Film ini dibuka dengan adegan seorang pria yang terlihat kebingungan setelah bangun tidur. Pria itu memerhatikan bentuk tubuhnya, lalu memotret dirinya sendiri, menyebutkan sesuatu di kamera dan menyetel alarm untuk jam 23.00 dan menyetel lagi untuk jam 23.50. Adegan selanjutnya kita tahu kalau pria yang bernama Justin tadi mempunyai pacar yang sangat manis bernama Rhiannon.
Secara cerita, film ini berfokus pada kehidupan asmara Rhiannon. Ketidakpuasannya terhadap sang pacar karena dinilai terlalu cuek dan kurang memerhatikan dirinya membuat Rhiannon mencoba membuka hatinya untuk orang lain. Namun layaknya sebuah film romansa pada umumnya, kehadiran orang lain itu tak bertahan lama, karena kemudian sang pacar mengetahui dan mengusirnya. Rhiannon pun kembali terjebak pada kehidupan romansa yang membosankan.
Sekilas dari sinopsis diatas memperlihatkan pada kita bahwa tidak ada yang aneh dalam film Every Day. Ceritanya juga terlihat biasa dan mudah ditemui pada film romansa lainnya. Itu jugalah yang terjadi padaku ketika pertama kali menonton. Berharap mendapatkan cerita romantis nan sedih, Every Day justru bergerak keranah fiksi ilmiah.
Rhiannon di datangi oleh orang asing yang kemudian mencoba untuk akrab padanya. Anehnya lagi, orang asing itu seperti mengetahui semua kesukaan Rhiannon. Rhiannon pun tertarik dan jatuh cinta pada orang asing tersebut. Sayangnya orang asing itu hanya bisa bertahan satu hari. Karena esoknya orang itu akan berpindah tubuh ke orang lain lagi. Inilah bagian aneh dalam film Every Day.
Orang asing itu bernama 'A' adalah seseorang yang terbangun di tubuh berbeda setiap harinya. Di adegan pembuka, 'A' terbangun di tubuhnya Justin, pacar Rhiannon. Hal itu juga yang membuat Justin begitu romantis kepada Rhiannon. Mengajak Rhiannon berkencan, mendengarkan musik kesukaan Rhiannon dan bernyanyi bersama lalu bercerita tentang kehidupan pribadi yang selama mereka pacaran tak pernah sedikitpun di lakukan Justin.
Esoknya, 'A' terbangun di tubuh yang berbeda lagi. Kali ini seorang pria bernama Nathan. Justin pun kembali semula, menjadi pribadi cuek dan kurang memerhatikan Rhiannon juga tak dapat mengingat kejadian semalam. 'A' dalam tubuh Nathan bertemu dengan Rhiannon di sebuah pesta. Mereka kemudian menjadi akrab dan berbagi kisah masing-masing. Justin yang melihatnya terbakar cemburu lalu mengusir 'A'. Esoknya, 'A' terbangun di tubuh yang berbeda lagi.
Every Day tidak benar-benar menjadikan filmnya bergerak ke ranah fiksi ilmiah. Sang sutradara, Michael Sucsy, tahu betul arah filmnya kemana. Terlepas dari alur ceritanya yang rumit, Every Day tetaplah sebuah film romansa yang kebanyakan penontonnya berasal dari kaum remaja. Maka hal terpentingnya adalah menghadirkan momen-momen romantis yang dapat menyenangkan penonton dan Michael Sucsy bisa melakukannya.
Naskah buatan Jesse Andrews mampu menghadirkan penjelasan-penjelasan ilmiah seputar jati diri 'A' dengan begitu ringan dan santai layaknya seperti obrolan biasa. Meskipun terdapat kemonotonan ditengah film akibat ketiadaan konflik dalam cerita. Tapi setidaknya Jesse tidak meninggalkan tanda tanya selepas film usai. Penonton pun diberi gambaran masa depan jika Rhiannon terus bersama 'A' yang memiliki kejadian aneh seperti itu. Apakah mereka akan bahagia atau malah tidak. Hal ini juga berfungsi sebagai pengakhir film.
Sosok Rhiannon yang diperankan oleh Angourie Rice paling berhasil mencuri perhatian. Ia tampil sederhana dengan sikap yang tak mau ambil pusing dengan perkataan orang lain terhadapnya. Tiap dialog yang keluar dari mulutnya terasa enak didengar di tambah senyumnya yang bisa meluluhkan hati penonton. Begitupun 'juga A' yang dimainkan oleh banyak orang tetap menjadikannya karakter yang dengan mudah disukai dan tak kehilangan daya tarik.
Every Day adalah sebuah film romantis fiksi ilmiah yang mudah ditonton oleh siapa saja tanpa harus merasa takut terjebak pada kerumitan alurnya. Karena Every Day mampu menghadirkan tiap momen begitu romantis.






0 komentar