, mendengarkan musik kesukaan Rhiannon dan bernyanyi bersama lalu bercerita tentang kehidupan pribadi yang selama mereka pacaran tak pernah sedikitpun di lakukan Justin.

Esoknya, 'A' terbangun di tubuh yang berbeda lagi. Kali ini seorang pria bernama Nathan. Justin pun kembali semula, menjadi pribadi cuek dan kurang memerhatikan Rhiannon juga tak dapat mengingat kejadian semalam. 'A' dalam tubuh Nathan bertemu dengan Rhiannon di sebuah pesta. Mereka kemudian menjadi akrab dan berbagi kisah masing-masing. Justin yang melihatnya terbakar cemburu lalu mengusir 'A'. Esoknya, 'A' terbangun di tubuh yang berbeda lagi.


Every Day tidak benar-benar menjadikan filmnya bergerak ke ranah fiksi ilmiah. Sang sutradara, Michael Sucsy, tahu betul arah filmnya kemana. Terlepas dari alur ceritanya yang rumit, Every Day tetaplah sebuah film romansa yang kebanyakan penontonnya berasal dari kaum remaja. Maka hal terpentingnya adalah menghadirkan momen-momen romantis yang dapat menyenangkan penonton dan Michael Sucsy bisa melakukannya. 

Naskah buatan Jesse Andrews mampu menghadirkan penjelasan-penjelasan ilmiah seputar jati diri 'A' dengan begitu ringan dan santai layaknya seperti obrolan biasa. Meskipun terdapat kemonotonan ditengah film akibat ketiadaan konflik dalam cerita. Tapi setidaknya Jesse tidak meninggalkan tanda tanya selepas film usai. Penonton pun diberi gambaran masa depan jika Rhiannon terus bersama 'A' yang memiliki kejadian aneh seperti itu. Apakah mereka akan bahagia atau malah tidak. Hal ini juga berfungsi sebagai pengakhir film.

Sosok Rhiannon yang diperankan oleh Angourie Rice paling berhasil mencuri perhatian. Ia tampil sederhana dengan sikap yang tak mau ambil pusing dengan perkataan orang lain terhadapnya. Tiap dialog yang keluar dari mulutnya terasa enak didengar di tambah senyumnya yang bisa meluluhkan hati penonton. Begitupun 'juga A' yang dimainkan oleh banyak orang tetap menjadikannya karakter yang dengan mudah disukai dan tak kehilangan daya tarik. 


Every Day adalah sebuah film romantis fiksi ilmiah yang mudah ditonton oleh siapa saja tanpa harus merasa takut terjebak pada kerumitan alurnya. Karena Every Day mampu menghadirkan tiap momen begitu romantis.  

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Tentang Aku


Welcome to my blog.
Namaku Arif Hidayat, seorang pria biasa yang menjadi Penikmat Film | Pendengar Musik | Pencandu Buku. Kritik dan saran atau sharing bisa menghubungi lewat email : deni.aries86@gmail.com

Follow Us

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Google+
  • Youtube

Categories

Film Ulasan Cerpen Makalah Tutorial

recent posts

Blog Archive

  • Januari 2019 (1)
  • November 2018 (3)
  • September 2018 (5)

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates