Ahirnya aku berkesempatan juga menonton film yang saat review ini ditulis sudah mencapai 2.432.961 penonton. Film Suzanna : Bernafas Dalam Kubur bukan lah remake dan bukan pula biopic melainkan sebuah penghormatan besar untuk sang ratu horor. Melihat bagaimana banyaknya easter egg film terdahulunya di tampilkan membuktikan bahwa para pembuat film ini tahu betul caranya membuat film "Suzanna" bukan sekedar horor malas yang hanya menggeruk pundi-pundi uang.
Filmnya sendiri bercerita tentang Suzanna (Luna Maya) dan sang suami, Satria (Herjunot Ali) hidup bahagia nan penuh cinta telah diberikan momongan. Hingga sampai suatu hari ketika Satria pergi ke luar negeri, Suzanna memutuskan untuk menonton layar tancap bersama pembantunya (Asri Welas). Dikarenakan kondisi badan yang kurang sehat, Suzanna terpaksa pulang lebih awal.
Ditempat lain, 4 orang pemuda yaitu Umar (Teuku Rifnu Wikana), Dudun (Alex Abbad), Jonal (Verdi Solaiman) dan Gino (Kiki Narendra) yang tak lain adalah karyawan Satria sedang merampok rumah Suzanna karena kesal permintaan naik gaji mereka di tolak. Aksi mereka berempat pun dipergoki oleh Suzanna. Alhasil sebuah kejadian tak mengenakan menimpa Suzanna membuat dirinya harus menjadi arwah penasaran yang nantinya akan menghantui 4 orang tersebut.
Judul Bernafas Dalam Kubur seperti gabungan 2 film Suzanna terdahulu yaitu Bernafas Dalam Lumpur (1970) dan Beranak Dalam Kubur (1971) namun nyatanya elemen-elemen plot Suzanna : Bernafas Dalam Kubur lebih banyak terinspirasi dari film Sundel Bolong (1981). Anggy Umbara yang sebelumnya menduduki posisi sutradara tiba-tiba ditengah jalan diambil alih oleh Rocky Soraya entah karena apa. Mungkin itu jugalah yang membuat adegan makan sate tidak dimasukkan kedalam frame.
Di 15 menit awal film ini memang diisi oleh drama. Tujuannya guna menjadi pondasi cerita dan lebih memperdalam karakter. Penonton jadi mengerti alasan mengapa hantu Suzanna masih berpura-pura menjadi Suzanna manusia. Itu terbukti ketika Jonal berkata : "Jika kau membunuhku maka kau akan kembali ke alam sana dan tak dapat bertemu lagi dengan suami mu" hantu Suzanna yang mendengar itupun terdiam. Terdapat hasrat yang kuat untuk terus bersama sang suami.
Pergerakan kamera dalam film ini cukup apik. Lihat aja adegan ketika 4 karyawan Satria merampok rumah Suzanna. Juga sinematografinya yang membuat adegan penguburan jasad Suzanna terasa lebih segar. Jangan lupakan juga tata rias film ini, yang menyulap Luna Maya menjadi Suzanna hampir 100 persen mirip. Akting Luna Maya juga sangat dan mungkin yang terbaik. Hampir tidak ada bedanya ketika Luna Maya sedang berakting diam dengan Suzanna asli.
Untuk urusan horor film ini memang tak lebih baik dari film-film Suzanna sebelumnya. Hal itu sudah sewajarnya, dikarena Suzanna sendiri memiliki aura magis yang begitu kuat, hanya dengan melihat matanya saja penonton sudah merasa ketakutan. Namun Suzanna : Bernafas Dalam Kubur bukan berarti gagal dalam membuat penonton takut. Masih terdapat kengerian di beberapa adegan dan kadar gore yang sedikit meningkat dari film-film Suzanna.
Terakhir, ketika saya sedang asyik-asyiknya menonton. Seorang anak kecil yang duduk dibangku sebelah saya dengan polosnya bertanya kepada sang ayah. "Yah, kenapa dia jadi hantu. bukannya dia rajin sholat?". Alih-alih mendapat jawaban, sang ayah malah terdiam. Mungkin pertanyaan itu jugalah yang ingin saya tanyakan kepada sang pembuat cerita.




0 komentar