Bab I
Pendahuluan
A.
Latar Belakangan
Didepan bangunan tua itu, puluhan sepeda motor berbaris rapi. Di
sekitarnya lapak-lapak pedagang kaki lima “mencuri” trotoar untuk menggelar dagangan.
Keramaian ini tak henti sejak pukul delapan pagi hingga enam sore. Hiruk pikuk
kian memuncak kala melewati pintu utama bangunan. Orang lalu lalang di sekitar
ruangan dengan urusannya masing-masing. Sebagian lain masih mengantri, menunggu
giliran.
Inilah Kantor Pos Besar Medan. Terletak dibagian utara Esplanade,
Lapangan Merdeka atau Merdeka Walk sekarang, bangunan ini masih berdiri kokoh.
Usianya lebih dari seratus tahun. Sejak didirikan pada tahun 1911, bangunan ini
menjadi saksi bisu perkembangan negeri Medan.
Bangunan ini, sengaja kami ambil untuk riset makalah ini, karena ia
merupakan salah satu bangunan tua dan juga bersejarah di kota Medan. Meski
sampai saat ini, terdapat perubahan pada beberapa bagian di dalam dan
didepannya, juga warna cat temboknya yang mulai pudar dan juga fungsinya yang
sudah mulai ditinggalkan orang. Namun ia tetap menjadi ikon bangunan bersejarah
kota medan dan harus tetap dilestarikan.
B.
Rumusan Masalah
1.
Sejarah Kantor Pos Medan
2.
Fungsi Kantor Pos Medan
3.
Tanggapan Orang Tentang Kantor Pos Medan
C.
Tujuan Penulisan
1. Untuk
mengenalkan kembali ikon bangunan bersejarah kota medan
2. Melihat
kembali sejarah Kantor Pos Medan
3. Seberapa
pentingkah Kantor Pos Medan itu bagi masyarakat
Bab II
Pembahasan
Pembahasan
A.
Sejarah Kantor Pos Medan
Kantor Pos
Medan adalah kantor pos besar di Medan, Indonesia. Dibuka pada tahun 1911,
kantor pos ini adalah salah satu bangunan bersejarah yang hingga kini masih
berdiri kokoh di Medan. Bangunan ini masih tetap mempertahankan fungsinya
hingga kini. Letaknya di pusat kota Medan, tepatnya di seberang Lapangan
Merdeka dan Hotel Dharma Deli. Di depannya terdapat air mancur yang
didedikasikan pada salah seorang pionir kota Medan modern, Jacob Nienhuys
(sudah berubah bentuk).
Tidak jauh
dari Kantor Pos Medan, ada pula pusat kuliner Merdeka Walk yang populer. Gaya
arsitektur Belanda yang masih kental, mirip dengan gaya arsitektur jembatan
Titi Gantung di dekat stasiun, dan memang dipertahankan hingga sekarang. Kantor
Pos Medan diarsiteki oleh salah seorang arsitek Belanda, Snuyf, yang juga
merancang Kantor Ledeng Palembang. Bangunan ini memiliki luas 1200 meter
persegi, dengan tinggi mencapai 20 meter.
Kantor pos
yang terdapat di jantung kota Medan ini juga merupakan ikon kota Medan.
Bangunan yang didominasi dengan warna putih dan oranye, yang merupakan
identitas Pos Indonesia ini memiliki bentuk kubah yang unik. Bentuk kubah tetap
dipertahankan walaupun kantor pos ini telah mengalami beberapa kali renovasi.
Jendela-jendela yang terletak pada sisi-sisi bangunan berbentuk setengah
lingkaran, dengan tiang putih yang menyangganya, membuat bangunan tersebut
terlihat seperti kandang burung merpati pos yang dahulunya dimanfaatkan sebagai
sarana berkirim surat.
Meski sudah berusia lebih dari
seratus tahun, Kantor Pos Besar ini masih terus mencoba bernapas. Sejak jaman
kejayaan tembakau Kesultanan Deli di Medan pada masa perdagangan Belanda dan
negara-negara Eropa lain, lalu masa Negara Sumatera
Timur (1947-1950), kemudian Republik Indonesia Serikat (1949-1950),
sampai era Negara Kesatuan Republik Indonesia (1950-saat ini), ia masih
menampung segala aktivitas padat pelayanan jasa pengiriman. Dan di jaman ini,
bangunan-bangunan bersejarah semacam Kantor Pos Besar ini mulai tenggelam di
antara pemandangan bangunan-bangunan pencakar langit.
Medan semakin berkembang pesat
sejak perkebunan menjadi usaha utama di Tanah Deli ini, sekitar akhir 1800-an.
Nienhuys, pemimpin perusahaan perkebunan dari Belanda di Medan saat itu,
memproduksi tembakau Deli yang kualitasnya kemudian terkenal ke seluruh Eropa.
Tembakau inilah yang kemudian mengangkat nama Medan ke pentas dunia, dan
membawanya ke arah pembangunan yang lebih maju. Dan gelombang para pendatang
dari berbagai negeri pun mulai memasuki Medan.
Di masa itu, Nienhuys dan
pengusaha-pengusaha tembakau lain dari Eropa banyak bekerjasama dengan
Kesultanan Deli untuk membangun perusahaan. Mereka menyewa lahan untuk membangun
perusahaan-perusahaan yang mendukung operasionalisasi perdagangannya.
Adapun buruh–buruh perkebunannya diambil dari tiga negeri,
yakni Cina, Jawa, dan India. Sedangkan pribumi yang bekerja pada
perusahaan-perusahaan ini minimal bekerja sebagai apa yang populer disebut
dengan ‘adm’ (administrasi).
Perkembangan bisnis tembakau ini
kemudian diikuti atau ditunjang kemudian oleh pembangunan sejumlah
infrastruktur, seperti jalur kereta api dan kantor pelayanan umum. Hal ini
dilakukan untuk mengoptimalisasi operasionalisasi usaha perkebunan tembakau.
Bekas-bekas bangunan tersebut masih banyak yang berdiri hingga saat ini, bahkan
masih ada yang menjalankan fungsi aslinya kala Medan sudah di bawah kekuasaan
Negara Republik Indonesia.
Salah satu dampak dari kemajuan
perusahaan tembakau itu adalah pembangunan Kantor Pos Besar Medan. Bangunan
kokoh ini berada di sebelah kiri Merdeka Walk, tepatnya di depan Hotel Inna
Dharma Deli yang dahulu merupakan Hotel de Boer, dan menghadap menyamping ke
arah bekas bangunan Javasche Bank (kini Bank Indonesia) yang berdiri di samping
gedung Balai Kota lama. Javasche Bank merupakan bank cabang milik Belanda di
Jawa yang digunakan untuk mensosialisasikan mata uang Gulden milik Belanda.
Daerah sekitar Lapangan Merdeka
yang dahulu disebut Esplanade (bahasa Belanda), yang berarti lapangan terbuka
ini dianggap sebagai titik nol Medan. Berada di sekitar Lapangan Merdeka seakan
terlempar ke abad lalu. Daerah ini merupakan salah satu pusat peradaban Medan
di masa lalu. Di sekitarnya, paling tidak ada sebelas bangunan tua yang relatif
masih utuh seperti saat didirikan.
Tak saja fungsinya yang masih
sama, di Kantor Pos Besar ini juga masih tertera pada dinding-dindingnya
bermacam-macam tulisan yang menjadi penanda sebuah jaman. Ukiran tulisan ‘ANNO
1911’ di bagian atas samping kiri dan kanan bangunannya pun masih terlihat
jelas. Ia menjadi salah satu bukti tahun kelahiran bangunan Kantor Pos Besar.
‘ANNO 1911’ merupakan bahasa yang umum di pakai di
Eropa yang berarti ‘Tahun 1911’. ‘Anna Domini’ misalnya, yang populer disingkat
AD, merupakan bahasa Italia yang berarti ‘Tahun Tuan Kita’ atau ‘Tahun Masehi’
atau yang umum disebut ‘Masehi’ atau yang disingkat “M”.
Arsitek bangunan bersejarah ini tak lain adalah Snuyf.
Dia memulainya pada 1909 dan selesai pada 1911. Dia sendiri merupakan pejabat
pekerjaan umum Belanda untuk Kesultanan Deli. Dalam buku Badan Warisan Sumatera
Medan, Snuyf disebut sebagai Direktur Jawatan Pekerjaan Umum Belanda untuk
Indonesia. Tapi, tentu saja, ini mengherankan lagi menyesatkan. Tak ada
Indonesia di Medan pada 1911. Medan belum dikuasai oleh Negara Republik
Indonesia di tahun itu. Pun, Negara Republik Indonesia sendiri memang belum
ada.
Selain di Deli, Snuyf juga diketahui menjadi arsitek
salah satu bangunan bersejarah di Bandung (Jawa Barat) dalam rentang waktu yang
tak terlalu jauh, yakni 1914. Begitu pula di Palembang (Sumatera Selatan),
dimana Snuyf menjadi arsitek dari bangunan menara air. Di zaman itu, Kerajaan
Belanda memang melakukan kerjasama dengan banyak negeri. Dalam perspektif
mereka, wilayah operasionalnya disebut Hindia Belanda.
Dalam waktu yang sama dalam membangun Kantor Pos Besar
Medan, dibangun juga taman air mancur yang berada di depannya. Akan tetapi,
taman air mancur yang ada sekarang bukan lagi taman yang pertama kali dibangun.
Menurut catatan Badan Warisan Sumatera Medan, taman tersebut direnovasi oleh
Pemerintah Kota Medan pada akhir 2000. Sebagian lantai kolam yang terbuat dari
batu granit yang khas, hilang karena dilapisi keramik.
Menuju pintu utama kantor pos, di bagian paling atas
dari bangunan utama terdapat ukiran logo merpati pos. Warna kuning logo khas
Pos Indonesia tampil dominan dibandingkan keseluruhan bangunan yang berwarna
putih. Dulu, ukiran itu tak ada, hanya ada tulisan “Kantor Pos dan Giro” yang
terukir di sana. Ukiran-ukiran geometris bergaya tempo dulu ikut menghiasi logo
tersebut. Sedangkan di sisi kiri-kanan logo Pos Indonesia terukir terompet khas
Belanda dahulu kala.
“Arsitektur kantor pos sedikit berbeda dengan
bangunan-bangunan tua lain. Balai Kota (yang lama –red) dan Bank Indonesia
masih ada desain klasik yang identik dengan sulur-sulur dan bentuk-bentuk
lengkung. Sedangkan di kantor pos kita tidak menemukan lagi sulur-sulur.
Arsitekturnya lebih geometris, sudah masuk ke era modern,” jelas Sekretaris
Badan Warisan Sumatera, Rika Susanto, dalam suatu perbincangan.
Di Eropa, desain bangunan seperti pada Kantor Pos
Besar Medan dikenal dengan nama Arsitektur Modern Fungsional (Art Deco
Geometrik). Jenis arsitektur ini merupakan generasi ketiga setelah arsitektur
klasik yang hadir sebelum 1910 dan Arsitektur Neo-klasik (Art Deco Ornamental)
sebelum 1920. Kedua jenis arsitektur terakhir juga pernah digunakan Belanda
dalam pembangunan beberapa bangunan yang mereka kontrak di Medan.
Bangunan bergaya geometris rata-rata dibangun sebelum
1935. Jika melihat waktu berdiri kantor pos pada 1911, diperkirakan ia merupakan
bangunan era pertama yang menggunakan arsitektur geometris di Medan. Oleh
karena itu juga, tak banyak ditemukan bangunan tua dengan gaya arsitektur
serupa di kota ini.
Di ruang tengah, yang disebut vestibule, pada
bagian atas tergantung lampu hias antik khas zaman dulu. Lampu setinggi lebih
kurang sepuluh meter dan berada pada ketinggian sekitar enam meter dari lantai
tersebut masih asli dari zaman Belanda. Di sisi pinggir bawah langit-langitnya
terukir beberapa ekor merpati pos dengan desain Belanda kuno, berbeda dengan
ukiran merpati pos ciri khas Pos Indonesia.
Salah satu ciri khas bangunan zaman dulu adalah
keberadaan langit-langitnya yang lebih tinggi. Begitu pun lampu dan kipas angin
yang terpasang dengan pegangan yang panjang, seperti di beberapa ruangan kantor
pos. Awalnya, langit-langit vestibule dilapisi dengan kuningan asli. Hanya
saja, lapisan itu mengelupas akibat tragedi kebakaran yang sempat menghanguskan
sebagian kecil bangunan kantor pos pada Juni 2003. Kebakaran yang disebabkan
oleh hubungan pendek arus listrik itu merusak lampu hias dan ornamen di
langit-langit. Namun, kerusakan yang terjadi tidak signifikan. Pihak kantor pos
sendiri telah mengembalikan seperti bentuk dan warna aslinya.
Di vestibule yang selalu disesaki oleh para orang
tua untuk mengambil uang pensiun setiap awal bulan, lantainya juga masih
menggunakan keramik asli. Dulu pernah ada orang yang menawar dan ingin membeli
keramik tersebut. Akan tetapi, pihak pos tidak mengizinkan, karena itu bagian
dari bangunan bersejarah yang harus dilindungi. Oleh Belanda dulu,
ruangan vestibule ini dipakai untuk acara-acara mereka.
Di ruangan lain, tepatnya di sebelah kiri vestibule,
terdapat tiga pintu baja yang juga bagian asli dari bangunan kantor pos. Pintu
baja tersebut sekarang merupakan dinding pembatas antara ruang pelayanan wesel
dengan ruang pengiriman paket dan gudang. Satu diantaranya masih difungsikan
sebagai pintu hingga saat ini. Cara membukanya adalah dengan ditarik turun-naik
dengan rantai, yang merupakan ciri sistem katrol zaman dulu.
Sedangkan di ruang bendaharawan, menurut salah seorang
pegawai kantor pos, Alex, juga terdapat peti dan lemari brankas dari baja. Peti
dan lemari brankas ini juga merupakan peninggalan Belanda dulu. Seperti halnya
satu pintu tadi, fungsi peti dan lemari brankas sebagai lemari penyimpanan
masih dipertahankan sampai sekarang untuk operasional kantor pos.
Belakangan, bangunan Kantor Pos Besar Medan menjadi
salah satu landmark Kota Medan. Sebagai salah satu bangunan tua,
kantor pos menyimpan banyak sejarah tentang perjalanan Kota Medan yang juga
dikenal sebagai negeri kosmopolit. Makanya tak heran, banyak juga orang yang
mampir ke bangunan tersebut hanya sekedar untuk bernostalgia dengan Deli atau
Medan tempo dulu.
Jika waktunya pas, turis-turis tua dari Belanda
beberapa kali terlihat di dalam bangunan tersebut. Mereka mengarahkan kameranya
ke beberapa bagian gedung. Terkadang, ada juga serombongan pelajar yang
berkunjung untuk wisata belajar di kantor pos.
Melihat begitu besarnya nilai sejarah dari Kantor Pos
Besar Medan, tentu saja bangunan ini harus dijaga dan dilindungi. Usaha inilah
juga yang terus dilakukan oleh Badan Warisan Sumatera. Mereka selalu memantau
pengelolaan bangunan kantor pos, serta terus mengadvokasi agar tidak ada pihak yang
mengubah bentuk bangunan tersebut, termasuk soal perenovasiannya. Sejauh ini,
walaupun pernah dilakukan sejumlah perbaikan pada beberapa bagiannya, kantor
pos tidak pernah direnovasi secara besar-besaran.
Salah satu keunikan lain dari bangunan Kantor Pos
Besar Medan terletak pada dindingnya. Meski Medan relatif sering dilanda gempa,
dinding-dindingnya tidak pernah retak. “Makanya sama sekali gak pernah
direnovasi, hanya di cat-cat saja. Itulah bagusnya bangunan jaman dulu,” ujar
Alex.
Secara hukum, perlindungan terhadap bangunan-bangunan
tua di Medan, termasuk Kantor Pos Besar Medan, sudah diatur dalam Peraturan
Daerah Kota Medan Nomor 6/1988 Tentang Perlindungan Bangunan Bersejarah.
Bangunan-bangunan tua yang masuk dalam kategori ini adalah bangunan yang sudah
berusia lebih dari 50 tahun.
Terkait pengelolaan Kantor Pos Besar Medan sebagai
salah satu bangunan tua di Medan, Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu
Sosial (PUSSIS) Universitas Negeri Medan, Ichwan Azhari, mengatakan agar Kantor
Pos Besar Medan dijadikan museum. Dia mencontohkan pengelolaan kantor pos di
seberang yang dijadikan museum untuk mempertahankan dan menjaga nilai-nilai
sejarah dari bangunan tersebut. Sebab jika dipaksakan untuk menampung kegiatan
operasional yang semakin padat dari hari ke hari, fisik bangunan bisa saja
menjadi rusak.
“Saya hanya bisa beri komentar, gedung itu sekarang
sebaiknya dijadikan museum pos. Kantor Pos Jakarta juga dijadikan gedung
filateli, bagian dari sejarah pos. Jadi bisa mendatangkan pemasukan juga bagi PT.
Pos,” usul Ichwan.
Bangunan Kantor Pos Besar Medan memang memiliki hal
menarik dari sejarah. Tak hanya dari usia, tetapi juga dari narasi perkebunan
tempo dulu yang menjadi masa keemasan Deli, yang sekaligus melambungkan nama
negeri ke Eropa. Selain itu, arsitektur bangunannya juga dianggap lebih
menarik dan berbeda dengan banyak bangunan tua lain di Medan. Bahkan, menurut
Ichwan, arsitektur Kantor Pos Besar Medan lebih cantik dibandingkan dengan
bangunan Gedung Filateli di Jakarta.
Mengenai fungsi pelayanan jasa posnya sendiri, hal itu
bisa dilakukan dengan cara memindahkan pelayanan ke tempat lain. Hal seperti
ini juga dilakukan terhadap Kantor Pos Jakarta. Namun begitu, hingga sekarang
Ichwan mengaku belum pernah mencoba menawarkan usulan ini, baik ke PT. Pos
Indonesia maupun Pemerintah Kota Medan.
Selain itu, wacana tentang bangunan bersejarah ini
juga perlu dihidupkan. Apalagi, sampai sekarang tak ada yang mengetahui kapan
tanggal resmi berdirinya bangunan kantor pos ini. Sama sekali tidak ada catatan
mengenai hal tersebut, sehingga tak bisa dipastikan kapan hari jadinya. Bahkan,
pihak Kantor Pos Besar Medan sendiri juga tak mengetahui tanggal pasti kapan
bangunan ini berdiri. Barangkali, yang mengetahui adalah pihak yang membuat
bangunan itu di Tanah Deli, yakni Belanda.
Jika sudah diketahui, tentu tanggal tersebut dapat
dijadikan sebagai hari jadi Kantor Pos Besar Medan yang diperingati setiap
tahunnya. Dengan demikian, maka ingatan akan kejayaan tanah negeri Melayu ini
takkan pernah lekang meski generasi terus berganti. Masyarakat takkan menjadi
‘layang-layang putus’ kala menyaksikan keriuhan kantor pos yang kian semrawut
dari hari ke hari.
B.
Tanggapan Masyarakat
Ketika kami
menyusuri di sepanjang jalan dekat Kantor Pos itu, terlihat jelas bahwa Kantor
Pos itu mulai di tinggalkan masyarakat. Didepannya banyak sekali sampah, dan
disekelilingnya penuh dengan pedagang kaki lima. Adapun saat hari minggu,
didepannya malah dijadikan lapak parkiran oleh oknum oknum yang tak bertanggung
jawab.
Sayang sekali,
masyarakat juga tampaknya acuh dengan kondisi seperti itu. Ditambah teknologi
yang semain maju dan akses berkirim surat sudah diganti dengan berbagai
aplikasi yang sekali klik sudah langsung terkirim, kantor pos medan yang
bersejarah itu harus turun dari tahta kejayaannya.
Saat kami menanyakan beberapa
orang, apa tanggapan mereka tentang kantor pos medan saat ini. Mereka sebagian
besar menjawab bahwa kantor pos medan yang sekarang masih berdiri kokoh, tak
ubahnya bangunan sejarah pada umumnya, hanya nilai sejarah lah yang membuat
mereka masih bertahan dan sulit untuk dihancurkan apalagi dirobohkan. Namun
dari segi fungsi, mulai perlahan-lahan di tinggalkan masyarakat.
Selain itu kami juga bertanya
pada beberapa anak muda yang sering nongkrong disitu. Mereka melihat bahwa
Kantor Pos Medan punya nilai seni yang cukup tinggi, dari arsitekturnya dan
berbagai desain yang vintage. Mereka sering mengabadikan bangunan bersejarah
lewat foto ataupun video, tujuannya tak lain atas nasionalisme mereka terhadap bangunan
yang punya sejarah penting di kota medan.
Bab III
Penutup
A.
Kesimpulan
Kantor pos
yang terdapat di jantung kota Medan ini juga merupakan ikon kota Medan.
Bangunan yang didominasi dengan warna putih dan oranye, yang merupakan
identitas Pos Indonesia ini memiliki bentuk kubah yang unik. Bentuk kubah tetap
dipertahankan walaupun kantor pos ini telah mengalami beberapa kali renovasi.
Jendela-jendela yang terletak pada sisi-sisi bangunan berbentuk setengah
lingkaran, dengan tiang putih yang menyangganya, membuat bangunan tersebut
terlihat seperti kandang burung merpati pos yang dahulunya dimanfaatkan sebagai
sarana berkirim surat.
Meski sudah berusia lebih dari
seratus tahun, Kantor Pos Besar ini masih terus mencoba bernapas. Sejak jaman
kejayaan tembakau Kesultanan Deli di Medan pada masa perdagangan Belanda dan
negara-negara Eropa lain, lalu masa Negara Sumatera
Timur (1947-1950), kemudian Republik Indonesia Serikat (1949-1950),
sampai era Negara Kesatuan Republik Indonesia (1950-saat ini), ia masih
menampung segala aktivitas padat pelayanan jasa pengiriman. Dan di jaman ini,
bangunan-bangunan bersejarah semacam Kantor Pos Besar ini mulai tenggelam di
antara pemandangan bangunan-bangunan pencakar langit.











