Adegan awal film ini memperlihatkan beberapa simbol-simbol aneh di dalam sesuatu yang berbentuk seperti telur melayang-layang layaknya di luar angakasa. Lalu selanjutnya kita menyaksikan adegan seorang pria terbangun dari tidurnya dan memutarkan musik funk di Turntable lalu mengangguk-angguk seperti kerasukan jiwa.
Kebanyakan film musical mengambil konsep pertunjukkan Opera atau Broadway Musical. Jarang sekali ada yang mengambil konsep musik anak jalanan. Sekalipun ada, kualitas filmnya tidak terlalu bagus. Melihat adegan awal film ini di tambah lagi trailernya membuat ekspektasiku jadi tinggi. Berharap mendapatkan tontonan musical ala funk, film ini justru membuat kepalaku pusing.
Bercerita tentang tiga anak muda yang menyukai musik funk, Enn (Alex Sharp), John (Ethan Lawrence) dan Vic (AJ Lewis). Mereka bertiga lalu mendatangi klub musik funk di Croydon dan menyaksikan pertunjukan Band gila bernama Dyschords. Setelah pulang dari Croydon, di perjalanan Enn mendengarkan alunan musik aneh. Mereka lalu mengikuti arah musik tersebut dan sampai pada sebuah tempat.
Di tempat itu mereka bertiga di sambut oleh seorang perempuan yang memakai kostum aneh bernama Stella. Stella lalu mengijinkan mereka bertiga masuk ke dalam. Selama berada di dalam, mereka melihat hal-hal aneh dan absurd. Enn pun bertemu dengan seorang perempuan bernama Zan (Elle Fanning) yang tertarik akan musik funk dan meminta Enn untuk mengajaknya ke pesta.
Dari situ segala ekspektasiku tentang film musical ala funk lenyap sudah. How to Talk to Girl at Parties, bak novel Supernova karya Dee Lestari. Ceritanya mengarah pada sebuah kunjungan makhluk asing di bumi dan cerita romansa antara makhluk asing tersebut dengan manusia. Makhluk asing tersebut tidak mengerikan seperti dalam film Predator namun berbentuk layakya manusia.
Mereka mempunyai tradisi yang aneh, ada yang terus berteriak, menari-nari dan ada juga yang bisa menumbuhkan diri. Simbol-simbol di awal adegan merupakan penjelasan tentang tiap-tiap koloni makhluk asing tersebut. Mereka adalah Semangat, Pikiran, Suara, Keinginan, Seks, & Kekuatan. Namun seiring dengan tumbuhnya benih asmara antara Zan dan Enn, koloni tersebut bertambah satu lagi yaitu Hati.
How to Talk to Girls at Parties bukanlah sajian nan murahan yang asal sekedar absurd. Dengan adanya Nicole Kidman di dalam film ini jelas menunjukan bahwa film ini mempunyai nilai lain. Namun entah terletak di kesalahan naskah atau kurangnya eksekusi Sutradara, film ini jadi sajian garing nan membosankan.
Beberapa adegan cukup menghibur ketika filmnya masuk ke ranah musik Funk. Aksi gila dari vocalis Dyschords merupakan yang terbaik dari film ini. Sang vocalis tampil nyentrik dengan busana seperti banci dikejar Satpol PP. Ia berteriak, berjoget, meludah bahkan melompat dari atas panggung dan menciumi orang yang bakal mengontraknya.
Tak ketinggalan juga aksi gila dari Elle Fanning yang bergaya Funk dan bernyanyi seperti vocalis Evanescence. Kepandaian Elle Fanning memainkan ekspresi datar dan tatapan ingin ingin tau bahkan sampai melakukan adegan ciuman gila seperti : menciumi satu persatu orang yang ada di Croydon, Menciumi hidung Enn, menjilati kuping Enn dan adegan ciuman sambil muntah.
Menjelang klimkas, film ini kehilangan daya tarik dan seperti kebingungan untuk mengakhiri film. Karakter Enn yang merupakan karakter utama dalam film ini juga belum mampu mengambil simpati penonton. Akting Nicole Kidman sudah tidak perlu di ragukan lagi, namun lemahnya penulisan naskah membuat dialognya terasa aneh. Mungkin itu karena tema filmnya yang tentang makhluk asing.
Terakhir, How to Talk to Girls at Parties merupakan film fiksi ilmiah romansa komedi yang masih dapat memberikan hiburan terlepas dari semua keanehan yang ada dalam filmnya.





0 komentar