Diberdayakan oleh Blogger.

Pages

  • Beranda
Google+ Youtube facebook twitter instagram Email

SKULIZER

SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN




Bab I
Pendahuluan

    A.      Latar Belakangan

Didepan bangunan tua itu, puluhan sepeda motor berbaris rapi. Di sekitarnya lapak-lapak pedagang kaki lima “mencuri” trotoar untuk menggelar dagangan. Keramaian ini tak henti sejak pukul delapan pagi hingga enam sore. Hiruk pikuk kian memuncak kala melewati pintu utama bangunan. Orang lalu lalang di sekitar ruangan dengan urusannya masing-masing. Sebagian lain masih mengantri, menunggu giliran.

Inilah Kantor Pos Besar Medan. Terletak dibagian utara Esplanade, Lapangan Merdeka atau Merdeka Walk sekarang, bangunan ini masih berdiri kokoh. Usianya lebih dari seratus tahun. Sejak didirikan pada tahun 1911, bangunan ini menjadi saksi bisu perkembangan negeri Medan. 

Bangunan ini, sengaja kami ambil untuk riset makalah ini, karena ia merupakan salah satu bangunan tua dan juga bersejarah di kota Medan. Meski sampai saat ini, terdapat perubahan pada beberapa bagian di dalam dan didepannya, juga warna cat temboknya yang mulai pudar dan juga fungsinya yang sudah mulai ditinggalkan orang. Namun ia tetap menjadi ikon bangunan bersejarah kota medan dan harus tetap dilestarikan.

    B.      Rumusan Masalah

1.       Sejarah Kantor Pos Medan
2.       Fungsi Kantor Pos Medan
3.       Tanggapan Orang Tentang Kantor Pos Medan

    C.      Tujuan Penulisan

1.       Untuk mengenalkan kembali ikon bangunan bersejarah kota medan
2.       Melihat kembali sejarah Kantor Pos Medan
3.       Seberapa pentingkah Kantor Pos Medan itu bagi masyarakat



Bab II
Pembahasan


A.                  Sejarah Kantor Pos Medan

Kantor Pos Medan adalah kantor pos besar di Medan, Indonesia. Dibuka pada tahun 1911, kantor pos ini adalah salah satu bangunan bersejarah yang hingga kini masih berdiri kokoh di Medan. Bangunan ini masih tetap mempertahankan fungsinya hingga kini. Letaknya di pusat kota Medan, tepatnya di seberang Lapangan Merdeka dan Hotel Dharma Deli. Di depannya terdapat air mancur yang didedikasikan pada salah seorang pionir kota Medan modern, Jacob Nienhuys (sudah berubah bentuk).

Tidak jauh dari Kantor Pos Medan, ada pula pusat kuliner Merdeka Walk yang populer. Gaya arsitektur Belanda yang masih kental, mirip dengan gaya arsitektur jembatan Titi Gantung di dekat stasiun, dan memang dipertahankan hingga sekarang. Kantor Pos Medan diarsiteki oleh salah seorang arsitek Belanda, Snuyf, yang juga merancang Kantor Ledeng Palembang. Bangunan ini memiliki luas 1200 meter persegi, dengan tinggi mencapai 20 meter.

Kantor pos yang terdapat di jantung kota Medan ini juga merupakan ikon kota Medan. Bangunan yang didominasi dengan warna putih dan oranye, yang merupakan identitas Pos Indonesia ini memiliki bentuk kubah yang unik. Bentuk kubah tetap dipertahankan walaupun kantor pos ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Jendela-jendela yang terletak pada sisi-sisi bangunan berbentuk setengah lingkaran, dengan tiang putih yang menyangganya, membuat bangunan tersebut terlihat seperti kandang burung merpati pos yang dahulunya dimanfaatkan sebagai sarana berkirim surat.

Meski sudah berusia lebih dari seratus tahun, Kantor Pos Besar ini masih terus mencoba bernapas. Sejak jaman kejayaan tembakau Kesultanan Deli di Medan pada masa perdagangan Belanda dan negara-negara Eropa lain, lalu masa Negara Sumatera Timur (1947-1950), kemudian Republik Indonesia Serikat (1949-1950), sampai era Negara Kesatuan Republik Indonesia (1950-saat ini), ia masih menampung segala aktivitas padat pelayanan jasa pengiriman. Dan di jaman ini, bangunan-bangunan bersejarah semacam Kantor Pos Besar ini mulai tenggelam di antara pemandangan bangunan-bangunan pencakar langit.

Medan semakin berkembang pesat sejak perkebunan menjadi usaha utama di Tanah Deli ini, sekitar akhir 1800-an. Nienhuys, pemimpin perusahaan perkebunan dari Belanda di Medan saat itu, memproduksi tembakau Deli yang kualitasnya kemudian terkenal ke seluruh Eropa. Tembakau inilah yang kemudian mengangkat nama Medan ke pentas dunia, dan membawanya ke arah pembangunan yang lebih maju. Dan gelombang para pendatang dari berbagai negeri pun mulai memasuki Medan.

Di masa itu, Nienhuys dan pengusaha-pengusaha tembakau lain dari Eropa banyak bekerjasama dengan Kesultanan Deli untuk membangun perusahaan. Mereka menyewa lahan untuk membangun perusahaan-perusahaan yang mendukung operasionalisasi perdagangannya. Adapun buruh–buruh perkebunannya diambil dari tiga negeri, yakni Cina, Jawa, dan India. Sedangkan pribumi yang bekerja pada perusahaan-perusahaan ini minimal bekerja sebagai apa yang populer disebut dengan ‘adm’ (administrasi).

Perkembangan bisnis tembakau ini kemudian diikuti atau ditunjang kemudian oleh pembangunan sejumlah infrastruktur, seperti jalur kereta api dan kantor pelayanan umum. Hal ini dilakukan untuk mengoptimalisasi operasionalisasi usaha perkebunan tembakau. Bekas-bekas bangunan tersebut masih banyak yang berdiri hingga saat ini, bahkan masih ada yang menjalankan fungsi aslinya kala Medan sudah di bawah kekuasaan Negara Republik Indonesia.

Salah satu dampak dari kemajuan perusahaan tembakau itu adalah pembangunan Kantor Pos Besar Medan. Bangunan kokoh ini berada di sebelah kiri Merdeka Walk, tepatnya di depan Hotel Inna Dharma Deli yang dahulu merupakan Hotel de Boer, dan menghadap menyamping ke arah bekas bangunan Javasche Bank (kini Bank Indonesia) yang berdiri di samping gedung Balai Kota lama. Javasche Bank merupakan bank cabang milik Belanda di Jawa yang digunakan untuk mensosialisasikan mata uang Gulden milik Belanda.

Daerah sekitar Lapangan Merdeka yang dahulu disebut Esplanade (bahasa Belanda), yang berarti lapangan terbuka ini dianggap sebagai titik nol Medan. Berada di sekitar Lapangan Merdeka seakan terlempar ke abad lalu. Daerah ini merupakan salah satu pusat peradaban Medan di masa lalu. Di sekitarnya, paling tidak ada sebelas bangunan tua yang relatif masih utuh seperti saat didirikan.
Tak saja fungsinya yang masih sama, di Kantor Pos Besar ini juga masih tertera pada dinding-dindingnya bermacam-macam tulisan yang menjadi penanda sebuah jaman. Ukiran tulisan ‘ANNO 1911’ di bagian atas samping kiri dan kanan bangunannya pun masih terlihat jelas. Ia menjadi salah satu bukti tahun kelahiran bangunan Kantor Pos Besar.


‘ANNO 1911’ merupakan bahasa yang umum di pakai di Eropa yang berarti ‘Tahun 1911’. ‘Anna Domini’ misalnya, yang populer disingkat AD, merupakan bahasa Italia yang berarti ‘Tahun Tuan Kita’ atau ‘Tahun Masehi’ atau yang umum disebut ‘Masehi’ atau yang disingkat “M”.
Arsitek bangunan bersejarah ini tak lain adalah Snuyf. Dia memulainya pada 1909 dan selesai pada 1911. Dia sendiri merupakan pejabat pekerjaan umum Belanda untuk Kesultanan Deli. Dalam buku Badan Warisan Sumatera Medan, Snuyf disebut sebagai Direktur Jawatan Pekerjaan Umum Belanda untuk Indonesia. Tapi, tentu saja, ini mengherankan lagi menyesatkan. Tak ada Indonesia di Medan pada 1911. Medan belum dikuasai oleh Negara Republik Indonesia di tahun itu. Pun, Negara Republik Indonesia sendiri memang belum ada.
Selain di Deli, Snuyf juga diketahui menjadi arsitek salah satu bangunan bersejarah di Bandung (Jawa Barat) dalam rentang waktu yang tak terlalu jauh, yakni 1914. Begitu pula di Palembang (Sumatera Selatan), dimana Snuyf menjadi arsitek dari bangunan menara air. Di zaman itu, Kerajaan Belanda memang melakukan kerjasama dengan banyak negeri. Dalam perspektif mereka, wilayah operasionalnya disebut Hindia Belanda.
Dalam waktu yang sama dalam membangun Kantor Pos Besar Medan, dibangun juga taman air mancur yang berada di depannya. Akan tetapi, taman air mancur yang ada sekarang bukan lagi taman yang pertama kali dibangun. Menurut catatan Badan Warisan Sumatera Medan, taman tersebut direnovasi oleh Pemerintah Kota Medan pada akhir 2000. Sebagian lantai kolam yang terbuat dari batu granit yang khas, hilang karena dilapisi keramik.
Menuju pintu utama kantor pos, di bagian paling atas dari bangunan utama terdapat ukiran logo merpati pos. Warna kuning logo khas Pos Indonesia tampil dominan dibandingkan keseluruhan bangunan yang berwarna putih. Dulu, ukiran itu tak ada, hanya ada tulisan “Kantor Pos dan Giro” yang terukir di sana. Ukiran-ukiran geometris bergaya tempo dulu ikut menghiasi logo tersebut. Sedangkan di sisi kiri-kanan logo Pos Indonesia terukir terompet khas Belanda dahulu kala.
“Arsitektur kantor pos sedikit berbeda dengan bangunan-bangunan tua lain. Balai Kota (yang lama –red) dan Bank Indonesia masih ada desain klasik yang identik dengan sulur-sulur dan bentuk-bentuk lengkung. Sedangkan di kantor pos kita tidak menemukan lagi sulur-sulur. Arsitekturnya lebih geometris, sudah masuk ke era modern,” jelas Sekretaris Badan Warisan Sumatera, Rika Susanto, dalam suatu perbincangan.
Di Eropa, desain bangunan seperti pada Kantor Pos Besar Medan dikenal dengan nama Arsitektur Modern Fungsional (Art Deco Geometrik). Jenis arsitektur ini merupakan generasi ketiga setelah arsitektur klasik yang hadir sebelum 1910 dan Arsitektur Neo-klasik (Art Deco Ornamental) sebelum 1920. Kedua jenis arsitektur terakhir juga pernah digunakan Belanda dalam pembangunan beberapa bangunan yang mereka kontrak di Medan.
Bangunan bergaya geometris rata-rata dibangun sebelum 1935. Jika melihat waktu berdiri kantor pos pada 1911, diperkirakan ia merupakan bangunan era pertama yang menggunakan arsitektur geometris di Medan. Oleh karena itu juga, tak banyak ditemukan bangunan tua dengan gaya arsitektur serupa di kota ini.
Di ruang tengah, yang disebut vestibule, pada bagian atas tergantung lampu hias antik khas zaman dulu. Lampu setinggi lebih kurang sepuluh meter dan berada pada ketinggian sekitar enam meter dari lantai tersebut masih asli dari zaman Belanda. Di sisi pinggir bawah langit-langitnya terukir beberapa ekor merpati pos dengan desain Belanda kuno, berbeda dengan ukiran merpati pos ciri khas Pos Indonesia.
Salah satu ciri khas bangunan zaman dulu adalah keberadaan langit-langitnya yang lebih tinggi. Begitu pun lampu dan kipas angin yang terpasang dengan pegangan yang panjang, seperti di beberapa ruangan kantor pos. Awalnya, langit-langit vestibule dilapisi dengan kuningan asli. Hanya saja, lapisan itu mengelupas akibat tragedi kebakaran yang sempat menghanguskan sebagian kecil bangunan kantor pos pada Juni 2003. Kebakaran yang disebabkan oleh hubungan pendek arus listrik itu merusak lampu hias dan ornamen di langit-langit. Namun, kerusakan yang terjadi tidak signifikan. Pihak kantor pos sendiri telah mengembalikan seperti bentuk dan warna aslinya.
Di vestibule yang selalu disesaki oleh para orang tua untuk mengambil uang pensiun setiap awal bulan, lantainya juga masih menggunakan keramik asli. Dulu pernah ada orang yang menawar dan ingin membeli keramik tersebut. Akan tetapi, pihak pos tidak mengizinkan, karena itu bagian dari bangunan bersejarah yang harus dilindungi. Oleh Belanda dulu, ruangan vestibule ini dipakai untuk acara-acara mereka.
Di ruangan lain, tepatnya di sebelah kiri vestibule, terdapat tiga pintu baja yang juga bagian asli dari bangunan kantor pos. Pintu baja tersebut sekarang merupakan dinding pembatas antara ruang pelayanan wesel dengan ruang pengiriman paket dan gudang. Satu diantaranya masih difungsikan sebagai pintu hingga saat ini. Cara membukanya adalah dengan ditarik turun-naik dengan rantai, yang merupakan ciri sistem katrol zaman dulu.
Sedangkan di ruang bendaharawan, menurut salah seorang pegawai kantor pos, Alex, juga terdapat peti dan lemari brankas dari baja. Peti dan lemari brankas ini juga merupakan peninggalan Belanda dulu. Seperti halnya satu pintu tadi, fungsi peti dan lemari brankas sebagai lemari penyimpanan masih dipertahankan sampai sekarang untuk operasional kantor pos.
Belakangan, bangunan Kantor Pos Besar Medan menjadi salah satu landmark Kota Medan. Sebagai salah satu bangunan tua, kantor pos menyimpan banyak sejarah tentang perjalanan Kota Medan yang juga dikenal sebagai negeri kosmopolit. Makanya tak heran, banyak juga orang yang mampir ke bangunan tersebut hanya sekedar untuk bernostalgia dengan Deli atau Medan tempo dulu.
Jika waktunya pas, turis-turis tua dari Belanda beberapa kali terlihat di dalam bangunan tersebut. Mereka mengarahkan kameranya ke beberapa bagian gedung. Terkadang, ada juga serombongan pelajar yang berkunjung untuk wisata belajar di kantor pos.
Melihat begitu besarnya nilai sejarah dari Kantor Pos Besar Medan, tentu saja bangunan ini harus dijaga dan dilindungi. Usaha inilah juga yang terus dilakukan oleh Badan Warisan Sumatera. Mereka selalu memantau pengelolaan bangunan kantor pos, serta terus mengadvokasi agar tidak ada pihak yang mengubah bentuk bangunan tersebut, termasuk soal perenovasiannya. Sejauh ini, walaupun pernah dilakukan sejumlah perbaikan pada beberapa bagiannya, kantor pos tidak pernah direnovasi secara besar-besaran.
Salah satu keunikan lain dari bangunan Kantor Pos Besar Medan terletak pada dindingnya. Meski Medan relatif sering dilanda gempa, dinding-dindingnya tidak pernah retak. “Makanya sama sekali gak pernah direnovasi, hanya di cat-cat saja. Itulah bagusnya bangunan jaman dulu,” ujar Alex.
Secara hukum, perlindungan terhadap bangunan-bangunan tua di Medan, termasuk Kantor Pos Besar Medan, sudah diatur dalam Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 6/1988 Tentang Perlindungan Bangunan Bersejarah. Bangunan-bangunan tua yang masuk dalam kategori ini adalah bangunan yang sudah berusia lebih dari 50 tahun.
Terkait pengelolaan Kantor Pos Besar Medan sebagai salah satu bangunan tua di Medan, Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (PUSSIS) Universitas Negeri Medan, Ichwan Azhari, mengatakan agar Kantor Pos Besar Medan dijadikan museum. Dia mencontohkan pengelolaan kantor pos di seberang yang dijadikan museum untuk mempertahankan dan menjaga nilai-nilai sejarah dari bangunan tersebut. Sebab jika dipaksakan untuk menampung kegiatan operasional yang semakin padat dari hari ke hari, fisik bangunan bisa saja menjadi rusak.
“Saya hanya bisa beri komentar, gedung itu sekarang sebaiknya dijadikan museum pos. Kantor Pos Jakarta juga dijadikan gedung filateli, bagian dari sejarah pos. Jadi bisa mendatangkan pemasukan juga bagi PT. Pos,” usul Ichwan.
Bangunan Kantor Pos Besar Medan memang memiliki hal menarik dari sejarah. Tak hanya dari usia, tetapi juga dari narasi perkebunan tempo dulu yang menjadi masa keemasan Deli, yang sekaligus melambungkan nama negeri ke Eropa. Selain itu, arsitektur  bangunannya juga dianggap lebih menarik dan berbeda dengan banyak bangunan tua lain di Medan. Bahkan, menurut Ichwan, arsitektur Kantor Pos Besar Medan lebih cantik dibandingkan dengan bangunan Gedung Filateli di Jakarta.

Mengenai fungsi pelayanan jasa posnya sendiri, hal itu bisa dilakukan dengan cara memindahkan pelayanan ke tempat lain. Hal seperti ini juga dilakukan terhadap Kantor Pos Jakarta. Namun begitu, hingga sekarang Ichwan mengaku belum pernah mencoba menawarkan usulan ini, baik ke PT. Pos Indonesia maupun Pemerintah Kota Medan.
Selain itu, wacana tentang bangunan bersejarah ini juga perlu dihidupkan. Apalagi, sampai sekarang tak ada yang mengetahui kapan tanggal resmi berdirinya bangunan kantor pos ini. Sama sekali tidak ada catatan mengenai hal tersebut, sehingga tak bisa dipastikan kapan hari jadinya. Bahkan, pihak Kantor Pos Besar Medan sendiri juga tak mengetahui tanggal pasti kapan bangunan ini berdiri. Barangkali, yang mengetahui adalah pihak yang membuat bangunan itu di Tanah Deli, yakni Belanda.
Jika sudah diketahui, tentu tanggal tersebut dapat dijadikan sebagai hari jadi Kantor Pos Besar Medan yang diperingati setiap tahunnya. Dengan demikian, maka ingatan akan kejayaan tanah negeri Melayu ini takkan pernah lekang meski generasi terus berganti. Masyarakat takkan menjadi ‘layang-layang putus’ kala menyaksikan keriuhan kantor pos yang kian semrawut dari hari ke hari.
B.                  Tanggapan Masyarakat

      Ketika kami menyusuri di sepanjang jalan dekat Kantor Pos itu, terlihat jelas bahwa Kantor Pos itu mulai di tinggalkan masyarakat. Didepannya banyak sekali sampah, dan disekelilingnya penuh dengan pedagang kaki lima. Adapun saat hari minggu, didepannya malah dijadikan lapak parkiran oleh oknum oknum yang tak bertanggung jawab.
Sayang sekali, masyarakat juga tampaknya acuh dengan kondisi seperti itu. Ditambah teknologi yang semain maju dan akses berkirim surat sudah diganti dengan berbagai aplikasi yang sekali klik sudah langsung terkirim, kantor pos medan yang bersejarah itu harus turun dari tahta kejayaannya.
Saat kami menanyakan beberapa orang, apa tanggapan mereka tentang kantor pos medan saat ini. Mereka sebagian besar menjawab bahwa kantor pos medan yang sekarang masih berdiri kokoh, tak ubahnya bangunan sejarah pada umumnya, hanya nilai sejarah lah yang membuat mereka masih bertahan dan sulit untuk dihancurkan apalagi dirobohkan. Namun dari segi fungsi, mulai perlahan-lahan di tinggalkan masyarakat.

       Selain itu kami juga bertanya pada beberapa anak muda yang sering nongkrong disitu. Mereka melihat bahwa Kantor Pos Medan punya nilai seni yang cukup tinggi, dari arsitekturnya dan berbagai desain yang vintage. Mereka sering mengabadikan bangunan bersejarah lewat foto ataupun video, tujuannya tak lain atas nasionalisme mereka terhadap bangunan yang punya sejarah penting di kota medan.

  


Bab III
Penutup


A. Kesimpulan

Kantor pos yang terdapat di jantung kota Medan ini juga merupakan ikon kota Medan. Bangunan yang didominasi dengan warna putih dan oranye, yang merupakan identitas Pos Indonesia ini memiliki bentuk kubah yang unik. Bentuk kubah tetap dipertahankan walaupun kantor pos ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Jendela-jendela yang terletak pada sisi-sisi bangunan berbentuk setengah lingkaran, dengan tiang putih yang menyangganya, membuat bangunan tersebut terlihat seperti kandang burung merpati pos yang dahulunya dimanfaatkan sebagai sarana berkirim surat.

Meski sudah berusia lebih dari seratus tahun, Kantor Pos Besar ini masih terus mencoba bernapas. Sejak jaman kejayaan tembakau Kesultanan Deli di Medan pada masa perdagangan Belanda dan negara-negara Eropa lain, lalu masa Negara Sumatera Timur (1947-1950), kemudian Republik Indonesia Serikat (1949-1950), sampai era Negara Kesatuan Republik Indonesia (1950-saat ini), ia masih menampung segala aktivitas padat pelayanan jasa pengiriman. Dan di jaman ini, bangunan-bangunan bersejarah semacam Kantor Pos Besar ini mulai tenggelam di antara pemandangan bangunan-bangunan pencakar langit.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Ahirnya aku berkesempatan juga menonton film yang saat review ini ditulis sudah mencapai 2.432.961 penonton. Film Suzanna : Bernafas Dalam Kubur bukan lah remake dan bukan pula biopic melainkan sebuah penghormatan besar untuk sang ratu horor. Melihat bagaimana banyaknya easter egg film terdahulunya di tampilkan membuktikan bahwa para pembuat film ini tahu betul caranya membuat film "Suzanna" bukan sekedar horor malas yang hanya menggeruk pundi-pundi uang.

Filmnya sendiri bercerita tentang Suzanna (Luna Maya) dan sang suami, Satria (Herjunot Ali) hidup bahagia nan penuh cinta telah diberikan momongan. Hingga sampai suatu hari ketika Satria pergi ke luar negeri, Suzanna memutuskan untuk menonton layar tancap bersama pembantunya (Asri Welas). Dikarenakan kondisi badan yang kurang sehat, Suzanna terpaksa pulang lebih awal.

Ditempat lain, 4 orang pemuda yaitu Umar (Teuku Rifnu Wikana), Dudun (Alex Abbad), Jonal (Verdi Solaiman) dan Gino (Kiki Narendra) yang tak lain adalah karyawan Satria sedang merampok rumah Suzanna karena kesal permintaan naik gaji mereka di tolak. Aksi mereka berempat pun dipergoki oleh Suzanna. Alhasil sebuah kejadian tak mengenakan menimpa Suzanna membuat dirinya harus menjadi arwah penasaran yang nantinya akan menghantui 4 orang tersebut.

Judul Bernafas Dalam Kubur seperti gabungan 2 film Suzanna terdahulu yaitu Bernafas Dalam Lumpur (1970) dan Beranak Dalam Kubur (1971) namun nyatanya elemen-elemen plot Suzanna : Bernafas Dalam Kubur lebih banyak terinspirasi dari film Sundel Bolong (1981). Anggy Umbara yang sebelumnya menduduki posisi sutradara tiba-tiba ditengah jalan diambil alih oleh Rocky Soraya entah karena apa. Mungkin itu jugalah yang membuat adegan makan sate tidak dimasukkan kedalam frame.


Di 15 menit awal film ini memang diisi oleh drama. Tujuannya guna menjadi pondasi cerita dan lebih memperdalam karakter. Penonton jadi mengerti alasan mengapa hantu Suzanna masih berpura-pura menjadi Suzanna manusia. Itu terbukti ketika Jonal berkata : "Jika kau membunuhku maka kau akan kembali ke alam sana dan tak dapat bertemu lagi dengan suami mu" hantu Suzanna yang mendengar itupun terdiam. Terdapat hasrat yang kuat untuk terus bersama sang suami.

Pergerakan kamera dalam film ini cukup apik. Lihat aja adegan ketika 4 karyawan Satria merampok rumah Suzanna. Juga sinematografinya yang membuat adegan penguburan jasad Suzanna terasa lebih segar. Jangan lupakan juga tata rias film ini, yang menyulap Luna Maya menjadi Suzanna hampir 100 persen mirip. Akting Luna Maya juga sangat dan mungkin yang terbaik. Hampir tidak ada bedanya ketika Luna Maya sedang berakting diam dengan Suzanna asli.

Untuk urusan horor film ini memang tak lebih baik dari film-film Suzanna sebelumnya. Hal itu sudah sewajarnya, dikarena Suzanna sendiri memiliki aura magis yang begitu kuat, hanya dengan melihat matanya saja penonton sudah merasa ketakutan. Namun Suzanna : Bernafas Dalam Kubur bukan berarti gagal dalam membuat penonton takut. Masih terdapat kengerian di beberapa adegan dan kadar gore yang sedikit meningkat dari film-film Suzanna. 


Terakhir, ketika saya sedang asyik-asyiknya menonton. Seorang anak kecil yang duduk dibangku sebelah saya dengan polosnya bertanya kepada sang ayah. "Yah, kenapa dia jadi hantu. bukannya dia rajin sholat?". Alih-alih mendapat jawaban, sang ayah malah terdiam. Mungkin pertanyaan itu jugalah yang ingin saya tanyakan kepada sang pembuat cerita.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Bab 1
Pendahuluan 

   A.    Latar Belakangan 

Penyunting gambar dituntut memiliki kesadaran atau indera penceritaan yang kuat, sehingga muncul ide kreatif dalam menyusun shot shot-nya. Ide kreatif yang dimaksud adalah harus memahami struktur penceritaan yang akan dikontruksi. Jadi, penyusunan shot mampu mengesinambungkan gambar satu dengan yang lain dan menciptakan emosi penonton.

Inception merupakan film dengan genre sci-fi atau fiksi Ilmiah yang dipadu dengan action. Cerita utama yang diangkat di film ini adalah mengenai perjalanan ke dalam sebuah mimpi dimana mimpi memiliki tingkatan yang bisa terus ditembus hingga ke bagian paling bawah pada alam bawah sadar. Keunikan dari film ini terdapat pada penceritaan yang membutuhkan perhatian pada detail-detail terkecil untuk mampu memahami alur dan motif-motif yang disampaikan. Motif-motif tersebut muncul tidak tidak langsung dalam bentuk pola dan simbol-simbol sehingga dibutuhkan interprestasi yang lebih jauh dalam memahami beberapa hal pada film ini.

Termasuk pada bagian editing yang juga menggunakan pola-pola serupa untuk menimbulkan pengalaman yang lebih jauh kepada penonton. Editing dalam film Inception memiliki pengaruh yang sangat besar dari suksesnya film ini sendiri dalam menciptakan dramatik dan pemikiran mendalam pada setiap adegannya. Secara garis besar, dari segi editing, film ini mampu menciptakan ritme tegang pada bagian-bagian aksi dan ritme dramatik pada bagian ceritanya sehingga porsinya dibangun dengan pas dan sesuai, cerita dapat mengalir dan dapat dipahami melalui kesatuan satu shot dengan shot yang lainnya.

   B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan dengan latar belakang diatas, penulis menyabarkan beberapa rumusan masalah di bawah ini 

1.  Konsep cerita, alur, konflik dan pesan moral dari film ‘The Inception
2. Menganalisa teknik editing film ‘The Inception’ baik dari segi software, aspek editingnya, durasi hingga format audio visual.

   C.    Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui teknik editing yang dipakai film ‘The Inception’ dalam menghadirkan gambar yang bagus dan juga kesan aksi yang luar biasa.
2. Untuk melihat seberapa megahnya sang penulis naskah dan sutradara dalam mengolah film ‘The Inception’ menjadi film aksi, fiksi dan drama yang begitu hebat.

   D.    Kerangka Teori

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam bukunya Anton Mabruri, Editing atau penyuntingan adalah proses menyusun, memotong dan memadukan kembali rekaman menjadi sebuah cerita yang utuh dan lengkap. Penyuntingan gambar memiliki manfaat psikologis untuk mencapai berbagai efek, untuk membantu bercerita, memprovokasi ide, atau perasaan, atau untuk menarik perhatian sebagai elemen-elemen bentuk sinematik. Oleh karena itu, seorang editor (orang yang bertugas menyunting gambar) harus membuat keputusan sulit mengenai shot atau gambar mana yang digunakan dan bagaimana menggunakannya.

Tugas yang paling utama dari seorang penyunting seperti diungkapkan oleh Marselli Soemarno adalah menyusun hasil syuting hingga membentuk pengertian cerita. Editor harus memahami betul dalam mengatur shot-shot-nya agar mampu menuturkan naratif secara jelas dan koheren sehingga tidak membingungkan penonton. Supaya berhasil membangun bagian-bagian tersebut hingga efektif, penyunting harus berhasil melakukan setiap fungsi editing.

Asrul Sani menyebutkan dalam buku terjemahannya yaitu Cara Menilai Sebuah Film bahwa terdapat beberapa fungsi editing yang harus dipahami oleh seorang penyunting, yaitu selektivitas (pemilihan), keterpaduan (coherence) dan kesinambungan (continuity), transisi, irama-irama, pemekaran waktu, pemerasan waktu, dan penjajaran kreatif. 8 Berikut ini penjelasannya:  

1. Selektivitas (Pemilihan)

Fungsi editing yang paling dasar adalah memilih shot yang terbaik di antara sejumlah pengambilan gambar yang dibuat oleh sutradara, memilih bagian yang memiliki efek visual dan suara yang paling kuat atau efektif, dan mengenyampingkan bahan yang tidak perlu.

2. Keterpaduan (coherence) dan kesinambungan (continuity)

Penyunting harus mempertimbangkan dengan sangat teliti efek estetis, dramatis dan psikologis dari penyambungan gambar satu ke gambar yang lain, dan dari suara satu ke suara yang lain. Hal tersebut dilakukan agar potongan-potongan pada film tersebut menjadi sesuatu yang padu dan utuh.

3. Transisi

Transisi berfungsi untuk memperoleh sambungan yang lancar dan jelas antara bagian-bagian film yang penting, misalnya dalam peralihan antara dua scene yang berlangsung di tempat-tempat dan waktu yang berbeda.

4. Irama-irama, tempo, dan pengendali waktu

Penyunting harus dapat menciptakan pola irama yang jelas dan tidak memutuskan arus gambar serta lancarnya suara, tetapi justru memberikan suatu keunikan pada irama.

5. Pemekaran waktu

Penyunting yang terampil juga dapat memekarkan konsep waktu dengan memasukkan sejumlah detail saling berhubungan antar sekuen. Shot-shot yang disusun untuk mendukung sebuah adegan dengan ditampilkan close up dari suatu objek atau establish shot yang masih terkait dengan sekuen.
  
6. Pemerasan waktu

Penyunting dapat memperpendek kejadian yang berlangsung selama satu jam menjadi beberapa menit. Tujuannya adalah untuk menjelaskan kejadian secara singkat tanpa menghilangkan inti dari kejadian tersebut, kalau kejadian berlangsung selama satu jam berturut-turut dan ditampilkan keseluruhan, maka terkesan membosankan bagi penonton. 

7. Penjajaran kreatif

Penyunting juga berkomunikasi secara kreatif dengan sutradara ketika produksi sebuah film. Penyunting melalui penjajaran gambar-gambar dan suara, seringkali mengutarakan idenya terhadap materi shot yang sudah ada. Fungsi editing di atas hubungannya dengan shot, karena shot merupakan elemen yang paling utama dalam proses editing. Pembahasan mengenai teknik editing, sebelumnya akan dipaparkan terlebih dahulu mengenai shot.  

1. Shot

Naratama, dalam bahasannya mengenai shot menjelaskan bahwa shot merupakan satu bagian dari rangkaian gambar yang begitu panjang, hanya direkam dengan satu take saja. Peter ward dalam bukunya Picture Composition  mengatakan “The shot replaced the scene to become the unit of storytelling”. Shot sangat berkaitan dengan proses editing.

Penyusunan shot pada proses editing harus menyesuaikan dengan informasi yang akan disampaikan dalam cerita film. Type of Shot merupakan bentuk penciptaan frame berdasarkan ukuran yang menceritakan suasana atau suatu peristiwa dalam alur cerita. Pemakaian Type of Shot ini dapat menghasilkan suatu rekaman peristiwa dengan berbagai macam karakter gambar terhadap pemeranan tokoh, karena kebanyakan film yang dibuat berhubungan dengan manusia maka acuan type of shot adalah wajah manusia.

2. Hubungan Antar Shot

Marselli Sumarno dalam bukunya Dasar-dasar Apresiasi Film mengatakan bahwa setiap shot memiliki suatu nilai yang baru memperoleh pemenuhan maknanya di dalam shot sebelum dan sesudahnya.Kusen Dony (Dosen IKJ) juga menambahkan hubungan antar shot merupakan dimensi-dimensi dari sebuah editing, dan inti dimensi editing adalah adanya keterhubungan apabila sebuah shot disambung dengan shot lain, maka pasti kedua shot tersebut memiliki keterkaitan, baik secara grafis (gambar), ritmis (ritme), spasial (ruang), dan temporal (waktu).

Umumnya penyambungan shot-shot dalam film-film naratif (cerita) dan dokumenter memiliki keempat dimensi/hubungan tersebut, sementara dalam film-film abstrak atau film-film non-figuratif (tak ada tokohnya dan tak bercerita) hanya memiliki dimensi grafis dan ritmis saja, misalnya iklan dan video klip. Anton Mabruri dalam bukunya berjudul Teori Dasar Editing Produksi Program Acara Televisi & Film menjabarkan beberapa dimensi editing (aspek editing) yang menjelaskan hubungan antar shot satu dengan shot lain, diantaranya:


a. Dimensi Grafis

Dimensi grafis berkaitan dengan kesamaan gambar. Pada aspek grafis dapat disunting dengan meningkatkan kesinambungan yang halus atau bahkan kekontrasan mendadak. Anton Mabruri mengatakan bahwa seorang editor yang menyadari aspek grafis diharapkan mampu memanfaatkan kemungkinan cutting point antar shot.13 Setiap shot (gambar) pasti mempunyai nilai grafis, unsur-unsurnya antara lain garis,
bentuk, cahaya, warna, dan gerak  (bisa gerak subjek, gerak kamera ataupun kombinasi antara subjek dan kamera).

Setiap pembuat film juga cenderung akan mengolah grafis ini secara berkesinambungan (graphical continuity) ataupun terpadu (graphical match) bahkan bila unsur-unsur tersebut saling berlawanan (graphic contrast). Jadi, kontinyuitas grafis dapat dibentuk oleh unsur mise en scene dan sinematografi.

b. Dimensi Ritmis

Menurut Himawan Pratista, durasi shot sangat berhubungan dengan panjang pendeknya waktu shot sebelum dan setelahnya. Sebuah shot yang disambung dengan shot lain pasti akan membentuk sebuah hubungan ritmis (ritme). Pembuat film cenderung akan memotong sebuah shot karena sebuah gerak subjek atau kamera berhenti atau ketika sebuah suara tertentu yang sedang berbunyi berhenti, kecuali pada beberapa kasus pembuat film memotong berdasarkan suasana hatinya (mood).
 
c. Dimensi Spasial (Ruang)

Anton Mabruri mengungkapkan istilah lain dari spasial adalah ruang. Media film adalah media paling efektif dalam menciptakan ruang sesuai dengan keinginan yang dibentuk oleh pembuat filmnya. Editing bisa dihubungkan “ruang dalam realita” dengan “ruang dalam film” (ruang buatan/artifisial), antara yang interior dan eksterior. Kusen Dony memberikan contoh pada film Hitchcock “The Birds”. Ketersambungan antara dua shot atau lebih bisa menciptakan ruang baru yang ada di dalam kepala penonton itu disebut sebagai koeksistensi spasial (ruang yang berdampingan). Pembuat film untuk dapat mewujudkannya harus menguasai dengan benar mise en scene (elemen visual), angle camera dan type of shot.

d. Dimensi Temporal (Waktu)

Editing menurut Anton Mabruri biasanya memberikan kontribusi pada manipulasi waktu penceritaan dari setiap plotnya. Waktu dalam film merupakan salah satu aspek yang tersulit, sebab banyak pembuat film yang seringkali luput dalam mengelola waktu. Pembuat film seharusnya dapat memperkirakan waktu kejadian itu berlangsung atau dalam peristilahan film disebut dengan Story Time / Real Time (durasi peristiwa yang terjadi dalam film).

3. Jenis Kesinambungan Editing (Continuity Editing)

Continuity editing merupakan konsep yang paling banyak digunakan oleh para pembuat film, tujuannya adalah membuat penonton merasa nyaman atau tidak terganggu oleh ketidakjelasan ruang maupun waktunya dan bagaimana agar ada kesinambungan atau matching antar shot. Menurut Marselli Soemarno dalam bukunya berjudul  Dasar-dasar Apresiasi Film bahwa shot satu dan yang lain dirangkai dengan memperhatikan asas kesinambungan, seperti ketentuan-ketentuan tentang persambungan antara shot dan shot, adegan dengan adegan, dan babak dengan babak.

Kesinambungan antar shot inilah yang ditemukan oleh para leluhur film editing, misalnya Edwin S.Porter dan Pudvokin yang melanjutkan kiprah G.W. Griffith sebelumnya. Griffith menemukan formula agar terjadi kesinambungan antar shot. Roy Thompson dan Christopher Bowen (2009) juga menambahkan bahwa seorang pembuat film membutuhkan sebuah konsepsi untuk dapat menyatukan shot-shot menjadi sebuah peristiwa, hingga menjadi film yang utuh. Oleh karena itu, seni film tidak hanya bergantung pada materi shot saja tetapi juga kesinambungan dari beberapa shot yang akan dirangkai. Teori tersebut dinamakan three match cut, antara lain:

Himawan Pratista dalam bukunya berjudul Memahami Film mengatakan bahwa continuity editing adalah sebuah sistem penyuntingan gambar untuk memastikan kesinambungan tercapainya suatu rangkaian aksi cerita dalam sebuah adegan. Seormardjono seorang editor film, mengatakan bahwa penyuntingan film di Indonesia pada umumnya masih menggunakan jenis editing ini.

Penggunaan jenis continuity editing, jalan cerita dalam film jadi mudah diikuti dan dipahami oleh penonton. Sambungan antar shot dalam sebuah adegan didasarkan atas kesinambungan gambar. Prinsip penyuntingan ini digunakan agar hubungan kontinyuitas naratif antar shot tetap terjaga. Menurut Himawan Pratista bahwa terdapat beberapa teknik dan aturan yang digunakan untuk mencapai editing continuity, yaitu aturan 180o, shot / reverse shot, eyeline match, establishing / reestablishing shot, match on action, point of view cutting, serta cut in.

·      Aturan 180o

Dalam bukunya Teori Dasar Editing Produksi Program Acara Televisi dan Film, Anton Mabruri mengatakan Aturan 180o merupakan aturan dengan posisi kamera tidak boleh melewati garis aksi ketika transisi shot (cut) dilakukan. Garis 180o merupakan garis imajiner persis dari sebuah aksi berlangsung yang biasanya searah dengan arah karakter atau objek menghadap.

Tujuan dari aturan ini adalah untuk memudahkan serta menghindari kesalahan mendasar tanpa perlu memikirkan lebih jauh tentang posisi kamera, pergerakan karakter, setting, dan lainnya ketika transisi shot dilakukan. Adapun fungsi penggunaan aturan 180o menurut Himawan Pratista dalam sebuah adegan, sebagai berikut :

- Memastikan posisi objek / karakter dalam frame selalu konsisten 
- Memastikan garis mata (eyelines) selalu konsisten 
- Memastikan screen directing selalu konsisten – screen directing adalah hubungan arah ke kanan dan ke kiri dalam sebuah adegan yang ditentukan oleh posisi, pergerakan, serta arah pandang karakter.

             ·         Shot / Reverse Shot

Teknik shot / reverse-shot menurut Anton Mabruri merupakan gabungan dua shot atau lebih yang membedakan para karakternya dan biasanya digunakan pada adegan dialog. Syarat ini untuk menunjukkan bahwa setiap apa yang dilihat oleh tokoh haruslah ditampakkan di dalam urutan shot-nya.  Apapun bentuknya harus diperlihatkan, baik orang lain maupun benda. Selain itu, kemunculannya haruslah berimbang, artinya tidak boleh satu shot penting hanya keluar satu atau dua kali saja.

             ·         Eyeline Match

Menurut Peter Ward (2000) dalam bukunya berjudul TV Technical Operations. Teknik ini biasanya digunakan dalam setiap adegan dalam film, misalnya pada shot pertama memperlihatkan seorang karakter yang melihat suatu objek di luar frame, kemudian pada shot kedua memperlihatkan objek yang dilihatnya.

             ·         Establishing / Reestablishing shot

Menurut Himawan, teknik ini dapat memperlihatkan latar secara luas, sebagian, hingga keseluruhan ruang bersama seluruh isinya, contoh pada adegan pesta ulang tahun di gedung serba guna. Umumnya diawali dengan establishing shot yang memperlihatkan keseluruhan isi gedung tersebut, termasuk posisi tokoh-tokoh utama, pendukung, dan objek penting lain. Selanjutnya memperlihatkan orang yang sedang bernyanyi. Sebelum adegan tersebut diakhiri, seringkali establishing shot kembali lagi digunakan. Shot inilah yang dimaksud reestablishing shot.

              ·         Match on Action

Menurut Anton Mabruri, Match on Action merupakan perpindahan shot yang diambil dari arah berbeda yang memperlihatkan sebuah aksi tidak terputus dalam sebuah momen pergerakan yang sama.Teknik match on action ditunjukkan dengan karakter yang bergerak ke arah kanan frame dan pada shot berikutnya masuk ke dalam frame dari arah kiri. Akibat pergerakan objek atau karakter yang sangat kuat, match on action sangat dimungkinkan untuk melanggar aturan 180o.
 
              ·         Point of View (POV) Cutting

POV cutting mirip dengan eyeline match namun pada shot kedua memperlihatkan objek dari arah pandang sang karakter, misalnya tampak seorang anak meneropong ke arah jauh pemandangan dan shot berikutnya pemandangan yang di teropong tadi, kemudian shot berlanjut ke ekspresi wajah anak tersebut. Hal itu sesuai dengan yang dikatakan Peter Ward mengenai teknik ini yaitu, Someone on-screen looks out of one side of the frame. The following shot reveals what the person is looking at.

             ·         Cut in & Cutaway

Anton Mabruri dalam bukunya Teori Dasar Editing Produksi Program Acara Televisi dan Film mengungkapkan bahwa Cut in adalah sebuah transisi langsung dari jarak shot yang jauh ke shot yang lebih dekat di ruang yang sama. Hal ini dapat dilihat dari contoh sebuah shot memperlihatkan dua anak yang satu duduk dan satunya berdiri memandangi anjing, kemudian adegan kedua mengikatkan hingga adegan ketiga MCU, dan adegan keempat detail dari pengikatan.

Sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Peter Ward bahwa go tighter on an aspect of the main subject. Sebaliknya cut away kebalikan dari cut in, cut away yaitu shot yang semakin menjauh dari shot sebelumnya. Peter Ward menambahkan bahwa a cutaway literally means to cut away from the main subject, maksudnya adalah penggabungan dua shot yang berbeda yang saling mendukung adegan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari contoh, bila adegan dua anak tadi sedang mengikat anjing yang diperlihatkan Close up, maka shot berikutnya Long Shot anjing telah berhasil diikat kemudian diajak jalan-jalan. 

4. Bentuk Editing

Menurut Anton Mabruri dalam bukunya berjudul Teori Dasar Editing Produksi Program Acara Televisi dan Film, transisi shot dalam film umumnya dilakukan dalam empat bentuk, yaitu cut, fade in/out, dissolve, dan wipe. Cut merupakan transisi shot ke shot lainnya secara langsung. Fade out merupakan penggambaran akhir shot secara perlahan atau cepat tenggelam dalam layar yang kemudian menjadi hitam, putih, atau warna apapun yang dibutuhkan.

Sedangkan fade in digunakan untuk membuka sebuah adegan (intensitas gambar bertambah terang). Dissolve adalah peralihan dari sebuah gambar perlahan atau cepat diikuti pemunculan gambar berikutnya mulai terlihat sejenak dua gambar menyatu lalu gambar pertama menghilang berganti gambar berikutnya secara utuh. Wipe merupakan transisi shot dengan frame sebuah shot bergeser ke arah kiri, kanan, atas, dan bawah hingga berganti menjadi sebuah shot baru.

5. Metode Editing

Metode Editing  menurut Anton Mabruri adalah sebuah cara atau pendekatan dari seorang penyunting dalam melakukan penyambungan dan penyusunan shot-shot-nya. Hal ini banyak berkaitan dengan aktivitas fisik dan pemikiran penyunting. Seiring dengan berkembangnya industri film, maka terdapat variasi editing yang bisa digunakan oleh seorang penyunting, antara lain:

1. Parallel Editing:

Penyambungan secara berselang-seling dua peristiwa atau lebih yang terjadi di ruang yang berbeda namun penonton merasa bahwa waktu terjadinya bersamaan.  

2. Cross Cutting:

Penyambungan secara berselang-seling dua peristiwa atau lebih dengan ruang dan  waktu terjadinya berbeda. Umumnya dihubungkan oleh tema.

3. Continuity Cutting :

Merupakan penyambungan yang paling umum digunakan sebab tidak ada aturan yang mengikat kecuali match on action / match on cut, maksudnya penyambungan dibuat
sedemikian rupa agar penonton merasa nyaman dan tidak merasakan interupsi dari cutting tersebut.

4. Match cutting :

Pemotongan pada editing yang dilakukan untuk mengikuti pola kesinambungan shot sebelumnya dengan shot berikutnya.

5. Montage Editing :

Roy Thompson dan Christopher Bowen mengatakan, The Montage Theory of Editing, which is a belief that two unrelated images can be edited together to generate a new thought, idea, or emotion in the mind of the viewer. Deskripsi tersebut menjelaskan bahwa penyambungan berselang-seling dua gambar atau lebih secara bersama-sama untuk menciptakan sesuatu, ide, atau emosi baru di pikiran penonton. 

Bab II
ISI

A.    Arah Cerita

Inception adalah film fiksi ilmiah berbalut action-thriller, bersetting di dunia entah kapan ketika ada teknologi dream-sharing, yaitu beberapa orang bisa berpartisipasi dalam alam mimpi yang sama. Dom Cobb (Leonardo DiCaprio) adalah ahli manipulasi dream-sharing itu, dan ia menggunakannya untuk mencuri ide dari otak seseorang (atas perintah klien dengan imbalan tentu saja) lewat alam mimpi: dia sih bisa masuk mimpi secara sadar, tapi subjek atau “korban”nya dibuat percaya seakan mimpi itu nyata dan tidak sadar idenya sedang dicuri, namun ketika bangun si korban pun akan mengira itu hanya mimpi. Pencurian ide itu dikenal dengan sebutan “extraction”, dan Cobb mengklaim dirinya extractor terbaik. Benang merah utama film ini sederhana sekali sebenarnya, Cobb yang diminta bukan untuk mencuri ide, tapi menanamkan ide, inception. Saito (Ken Watanabe) ingin Cobb—beserta timnya—menanamkan ide pada benak pewaris usaha pesaingnya, Robert Fischer Jr (Cillian Murphy) agar terinspirasi untuk menghentikan ekspansi perusahaan ayahnya.

1. Plot

Dominick "Dom" Cobb (Leonardo DiCaprio) dan Arthur (Joseph Gordon-Levitt) adalah "ekstraktor", yang melakukan spionase perusahaan menggunakan teknologi militer eksperimental untuk menyusup ke alam bawah sadar target mereka dan mendapatkan informasi berharga melalui dunia mimpi. Target terakhir mereka, pengusaha dari Jepang Mr. Saito (Ken Watanabe), mengungkapkan bahwa ia mengatur misi mereka untuk menguji Dom atas pekerjaan yang tampaknya tidak mungkin: menanamkan ide di alam bawah sadar seseorang atau melakukan "permulaan".

Untuk membubarkan perusahaan energi yang dipimpin oleh pengusaha yang sedang sakit keras, Maurice Fischer (Pete Postlethwaite), Saito ingin Dom meyakinkan putra dan pewaris tunggal perusahaan Maurice, Robert (Cillian Murphy), untuk membubarkan perusahaan ayahnya. Sebagai gantinya, Saito berjanji untuk menggunakan pengaruhnya untuk membersihkan nama Dom dari tuduhan pembunuhan, membiarkan Dom kembali ke rumah untuk anak-anaknya.

Dom menerima tawaran tersebut dan membuat timnya: Arthur; Eames (Tom Hardy), penipu dan pemalsu identitas; Yusuf (Dileep Rao), seorang ahli kimia yang membuat obat penenang yang kuat untuk strategi "mimpi dalam mimpi" yang stabil; dan Ariadne (Ellen Page), seorang mahasiswa arsitektur yang bertugas merancang labirin di dalam mimpi, direkrut dengan bantuan ayah mertua Dom, Profesor Stephen Miles (Michael Caine). Ketika berbagi mimpi dengan Dom, Ariadne mempelajari alam bawah sadar Dom yang menempatkan proyeksi invasif dari mendiang istri Dom, Mal (Marion Cotillard).


2. Konflik

Ketika Maurice meninggal di Sydney, Robert membawa jenazah ayahnya dalam penerbangan sepuluh jam kembali ke Los Angeles, di mana tim Dom (termasuk Saito, yang ingin menguji keberhasilan mereka) menggunakan hal ini sebagai kesempatan untuk menidurkan diri dan membawa Fischer ke mimpi yang sama. Pada setiap level mimpi, orang yang mengatur mimpi tetap berada di belakang untuk menyiapkan "tendangan" yang akan digunakan untuk membangunkan anggota tim lainnya yang tidur dari level mimpi yang lebih dalam. Agar sukses, tendangan ini harus terjadi bersamaan pada setiap level mimpi, sebuah fakta yang rumit karena sifat waktu yang berjalan lebih cepat di setiap level yang berurutan.

Level pertama adalah mimpi Yusuf tentang Los Angeles ketika hujan. Tim tersebut menculik Robert, namun mereka diserang oleh proyeksi kereta api dan senjata dari alam bawah sadar Robert, yang telah dilatih secara khusus untuk bertahan dari serangan penyusup tersebut. Tim tersebut membawa Robert dan Saito yang terluka ke sebuah gudang, di mana Dom mengungkapkan bahwa saat sekarat di dalam mimpinya biasanya membangunkan Saito, namun obat penenang yang kuat untuk menstabilkan mimpi multi-level akan mengirim pemimpi yang sekarat ke dalam "limbo", sebuah dunia bawah sadar yang tak terbatas di mana sangat sulit untuk keluar dari sana, jika memungkinkan, dan seorang pemimpi berisiko lupa bahwa mereka berada dalam mimpi. Terlepas dari kendala ini, tim melanjutkan misinya.

Eames menyamar sebagai ayah baptis Robert, Peter Browning (Tom Berenger), dan menyarankan Robert mempertimbangkan kembali kehendak ayahnya. Yusuf mengendarai mobil ketika anggota tim lainnya terbius ke level kedua dan mereka dikejar oleh proyeksi Robert. Di level kedua, sebuah hotel yang dimimpikan oleh Arthur, Dom membujuk Robert bahwa ia telah diculik oleh Peter Browning dan Dom adalah pelindung bawah sadarnya. Dom membujuknya untuk turun ke level lain untuk mengeksplorasi alam bawah sadar Peter Browning (kenyataannya, ini adalah tipu muslihat untuk memasuki alam bawah sadar Robert).

Level ketiga adalah rumah sakit besar di sebuah pegunungan bersalju yang dimimpikan oleh Eames. Tim harus menyusupi rumah sakit tersebut dan menahan para penjaga saat Dom membawa Robert ke alam bawah sadarnya. Yusuf, di bawah pengejaran proyeksi Robert di level pertama, pergi ke jembatan dan menjatuhkan mobilnya, memulai tendangannya terlalu cepat. Hal ini menyebabkan longsoran salju di level Eames dan gravitasi nol di level Arthur, memaksanya untuk melakukan improvisasi tendangan baru yang dapat diiringi dengan mobil Yusuf yang jatuh ke air. Proyeksi Mal muncul dan membunuh Robert. Dom membunuh Mal dan Saito meninggal karena lukanya. Dom dan Ariadne masuk limbo untuk menyelamatkan Robert dan Saito, sementara Eames melakukan tendangan dengan meledakkan rumah sakit dengan bom.

Dom memberitahu Ariadne bahwa ia dan Mal pergi ke limbo saat bereksperimen dengan teknologi berbagi mimpinya. Tertidur selama beberapa jam di dunia nyata, mereka menghabiskan lima puluh tahun dalam mimpi membangun dunia dari kenangan mereka bersama. Ketika Mal menolak untuk kembali ke dunia nyata, Dom menggunakan langkah permulaan yang tidak sempurna dengan mengaktifkan kembali totem Mal (pemimpi menggunakan totem untuk membedakan mimpi dari kenyataan) dan mengingatkan alam bawah sadar Mal bahwa dunia mereka tidak nyata. Namun, saat terbangun, Mal masih percaya bahwa ia sedang bermimpi. Berusaha "bangun" ke dunia nyata, Mal bunuh diri dan menjebak Dom atas kematiannya untuk memaksa Dom melakukan hal yang sama. Menghadapi tuduhan pembunuhan, Dom melarikan diri dari Amerika Serikat, meninggalkan anak-anaknya dalam pengawasan Profesor Stephen Miles.

Dengan pengakuannya, Dom berdamai dengan rasa bersalahnya atas kematian Mal. Ariadne membunuh proyeksi Dom, Mal, dan membangunkan Robert dengan sebuah tendangan. Dihidupkan kembali ke rumah sakit di pegunungan, Robert masuk ke sebuah ruangan untuk melihat dan menerima ide yang ditanam: sebuah proyeksi dari ayahnya yang sekarat, yang memberitahunya untuk menjadi diri sendiri. Sementara Dom tetap berada di limbo untuk mencari Saito, anggota tim lainnya menuju ke tendangan yang disinkronkan kembali ke level pertama. Dom akhirnya menemukan Saito yang sudah tua di limbo dan mengingatkannya akan kesepakatan mereka. Semua pemimpi terbangun di pesawat dan Saito menelepon.

Setibanya di bandara Los Angeles, Dom melewati pos pemeriksaan imigrasi Amerika Serikat dan Profesor Stephen Miles menemaninya ke rumahnya. Menggunakan totem Dom, sebuah gasing yang berputar tanpa batas waktu di dunia mimpi namun jatuh di dunia nyata, Dom melakukan tes untuk membuktikan bahwa ia memang berada di dunia nyata, namun ia mengabaikan hasilnya dan menemui anak-anaknya di kebun.

3. Konsep
Inception memang film yang brilian dan Christopher Nolan adalah sutradara jenius. Dua pernyataan itu memang tak bisa disangkal namun bukan berarti semua penonton Inception paham benar ide cerita yang ditawarkan sutradara ini. Walaupun Nolan sudah membuat tutorial di awal cerita namun konsep penyajian film ini sendiri kadang masih membingungkan buat beberapa penonton. Karena itu tak ada salahnya kalau kita coba untuk meneliti kembali konsep yang ditawarkan Nolan lewat Inception. Semoga ini bisa menjawab sebagian pertanyaan kita tentang film ini.

1. Mimpi
Adalah ‘hasil karya’ alam bawah sadar manusia. Mimpi bukanlah sebuah kenyataan dan karena itu hal-hal yang tak mungkin terjadi di alam nyata seperti paradox tangga yang tak berujung bisa saja terjadi. Mimpi memiliki sebuah dunia sendiri yang dibentuk oleh alam bawah sadar orang yang sedang bermimpi (Dreamer). Selain memungkinkan terjadinya hal-hal yang tak mungkin, alam mimpi juga tidak memiliki ujung yang jelas karena itu sering kali kita tidak tahu persis bagaimana kita bisa sampai pada situasi di alam mimpi tersebut.

2. Konsep waktu di alam mimpi
Berbeda dengan alam nyata, waktu di alam mimpi bergerak lebih cepat. Karena itu mimpi yang rasanya berjalan berjam-jam bisa saja hanya berlangsung dalam hitungan menit di alam nyata. Perbedaan tingkatan mimpi juga berpengaruh pada pergerakan waktu. Semakin dalam maka waktu akan bergerak semakin cepat.
  
3. Tingkatan mimpi
Seperti sebuah gedung, mimpi memiliki tingkatan. Bila alam nyata dianggap sebagai lantai pertama, maka alam mimpi adalah tingkatan lantai yang ada di bawahnya. Bagian paling bawah dari tingkatan ini disebut Limbo.

4. Limbo
Bukanlah alam mimpi pribadi namun sebuah alam mimpi yang bisa didatangi oleh siapa saja. Di dalam Limbo tidak ada apa-apa kecuali apa yang telah dibangun oleh orang yang pernah masuk ke Limbo. Orang yang memasuki Limbo akan kehilangan kewarasan. Ia tak akan bisa membedakan antara alam nyata dan alam mimpi.

5. Mati/ Sakit
Bila orang yang bermimpi mati atau terbunuh di alam mimpi, maka secara otomatis ia akan terbangun karena mati adalah sebuah ‘keadaan’. Sebaliknya, bila orang yang bermimpi disakiti di alam mimpi maka rasa sakit ini akan ikut dirasakan oleh fisik orang tersebut karena rasa sakit adalah pengalaman psikologi bukan sebuah keadaan. Bekas luka tidak akan terbawa tapi rasa sakit akan tetap dirasakan.

Dalam kasus mimpi yang dipaksakan mencapai beberapa tingkatan dengan menggunakan bahan kimia maka tubuh di alam nyata akan tetap tertidur meskipun Dreamer mati di alam mimpi. Ini menyebabkan orang yang mati di alam mimpi akan terlempar ke Limbo sampai batas waktu yang sangat panjang. Bila ia berada di dalam Limbo dan terbunuh di sini maka proses ini akan berputar kembali ke alam nyata.

6. Proyeksi  
Orang yang sedang bermimpi (Dreamer) bisa membentuk proyeksi yang berbentuk orang-orang lain di alam mimpi tadi. Proyeksi ini bertugas seperti sel darah putih. Pada saat dreamer sadar kalau ia sedang berada di alam mimpi orang lain maka proyeksi ini mulai berlaku agresif dan mencari orang yang menjadi ‘tuan rumah’ dari mimpi ini dan berusaha menghancurkannya.

Dom Cobb adalah orang yang mampu membuat mimpi ini sebagai sebuah aktivitas kolektif. Ia bisa masuk ke alam mimpi orang lain atau membawa orang lain ke dalam alam mimpinya. Dibantu dengan timnya, Cobb mampu memanipulasi alam bawah sadar seseorang dengan masuk ke dalam mimpi orang tersebut, mirip dengan hipnotis.

Saat Cobb ditugaskan untuk menanamkan ide ke dalam pikiran Fischer, Cobb memerlukan beberapa orang untuk membantunya. Masing-masing orang ini memiliki tugas masing-masing.

7. Architect
Adalah orang yang bertugas merancang alam mimpi untuk digunakan bersama-sama. Architect bisa merancang alam ini sesuai keinginannya dengan syarat alam ini tidak boleh sama dengan alam nyata. Ini dimaksudkan untuk menghindari kebingungan membedakan antara alam nyata dan alam mimpi. Architect inilah yang menjadi pemandu di setiap level mimpi.

4. Alur

Inception menyajikan alur cerita yang terkesan rumit, dimana banyak dialog dan adegan yang harus diperhatikan dengan baik tentunya, agar tidak ketinggalan setiap momen dalam film. Setiap adegan berhubungan satu sama lain sehingga memberikan petunjuk pada adegan berikutnya bahkan hingga akhir film. Mungkin memang ada beberapa film yang mengambil mimpi sebagai latar belakang ceritanya, namun Inception berbeda, dimana penggambaran tentang mimpi terasa lebih nyata.

Inception memberikan plot yang cukup detail hampir tidak ada plot hole didalamnya, seandainya ada tidak begitu dirasakan oleh penonton. Yang menjadi daya tarik lain dari Inception adalah Nolan berhasil membawa penonton ke dalam alam mimpinya sehingga seakan-akan penonton ikut terbawa berpikir dan merasakan apa yang ada di dalam film. Pendalaman masing-masing karakter juga cukup baik, walaupun karakter Cobb mendapatkan porsi lebih di film ini. Terlihat sekali bahwa alur cerita sebenarnya berkisar padanya.

Sebagai suatu film, Inception menghadirkan segalanya. Mulai dari action yang ciamik, dialog yang cukup cerdas serta didukung dengan special effect yang menawan. Sebagian besar film dipenuhi dengan dialog-dialog yang cukup cerdas, bisa dibilang dialog yang dihasilkan tidak mubazir. Pada bagian special effect, Nolan menggambarkan dunia mimpi dengan sangat baik seperti hal-hal yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata kini digambarkan di dalam dunia mimpi dengan penampilan grafis yang memukau.
Alur cerita film ini begitu rumit dan mengharuskan kita berkonsentrasi tinggi untuk bisa benar-benar memahaminya. Meski rumit namun bukan berarti film ini sama sekali tak bisa dipahami. Bukan Christopher Nolan kalau tak memberikan sesuatu yang mengejutkan buat penonton. Plot yang unik membuat film ini semakin menarik. Efeknya bagus dan menarik. Aksi laganya  pun tidak kalah menarik.

5. Pesan Moral

Ketika mimpi bisa dikendalikan, direncana, diintersep, "kenyataan" bisa menjadi amat absurd seperti yg diucapkan Mal, " Hidup itu tidak nyata". kesadaran yg dimanipulasi menghasilkan "realitas" yg membingungkan, dimana batas mimpi dengan kenyataan tidak lagi jelas. Cobb sang peniliti mimpi, menjadikan istrinya sendiri sebagai kelinci percobaan. Tindakan memanipulasi kesadaran istrinya ternyata berakibat fatal.

Cobb yang dibagian awal mencoba mengingatkan, bahwa " ide lebih berbahaya daripada virus, ide-ide yang disusupkan bisa menginterferensi keyakinan". adalah pihak yang pernah menjadi korban dari kemampuan yang dikembangkan. Nasehat bijak tersebut menjadi peringatan terhadap bahaya yang muncul dari bayangan & "mimpi" Cobb sendiri yang menari-nari dan menganggu perasaan kemanapun ia pergi. Saat terjebak dalam dunia mimpi yang tidak lagi menarik untuk dinikmati, Mal & Cobb melarikan diri dari realitas mimpi dengan cara "bunuh diri" dengan menggilaskan kepala mereka diatas rel hingga terlindas Kereta Api.

Dengan cara sadis tersebut, mereka bisa kembali ke "alam nyata". Jalan pintas tersebut menjadi pelik & membuahkan tragedi ketika akhirnya Mal "ingin keluar dari dunia nyata" dengan cara yg sama. Cobb seterusnya, didera penyesalan dan perasaan bersalah yang menjadi sumber interferensi kisah di film tersebut. Muncul kereta maut yang nyelonong diawal misi menjelajahi dunia mimpi Fischer, berulang kali munculnya mendiang Mal serta gambaran kedua anaknya yg membuntuti dengan perasaan bersalah. Ke dunia mana sekarang Mal pergi ? benarkah dunia nyata yang saat ini pun hanya sebuah mimpi? benarkah ia berada di suatu “Limbo”.

B.     Teknik Editing

1. Aspek Editing

Film Inception lebih fokus pada penggunaan Cutting. Cut digunakan hampir pada keseluruhan film Inception. Kegunaannya selain untuk menyambungkan satu gambar ke gambar lain tanpa adanya perubahan waktu diantaranya, cut pada film ini juga digunakan untuk memberikan ritme dramatik dan fleksibelitas untuk menunjukkan bagaimana alur cerita dan gaya penceritaan dari film ini sendiri.

Banyak adegan ini yang menunjukkan perubahan scene dan waktu yang drastis tetapi tetap menggunakan cutting dalam perpindahannya sehingga kita tidak diberikan waktu untuk menerka-nerka apakah konteks cerita masih dalam waktu yang sama. Tetapi maksud dari penggunaan cut yang demikian disinkronkan dengan tujuan dari cerita ini dan genrenya yang merupakan fiksi ilmiah.

Penonton diberikan lebih banyak waktu untuk memikirkan cerita dalam film ini dan memperhatikan detail-detail untuk menyatukan maksud-maksud yang ingin disampaikan dalam setiap adegan. Ada adegan montase yang diceritakan pada adegan tim Cobb tengah menyusun rencana untuk bisa menginvansi mimpi Fischer tetapi tidak ada satu kalipun dissolve yang digunakan untuk memberikan penegasan terhadap perubahan waktu pada setiap scene, tetapi justru tetap dengan menggunakan cutting dalam setiap perpindahan scene. Hal tersebut masih digabungkan dengan ilustrasi musik yang memungkinkan kita ikut merasakan ketegangan dalam pemikiran para tokohnya.

Jika melihat dari bentuk ceritanya, ada banyak sekali adegan flashback atau bahkan adegan-adegan ketika tokoh masuk ke dalam sebuah mimpi. Tetapi bahkan tanpa adanya fade in fade out ataupun transisi dalam perpindahan scene itu kita tetap bisa mengerti bahwa saat itu adegan telah berpindah ke scene yang lain.

Itulah kenapa penonton haruslah benar-benar mencermati film ini, karena ketika fokus kita teralihkan sedangkan cerita tengah berpindah ke scene lain, dan bahwa poin penting dalam memahami perubahan adegan itu adalah dengan mencermati adegan tepat pada shot sebelumnya ketika adegan di cut ke shot lain, maka bisa dipastikan kita akan kehilangan arah mengenai kemana dan dimana adegan tersebut terjadi.

Cut dalam film Inception juga membantu penonton untuk memahami bahwa semua yang terjadi di setiap adegan bukan hanya sebuah mimpi atau bayangan masa lalu seperti yang diungkapkan film ini, tetapi film ini ingin mengajak penontonnya untuk merasakan semua pengalaman secara nyata bukan seolah sedang berada di dalam film. Itu juga ditunjang oleh penggunaan cut tanpa transisi dari satu adegan ketika masih di masa kini kemudian berpindah ke masa lalu atau bahkan ke dalam mimpi.

Dengan penggunaan Cut kita jadi merasa bahwa ketika adegan diceritakan sedang berada di dalam mimpi yang kita rasakan bukan berada di dalam mimpi, tetapi tetap berada di dalam kehidupan nyata.

Penggunaan transisi pada film ini ditambahkan untuk menekankan unsur dramatiknya bukan untuk penegasan bahwa waktu atau scene pada adegan telah berubah. Hal ini bisa dilihat dari tidak munculnya transisi-transisi ketika tokoh tengah berpindah dari kondisi sadar ke alam bawah sadar tetapi ada di bagian lain yang memunculkan bagian tersebut. Jika dilihat secara sekilas, bisa dibilang hal itu menghilangkan kekonsistenan dalam perpindahan scenenya, tetapi jika dilihat dari pola ceritanya, munculnya transisi dikarenakan emosi yang dialami pemainnya.

Adegan ketika Cobb pada adegan ia akan melakukan tidur di dalam kamar hotel pada mimpi tingkat kedua dan di bagian itu ia terus-menerus mendapat gambaran mengenai waktu terakhir sebelum Mal bunuh diri, kemudian tiba-tiba terjadi transisi dan ia berada di atas gurun salju sebenarnya hanya untuk memperlihatkan bahwa saat itu kendali emosi yang dialami Cobb sedang dalam level yang tinggi sehingga bisa membahayakan timnya pada saat itu. Emosi yang ia rasakan kemudian ditabrakan pada transisi yang menandakan bahwa ia tiba-tiba kehilangan kesadaran dan langsung berada di gurun pasir.

Adegan serupa tidak selalu terjadi di adegan lainnya ketika tokoh berpindah ke alam mimpi karena pada adegan yang lain tidak ada pergulatan emosi selama transisi itu berlangsung. Adapula penggunaan transisi dengan tujuan yang sama yaitu di bagian akhir ketika semua orang disentakkan untuk dibangunkan kembali. Selain didukung oleh musik yang dijadikan backsound pada proses tersebut, munculnya ritme yang cepat dan cerita dimana waktu menjadi pusat penceritaan membuat cerita menjadi tegang, sehingga transisi hanya digunakan untuk memberikan penekanan pada ketengan tersebut bukan secara sengaja digunakan sebagai jembatan perpindahan waktu.

Sedangkan fade in dan fade out tetap tidak digunakan hingga akhir cerita bahkan ketika cerita telah mencapai titik penghabisan cerita. Fade in atau fade out memberikan kesan adanya unsur ‘lebih lambat’ dari ritme penceritaan, tetapi Inception menggunakan ritme yang sangat cepat dalam penceritaannya sehingga memang harus benar-benar harus ikut berlari dalam mengikuti iramanya, itulah kenapa fade tidak digunakan sebagai transisi.

Pada bagian akhir cerita ketika memasuki bagian credit title sekalipun tidak ada transisi wipe tetapi justru cut yang cepat yang digunakan dimana pada bagian tersebut ingin menekankan sebuah solusi yang harus dengan cepat diambil oleh penontonnya dan untuk memberikan dampak shock secara tiba-tiba.

2. Dimensi Editing

Dimensi Editing dibagi menjadi 4 yaitu adanya Kontinuitas Grafik, Ritmik, Spatial, dan Temporer. Pada Inception, keempat hal tersebut dipenuhi secara sadar dalam film ini sehingga dimensi film ini juga terasa adanya. Untuk Kontinuitas Grafik, antar shot pada film Inception terjadi secara tidak sadar. Hal tersebut terjadi karena dibentuk dari konsisten penggunaan warna, bentuk, komposisi, pergerakan, set, kostum, tata cahaya, dan unsur mise en scene yang lainnya.

Pergerakan kamera dan perubahan angle dan shot size sama sekali tidak menganggu karena film ini pada setiap adegannya selalu berhasil untuk tetap berada pada penggunaan aturan 180 derajat yang tepat. Sudut pandang setiap tokohnya selalu diarahkan ke objek yang tepat sehingga pada shot selanjutanya kita tidak dibuat bingung kemana tokoh sedang memandang.

Pada bagian-bagian ketika tokoh sedang berbicara satu dengan yang lain, selalu terdapat shot yang diambil secara luas sebelum kemudian diambil secara lebih dekat sehingga penonton tahu bahwa mereka berada di tempat yang sama. Selain itu, sebelum shot berpindah ke shot yang lain, arah pandang dan pemotongan selalu tepat sehingga tidak terasa adanya kejanggalan dari dua shot dan terasa seperti satu aliran yang halus.

Komposisi menjadi unsur yang paling penting untuk mendukung aspek kontinuitas grafik dalam film Inception. Komposisi dibangun berdasarkan peletakkan property, peletakkan gambar frame di kamera yang konsisten pada setiap shotnya. Komposisi pada gambar akan membantu pergerakan. Kontinuitas Grafik yang terjadi pada pergerakan kamera terlihat dari bagaimana setiap pergantian shot tetap seimbang dari satu shot yang lain dan tidak mengganggu aspek naratif yang disampaikan meskipun kamera tengah bergerak.

Pergerakan kamera juga sangat mendukung sebagai bagian editing pada film ini, terlebih ketika objek dalam film ini bergerak. Seperti pada scene ketika Adriene untuk pertama kalinya mencoba untuk melakukan eksperimen untuk mendesain mimpinya. Pergerakan kamera hand held dimunculkan untuk memperlihatkan bahwa kedua tokoh sedang berjalan dan juga untuk memperlihatkan aspek mess pada apa yang tengah terjadi saat itu bahwa ada yang tidak seimbang meskipun secara verbal tidak ditunjukkan, tetapi perasaan yang muncul menjadi terkesan seperti itu.

Kemudian editing juga dilakukan ketika mata subjek mengikuti objek, seperti ketika Adriene berusaha untuk membuat bangunan menjadi satu dengan langit, dan mata mereka mengikuti pergerakan objek tersebut sehingga kamera juga mengikuti mata tokoh yaitu bergerak ke atas.Inception selalu memperhatikan kontinuitas grafik dalam  setiap shotnya, bahkan pada adegan action ketika cerita cenderung tegang, selain itu Inception juga detail pada kontiniti setiap adegan yang diceritakan berada pada scene yang berbeda.

Editing Spatial juga dimasukkan dalam film ini. Tidak sedikit adegan ketika tokoh sedang berdiri memandang ke suatu tempat kemudian disambung shot berikutnya adalah sesuatu yang memungkinkan shot tersebut diambil dalam waktu yang berbeda tapi tidak mengganggu unsur atau pergerakan naratif ceritanya. Pengambilan gambarnya secara terpisah tidak pada satu frame yang sama karena tidak lebih dulu diperlihatkan pengambilan gambar secara long shot, meskipun begitu kita tahu bahwa maksud penceritaannya berada dalam scene yang sama.

Terdapat editing spatial yang sering terjadi dalam film ini: shot Cobb kemudian Shot totem, shot cob kemudian shot istrinya Mal, shot Cobn kemudian shot anak-anaknya.  Sedangkan Shot cob dan totem sering dimunculkan juga menunjukkan pola yang sama, yaitu fungsi dari totem tersebut, bahwa ada pengaruh yang cukup besar bagi totem tersebut untuk menunjukkan pada Cobb mana yang nyata dan tidak. Pola ini juga menjadi kunci di akhir cerita.

Sesuai dengan nadanya, pada bagian action yang menegangkan ritmiknya menjadi cepat, durasi rata-ratanya hanya sekitar 3-5 detik/cut sebelum pindah ke cut lain. Ritmik editing dalam film Inception menjadi lebih lambat ketika cerita mulai beralih keadegan-adegan drama dalam film ini, seperti ketika Cobb bertemu dengan ayahnya, ketika Cobb mencari parner, ketika Cobb berada dalam mimpinya, hal-hal semacam itu menggunakan ritmik yang lebih lambat karena fokus untuk memberikan informasi kepada penonton mengenai masalah dan konflik-konflik yang diangkat dalam film ini.

Pola-pola ini akan mulai dipahami oleh penonton ketika ia sadar bahwa perpindahan yang tiba-tiba secara naratif itu sering terjadi sehingga seringkali kita terpaksa untuk mengulang lagi dari awal atau dari scene sebelumnya untuk mampu menggabungkan puzzle-puzzle yang terbentuk dari scene satu ke scene berikutnya.

Sebagai contoh saja, di adegan awal kita baru tahu bahwa Cobb sedang berada di dalam mimpi ketika kita diperlihatkan pada tiga scene berikutnya: scene apartemen dan scene kereta dan bahkan ketika cerita berakhir di scene kereta kita baru sadar bahwa itu adalah alam nyata dan cerita pada sequence tersebut berakhir disana unsur lainnya dalam Dimensi Editing adalah Temporal yang terbagi atas Editing Kontiniti dan Editing Diskontiniti.

Editing Kontiniti bisa disamakan dengan Kontinuitas Grafik dimana adanya kontinuitas grafik akan membantu dalam kontiniti editingnya. Grafik pada film Inception di setiap adegannya selalu dibangun dengan unsur yang selalu konsisten dalam adegan yang sama yaitu penggunaan dan peletakan property, make-up wardrobe, dan juga setting ceritanya sehingga tidak menjadi masalah ketika kamera berpindah dari satu angle ke angle lain atau dari satu shot size ke shot size lain dan pada gambar visual lain. Selain itu aspek lain dalam editing kontiniti yang dipenuhi dalam film Inception antara lain:

Melalui screen directing dari pergerakan kameranya yang mengikuti aturan 180 derajat dengan tepat. Pada setiap percakapan atau adegan dialog yang terjadi dalam adegan di film Inception, posisi objek atau karakter berada dalam frame yang selalu konsisten, hal ini bisa dilihat bahwa pada adegan dialog, tokoh akan selalu berada di posisi yang sama, dan ini juga mempertegas bahwa posisi kamera selalu konsisten berada di tempat yang sama.

Garis mata (eyelines) juga selalu konsisten. Dalam adegan dialog, setiap tokohnya berbicara ke arah lawan bicara, dan itu juga sekaligus memenuhi aturan 180 derajat dalam pengambilan gambar sehingga tetap seimbang. Melalui mise en scene dan sinematografi agar hubungan kontinuitas naratif antar shot tetap terjaga.

Reverse shot: gabungan dua shot atau lebih yang membedakan para karakternya dan biasanya digunakan pada adegan dialog: jelas, pundak ke pundak, dan hal tersebut terjadi pada bagian dialog dua arah yang terjadi dalam film ini. Establing shot beberapa kali dimunculkan di film ini pada bagian dimana tokoh tengah pergi ke suatu tempat. Establing shot membantu penonton memahami dimana setting lokasi tokoh pada saat kejadian tengah berada.

Match on Action: perpindahan shot dari arah beda, tetapi momennya sama: dimunculkan  ketika adegan action. Pada adegan-adegan action, perpindahaan shot yang diambil dari arah berbeda yang memperlihatkan sebuah aksi tidak terputus dalam sebuah momen pergerakan yang sama, termasuk di dalamnya juga dipengaruhi oleh ritme editing yang cepat sehingga mata tidak sempat untuk menghitung ada berapa shot yang terjadi dalam adegan tersebut.

Point of View: mata tokoh kemudian mata tokoh menjadi mata penonton apa yang dilihat tokoh dimunculkan dalam directing yang sama sering dimunculkan pada adegan-adegan dimana tokoh tengah mengamati sesuatu.

Cut in hampir terjadi disetiap adegan yaitu cut dari shot yang luas ke yang lebih dekat, ini lebih sering terjadi pada adegan-adegan dialog yang membutuhkan pengenalan terhadap lokasi tempat sebelum memasuki pemahaman pada dialog yang dilakukan oleh tokoh.

Cross cutting pada film Inception banyak dilakukan banyak untuk menunjukkan adegan-adegan tegang, terutama ketika tensi cerita sedang naik, karena cerita berfokus pada mimpi di dalam mimpi, sehingga seringkali kita diajak untuk benar-benar teliti dan detail memperhatikan yang mana scene ketika berada di mimpipertama, mimpi kedua, ketiga, dan seterusnya. Karena menggunakan tokoh-tokoh yang sama, seringkali cerita menjadi cukup membingungkan jika kita kehilangan atau ketinggalan salah satu adegan kunci yang menentukan perpindahaan ke setiap mimpi.

Seperti pada bagian ketika mereka dikejar waktu karena perbedaan waktu di setiap mimpi, atau untuk menunjukkan kegelisahan para tokohnya karena harus mempersiapkan sentakan untuk membangunkan tokoh-tokoh yang lain dari mimpi mereka. Cross cutting lebih sering terjadi untuk menceritakan apa yang terjadi pada tingkatan-tingkatan mimpi di waktu yang sama.

Kemudian seperti juga pada awal cerita, disitu diceritakan bahwa ada 2 mimpi yang dibangun Cobb dan teman-temannya. Terdapat tiga scene berbeda yaitu mimpi pertama di kediaman Saito, mimpi kedua di apartemen Saito, dan ketiga adalah di kehidupan nyata di dalam kereta api. Ketiga scene tersebut menggunakan tokoh-tokoh yang sama tapi dalam 3 scene tersebut mereka menggunakan pakaian yang berbeda, property, dan setting yang berbeda.

Pada 3 unsur utama tersebut penonton harus benar-benar memperhatikan sehingga bisa mengkategorikan dimana cerita berada di mimpi keberapa karena seringnya dilakukan cross cutting sehingga penonton harus mampu mengkategorikannya seperti itu agar tidak salah pengertian terhadap ceritanya. Selain itu, tidak semua adegan diceritakan secara verbal, beberapa hanya diceritakan secara visual sehingga perbedaan setiap scene harus melihat dari mise en scene film ini.

Montase dimunculkan pada adegan persiapan team cobb untuk masuk ke mimpi Fisicher itu diceritakan secara cepat, tap tap tap, tapi tetap memperjelas maksud dari adegan adegan itu yaitu bagaimana kritis dan rinci persiapan mereka. Setiap dialog ditabrakan pada scene-scene yang berbeda sehiingga penonton diarahkan untuk lebih mencerpati kalimat-kalimat yang disampaikan meskipun apa yang muncul pada frame berubah secara cepat.
Sedangkan untuk Editing Diskontiniti digunakan dalam film Inception secara sengaja untuk mempertegas aspek dramatiknya. Pada editing diskontiniti dibagi menjadi 3 hal yaitu:

Pelanggaran aturan 180: Film Inception tidak melakukan pelanggaran pada aturan 180 derajat, semua arah disesuaikan dengan ketentuan pada aturan tersebut, kalaupun ada pengambilan gambar yang melewati garis imajiner secara berlawanan itu dikarenakan memang dibutuhkan sudutu pandang lain untuk bisa memberikan arahan atau mempertegas posisi dan lokasi subjek. Seperti misalnya pada adegan mimpi di lobi hotel ketika diceritakan Cobb berperan sebagai Mr. Charles dan mengajak Fischer untuk berbicara. Adegan tersebut beberapa kali Cobb mengubah posisi duduknya, pertama berada di sebelah kiri Fischer sehingga Fischer harus memutar kursi ke kiri kemudian ia berjalan ke sebelah kanan Fischer sehingga Fischer harus memutar tubuh ke sebelah kanan.

Untuk tetap mampu memperlihatkan lawan bicara tanpa membuat penonton kehilangan arah dimana posisi setiap tokohnya sedang berada saat itu, kamera perlu melakukan perpindahan yang melewati garis imajiner untuk mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Meskipun begitu, arahnya menjadi sama, meskipun Cobb ada di sebelah kiri atau kanan Fischer, pada frame dia selalu muncul di sebelah kiri begitu pula sebaliknya.

Diskontiniti pada Jump Cut tidak ditemukan tetapi terdapat Non diagetic insert yang dimunculkan beberapa kali sebagai sebuah pola dan symbol sebagai penguat naratif cerita. Seperti adegan-adegan Mal yang tiba-tiba muncul, Cut anak-anak cob mendadak muncul, mal mendadak muncul, adegan kereta yang tiba-tiba muncul sebagai symbol memori dan ingatan Cobb yang terus menerus menganggu pikirannya. kereta yang tiba-tiba muncul tanpa ada penjelasan apapun dari maksud adegan tersebut, tidak ada percakapan hanya pengungkapan secara visual.

Jika tidak benar-benar memperhatikan, kita akan menganggap bahwa ada shot yang salah karena terselip tidak pada adegannya ketika tokoh sedang tidak menghadap ke shot berikutnya. Jika memperhatikan secara detail, barulah penonton tahu bahwa maksud dari shot tersebut adalah sebuah kenangan atau memori, yang setelah muncul berulang-ulang menjadi pola untuk menunjukkan konflik internal dari tokoh utama, bahwa hal-hal yang sering muncul tiba-tiba itu adalah apa yang paling mengganggu hidupnya selama ini.

Awalnya tentu kita akan merasa terganggu dan bertanya-tanya maksud dari dimunculkannya shot-shot tersebut, terlebih ketika shot-shot tersebut secara tidak kontiniti dimunculkan terus menerus. Tetapi menariknya, dari ketidakteraturan kemunculan shot-shot tersebut, kita dibawa lebih dalam pada unsur dramatik dan konflik tokohnya dimana shot-shot itupulalah yang membawa kita semakin penasaran pada setiap adegan yang mengiringinya.

Unsur editing lain seperti Overlapping nyaris tidak pernah dimunculkan karena kegunaannya justru akan memperpanjang waktu dalam adegan sedangkan pada film Inception semuanya diceritakan secara cepat. Tetapi banyak terjadi Elliptical pada editingnya untuk menunjukkan bahwa waktu yang bisa dijangkau dalam waktu jam atau menit hanya diceritakan beberapa detik saja dalam frame. Seperti adegan ketika Cobb memutuskan untuk pergi menemui ayahnya. Terdapat adegan ia di dalam pesawat, tapi tidak diperlihatkan adegan ketika pesawat melaju atau apa yang Cobb lakukan di dalam pesawat hingga ia sampai ke tujuan, hanya ditunjukkan ia duduk dan shot kemudian ia sudah berada di lokasi yang ditujunya yaitu kampus tempat ayahnya mengajar.



3. Visual Effect

Sutradara berusia 40 tahun ini tidak asal mengobral efek visual untuk mendominasi cerita, justru sebaliknya. Beliau menempatkan berbagai efek visual pada tempat yang pas dan sesuai untuk membantu cerita, mewujudkan khayalan penonton menjadi nyata. Ada sekitar 600 pengambilan gambar efek visual untuk film ini dan itu termasuk sedikit jika dibandingkan dengan Avatar misalnya yang membutuhkan lebih dari 2000 pengambilan gambar efek visual.

Untuk membantu Nolan, ratusan kru efek visual dan efek khusus pimpinan Paul Franklin dan Chris Corbould harus bekerja keras untuk merealisasikannya senyata mungkin. Adegan aksi dalam Inception yang pasti teringat terus oleh penonton tentu saja pertarungan Arthur melawan para musuhnya di sepanjang koridor hotel yang terus berguncang dalam situasi gravitasi nol. Tentu saja Corbould dan Franklin merencanakan hal ini sebaik-baiknya dengan anak buah mereka. Dengan arahan Nolan yang begitu perfeksionis, Corbould cs membangun satu ruangan khusus yang dapat berputar dalam berbagai arah, termasuk horizontal dan vertikal. Banyak kamera dipasang khusus di situ untuk merekam adegan baku hantam yang melibatkan Arthur dan lawannya.

Satu adegan lagi yang takkan terlupakan tentu saat satu bagian kota Paris berlipat-lipat sehingga sebagian kota menjadi tegak lurus. Butuh usaha keras untuk melakukan hal ini dan Franklin sebagai supervisor efek visual tahu betul tugas ini tidaklah ringan. Demikian juga saat Cobb dan Ariadne melakukan percakapan di kafe pinggir jalan sementara simulasi terus berlanjut dengan berbagai ledakan di sekeliling mereka. Franklin cs tentu melakukan hal itu dengan hati-hati. Mereka melakukan berbagai ledakan kecil, lalu adegan itu direkam dengan kamera, lalu dimanipulasi secara besar-besaran di studio efek visual sehingga terlihat spektakuler.

Kinerja Franklin dan Corbould telah mendapatkan pengakuan berupa nominasi Oscar untuk karya mereka bersama Nolan di film adaptasi komik terbaik dan terlaris sepanjang masa The Dark Knight. Kini untuk Inception, hasil karya mereka tampaknya akan berbuah lebih.

4. Sinematografi

Film ini direkam terutama dalam format anamorphic pada film 35 mm, dengan urutan kunci difilmkan pada 65 mm, dan sekuens udara di VistaVision. Nolan tidak merekam rekaman apa pun dengan kamera IMAX seperti yang dilakukannya dengan The Dark Knight. "Kami tidak merasa bahwa kami akan dapat syuting di IMAX karena ukuran kamera karena film ini mengingat bahwa ini berhubungan dengan area yang berpotensi sureal, sifat mimpi dan sebagainya, saya ingin itu menjadi serealistis mungkin. Tidak terikat oleh skala kamera IMAX itu, meskipun saya suka formatnya mahal ".
Selain itu, Nolan dan Pfister menguji menggunakan Showscan dan Super Dimension 70 sebagai potensi format besar sistem kamera dengan frekuensi gambar tinggi yang digunakan untuk film, tetapi akhirnya memutuskan formatnya. Urutan dalam gerakan lambat difilmkan pada kamera Photo-Sonics 35mm dengan kecepatan hingga 1000 bingkai per detik. Wally Pfister menguji syuting beberapa rangkaian ini menggunakan kamera digital berkecepatan tinggi, tetapi menemukan formatnya tidak dapat diandalkan karena gangguan teknis. "Dari enam kali kami mengambil gambar dalam format digital, kami hanya memiliki satu bagian yang bisa digunakan dan tidak berakhir di film.

Dari enam kali kami mengambil gambar dengan kamera Photo-Sonics dan 35mm berlari melaluinya, setiap satu tembakan berada di film. Nolan juga memilih untuk tidak merekam film apa pun dalam 3D karena ia lebih suka memotret pada film menggunakan lensa prima, yang tidak dimungkinkan dengan kamera 3D. Nolan juga mengkritik gambar suram yang dihasilkan proyeksi 3D, dan perselisihan bahwa film tradisional tidak memungkinkan persepsi kedalaman yang realistis, mengatakan "Saya pikir itu keliru untuk menyebutnya 3D versus 2D. Inti dari citra sinematik adalah tiga dimensi ... Anda tahu 95% dari petunjuk kedalaman kami berasal dari oklusi, resolusi, warna dan sebagainya, sehingga ide untuk memanggil film 2D 'film 2D' sedikit menyesatkan.

Nolan melakukan tes mengkonversi Inception ke 3D di pasca-produksi tetapi memutuskan bahwa, sementara itu mungkin, ia tidak memiliki waktu untuk menyelesaikan konversi ke standar. Pada bulan Februari 2011 Jonathan Liebesman menyarankan agar Warner Bros mencoba konversi 3D untuk rilis Blu-ray. Wally Pfister memberikan masing-masing lokasi dan tingkat mimpi tampilan yang berbeda untuk membantu pengakuan penonton tentang lokasi narasi selama bagian potongan berat film: benteng gunung tampak steril dan sejuk, lorong hotel memiliki warna hangat, dan pemandangan di dalam van lebih netral.

5. Sound

Skor untuk Inception ditulis oleh Hans Zimmer,  yang menggambarkan karyanya sebagai "sangat elektronik, skor padat", diisi dengan "nostalgia dan kesedihan" untuk menandingi perasaan Cobb di sepanjang film. Musik ini ditulis secara bersamaan untuk syuting, dan fitur suara gitar mengingatkan Ennio Morricone, dimainkan oleh Johnny Marr, mantan gitaris The Smiths. Édith Piaf's " Non, je ne regrette rien " dengan tajam muncul di sepanjang film, digunakan untuk menentukan waktu mimpi secara akurat, dan Zimmer mengolah kembali potongan lagu menjadi isyarat skor. Album soundtrack dirilis pada 11 Juli 2010 oleh Reprise Records. Sebagian besar skor juga termasuk dalam suara surround 5.1 beresolusi tinggi pada disk kedua dari rilis 2 disc Blu-ray. Musik Hans Zimmer dinominasikan untuk Academy Award dalam kategori Skor Asli Terbaik pada tahun 2011, kalah dari Trent Reznor dan Atticus Ross dari The Social Network.

6. Format

Inception dirilis pada DVD dan Blu-ray pada tanggal 3 Desember 2010, di Perancis, dan seminggu setelahnya di Inggris dan Amerika Serikat (7 Desember 2010). Warner Bros juga tersedia di Amerika Serikat edisi Blu-ray terbatas yang dikemas dalam replika logam dari koper PASIV, yang termasuk ekstra seperti replika logam totem atas yang berputar. Dengan produksi kurang dari 2000, terjual habis dalam satu minggu. Inception dirilis pada 4K UHD bersama dengan setiap film Christopher Nolan pada 19 Desember 2017.

7. Durasi

Dalam 2,5 jam bergulirnya Inception, yang anehnya tidak terasa selama itu, banyak momen-momen yang berkesan, gimmick yang bakal  keingat terus, kata-kata yang terngiang-ngiang bahkan lama setelah selesai menonton. Selain adegan “kafe meledak” dan “kota bengkok” dalam dream-sharing perdana Ariadne, momen yang saat itu juga langsung jadi favorit adalah aksi Arthur (Joseph Gordon-Levitt) melawan agen-agen “contraception” di gravitasi jungkir balik, dan semua adegan zero gravity nya. Lalu konsep mimpi yang ditawarkan Inception pun masih lingering: tentang “totem” lah, tentang bahwa kita tidak pernah ingat bagaimana mimpi kita dimulai lah, tentang perbedaan waktu dunia sadar dan bawah sadar, tentang mimpi berlapis-lapis lah, limbo lah.

Bab III
Penutup
A.    Kesimpulan

Film Inception, untuk menunjukkan perbindahan dari satu scene ke scene yang lain, bahkan ketika berpindah ke sequen lain selalu tiba-tiba, tidak ada penjelasan untuk menunjukkan kemana cerita akan diarahkan, dan hanya penonton yang mampu menganalisis bagaimana kemudian cerita tiba-tiba berada pada adegan itu dan bagaimana atau apa tujuannya.

Seperti di awal cerita, kita tiba-tiba dibawa pada sebuah cerita seorang laki-laki yang terdampar di pantai dan dibawa ke dalam sebuah kediaman, kemudian melakuakn percakapan yang sama sekali tidak terkesan seperti sedang memperkenalkan diri. Sebagai penonton kita tidak diberikan petunjuk apapun sama sekali, hanya bisa mengikuti percakapan antara Cobb dan Saito tanpa clue mengenai apapun yang tengah terjadi pada saat itu.

Bahkan ketika kita dihadapkan pada scene berikutnya, dengan wajah tokoh yang sama yaitu Cobb dalam keadaan yang jauh lebih terawatt dengan rapih, kita juga masih tidak diberikan petunjuk mengenai apa yang terjadi. Biasanya orang akan menganggapnya sebagai flashback? Atau jika tidak benar-benar jeli, orang bahkan menganggap scene tersebut sebagai scene selanjutnya.

Dan itu terjadi secara teratur hingga akhir cerita, dimana kita tiba-tiba melihat adegan berpindah scene tanpa petunjuk atau pemberitahuan apa maksud scene berikutnya. Terlebih ketika adegan berpindah dari alam nyata kea lama mimpi, yang benar-benar terjadi adalah kita tidak tahu bahwa cerita saat itu sedang berada di scene mimpi, kita hanya bisa meraba dari percakapan yang terjadi berikutnya bahwa ternyata mereka sedang berada di dalam mimpi.

Jadi, film Inception ini menunjukkan dua hal yang harus diperhatikan ketika menontonnya: kita diajak untuk berfikir melalui unsur auditif dan visual yang ditunjukkan film ini, tetapi kita juga diajak untuk terus mengikuti pergulatan emosi, dan konflik dalam dramatiknya. Bisa dibilang Inception sempurna dalam menampilkan hal-hal tersebut kepada penontonnya sehingga tidak heran jika ratingnya saja bagus.

Inception telah menyajikan sebuah pengalaman sinematik yang tidak hanya menjadi hiburan yang berkualitas tetapi juga begitu dalam memasuki pikiran kita, apalagi jika membahas soal nilai filosofi kehidupan yang dituangkan Nolan dan bercampur dengan dunia mimpinya yang secara magis mempesona tersebut. Sedikit banyak menyinggung rapuhnya manusia, pikiran bisa kapan saja “tercuri” atau “tertanam” yang baru, tetapi luka dari masa lalu terkadang lebih sulit untuk dilupakan.

Karena hati lebih pintar mengingat, apalagi jika kita terbebani oleh rasa bersalah yang tidak kasat mata tapi tersimpan jauh di dalam sana (tema rasa bersalah memang sudah menjadi ciri khas Nolan). Itulah yang terjadi dengan Dom, yang diperankan dengan sangat cemerlang oleh Leonardo DiCaprio. Film ini memang disempurnakan dengan pemain yang bisa memainkan perannya dengan baik.

Memaksimalkan apa yang sudah menjadi pekerjaan rumah mereka dan memberikan porsi peran yang tidak mengecewakan, termasuk Marion Cotillard yang walau diberi porsi lebih sedikit tetapi bisa mencuri perhatian sebagai istri Dom, yaitu Mal. Sebagai penutup, Hans Zimmer mengikatkan pita cantik lewat alunan-alunan score yang menghipnotis dan membuat merinding.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Tentang Aku


Welcome to my blog.
Namaku Arif Hidayat, seorang pria biasa yang menjadi Penikmat Film | Pendengar Musik | Pencandu Buku. Kritik dan saran atau sharing bisa menghubungi lewat email : deni.aries86@gmail.com

Follow Us

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Google+
  • Youtube

Categories

Film Ulasan Cerpen Makalah Tutorial

recent posts

Blog Archive

  • Januari 2019 (1)
  • November 2018 (3)
  • September 2018 (5)

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates