Analisa Film 'Inception'
Bab 1
Pendahuluan
A.
Latar Belakangan
Penyunting gambar dituntut memiliki
kesadaran atau indera penceritaan yang kuat, sehingga muncul ide kreatif dalam
menyusun shot shot-nya. Ide kreatif yang dimaksud adalah harus memahami
struktur penceritaan yang akan dikontruksi. Jadi, penyusunan shot mampu mengesinambungkan
gambar satu dengan yang lain dan menciptakan emosi penonton.
Inception merupakan film dengan
genre sci-fi atau fiksi Ilmiah yang dipadu dengan action. Cerita utama
yang diangkat di film ini adalah mengenai perjalanan ke dalam sebuah mimpi
dimana mimpi memiliki tingkatan yang bisa terus ditembus hingga ke bagian
paling bawah pada alam bawah sadar. Keunikan dari film ini terdapat pada
penceritaan yang membutuhkan perhatian pada detail-detail terkecil untuk mampu
memahami alur dan motif-motif yang disampaikan. Motif-motif tersebut muncul
tidak tidak langsung dalam bentuk pola dan simbol-simbol sehingga dibutuhkan
interprestasi yang lebih jauh dalam memahami beberapa hal pada film ini.
Termasuk pada bagian editing yang
juga menggunakan pola-pola serupa untuk menimbulkan pengalaman yang lebih jauh
kepada penonton. Editing dalam film Inception memiliki pengaruh yang sangat
besar dari suksesnya film ini sendiri dalam menciptakan dramatik dan pemikiran
mendalam pada setiap adegannya. Secara garis besar, dari segi editing, film ini
mampu menciptakan ritme tegang pada bagian-bagian aksi dan ritme dramatik pada
bagian ceritanya sehingga porsinya dibangun dengan pas dan sesuai, cerita dapat
mengalir dan dapat dipahami melalui kesatuan satu shot dengan shot yang
lainnya.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
dengan latar belakang diatas, penulis menyabarkan beberapa rumusan masalah di
bawah ini
1. Konsep cerita, alur, konflik dan pesan moral
dari film ‘The Inception
2. Menganalisa teknik editing film
‘The Inception’ baik dari segi software, aspek editingnya, durasi hingga format
audio visual.
C.
Tujuan Penulisan
1. Untuk
mengetahui teknik editing yang dipakai film ‘The Inception’ dalam menghadirkan
gambar yang bagus dan juga kesan aksi yang luar biasa.
2. Untuk
melihat seberapa megahnya sang penulis naskah dan sutradara dalam mengolah film
‘The Inception’ menjadi film aksi, fiksi dan drama yang begitu hebat.
D.
Kerangka Teori
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam bukunya Anton Mabruri, Editing atau
penyuntingan adalah proses menyusun, memotong dan memadukan kembali rekaman
menjadi sebuah cerita yang utuh dan lengkap. Penyuntingan gambar memiliki
manfaat psikologis untuk mencapai berbagai efek, untuk membantu bercerita,
memprovokasi ide, atau perasaan, atau untuk menarik perhatian sebagai
elemen-elemen bentuk sinematik. Oleh karena itu, seorang editor (orang yang
bertugas menyunting gambar) harus membuat keputusan sulit mengenai shot atau
gambar mana yang digunakan dan bagaimana menggunakannya.
Tugas yang
paling utama dari seorang penyunting seperti diungkapkan oleh Marselli Soemarno
adalah menyusun hasil syuting hingga membentuk pengertian cerita. Editor harus
memahami betul dalam mengatur shot-shot-nya agar mampu menuturkan naratif
secara jelas dan koheren sehingga tidak membingungkan penonton. Supaya berhasil
membangun bagian-bagian tersebut hingga efektif, penyunting harus berhasil
melakukan setiap fungsi editing.
Asrul Sani
menyebutkan dalam buku terjemahannya yaitu Cara Menilai Sebuah Film bahwa
terdapat beberapa fungsi editing yang harus dipahami oleh seorang penyunting,
yaitu selektivitas (pemilihan), keterpaduan (coherence) dan kesinambungan
(continuity), transisi, irama-irama, pemekaran waktu, pemerasan waktu, dan
penjajaran kreatif. 8 Berikut ini penjelasannya:
1. Selektivitas (Pemilihan)
Fungsi
editing yang paling dasar adalah memilih shot yang terbaik di antara sejumlah
pengambilan gambar yang dibuat oleh sutradara, memilih bagian yang memiliki
efek visual dan suara yang paling kuat atau efektif, dan mengenyampingkan bahan
yang tidak perlu.
2. Keterpaduan (coherence) dan kesinambungan
(continuity)
Penyunting
harus mempertimbangkan dengan sangat teliti efek estetis, dramatis dan
psikologis dari penyambungan gambar satu ke gambar yang lain, dan dari suara
satu ke suara yang lain. Hal tersebut dilakukan agar potongan-potongan pada
film tersebut menjadi sesuatu yang padu dan utuh.
3. Transisi
Transisi berfungsi untuk memperoleh sambungan yang lancar dan jelas antara
bagian-bagian film yang penting, misalnya dalam peralihan antara dua scene yang
berlangsung di tempat-tempat dan waktu yang berbeda.
4. Irama-irama, tempo, dan pengendali waktu
Penyunting harus
dapat menciptakan pola irama yang jelas dan tidak memutuskan arus gambar serta
lancarnya suara, tetapi justru memberikan suatu keunikan pada irama.
5. Pemekaran waktu
Penyunting yang terampil juga dapat memekarkan konsep waktu dengan memasukkan
sejumlah detail saling berhubungan antar sekuen. Shot-shot yang disusun untuk
mendukung sebuah adegan dengan ditampilkan close up dari suatu objek atau
establish shot yang masih terkait dengan sekuen.
6. Pemerasan waktu
Penyunting
dapat memperpendek kejadian yang berlangsung selama satu jam menjadi beberapa
menit. Tujuannya adalah untuk menjelaskan kejadian secara singkat tanpa
menghilangkan inti dari kejadian tersebut, kalau kejadian berlangsung selama
satu jam berturut-turut dan ditampilkan keseluruhan, maka terkesan membosankan
bagi penonton.
7. Penjajaran kreatif
Penyunting
juga berkomunikasi secara kreatif dengan sutradara ketika produksi sebuah film.
Penyunting melalui penjajaran gambar-gambar dan suara, seringkali mengutarakan idenya
terhadap materi shot yang sudah ada. Fungsi editing di atas hubungannya dengan
shot, karena shot merupakan elemen yang paling utama dalam proses editing.
Pembahasan mengenai teknik editing, sebelumnya akan dipaparkan terlebih dahulu
mengenai shot.
1. Shot
Naratama,
dalam bahasannya mengenai shot menjelaskan bahwa shot merupakan satu bagian
dari rangkaian gambar yang begitu panjang, hanya direkam dengan satu take saja.
Peter ward dalam bukunya Picture Composition
mengatakan “The shot replaced the scene to become the unit of storytelling”.
Shot sangat berkaitan dengan proses editing.
Penyusunan
shot pada proses editing harus menyesuaikan dengan informasi yang akan disampaikan dalam cerita film. Type of Shot merupakan bentuk penciptaan frame
berdasarkan ukuran yang menceritakan suasana atau suatu peristiwa dalam alur
cerita. Pemakaian Type of Shot ini dapat menghasilkan suatu rekaman peristiwa
dengan berbagai macam karakter gambar terhadap pemeranan tokoh, karena
kebanyakan film yang dibuat berhubungan dengan manusia maka acuan type of shot
adalah wajah manusia.
2. Hubungan
Antar Shot
Marselli Sumarno dalam bukunya Dasar-dasar Apresiasi Film mengatakan bahwa
setiap shot memiliki suatu nilai yang baru memperoleh pemenuhan maknanya di
dalam shot sebelum dan sesudahnya.Kusen Dony (Dosen IKJ) juga menambahkan
hubungan antar shot merupakan dimensi-dimensi dari sebuah editing, dan inti
dimensi editing adalah adanya keterhubungan apabila sebuah shot disambung
dengan shot lain, maka pasti kedua shot tersebut memiliki keterkaitan, baik
secara grafis (gambar), ritmis (ritme), spasial (ruang), dan temporal (waktu).
Umumnya penyambungan shot-shot dalam film-film naratif (cerita) dan
dokumenter memiliki keempat dimensi/hubungan tersebut, sementara dalam
film-film abstrak atau film-film non-figuratif (tak ada tokohnya dan tak
bercerita) hanya memiliki dimensi grafis dan ritmis saja, misalnya iklan dan
video klip. Anton Mabruri dalam bukunya berjudul Teori Dasar Editing Produksi
Program Acara Televisi & Film menjabarkan beberapa dimensi editing (aspek
editing) yang menjelaskan hubungan antar shot satu dengan shot lain,
diantaranya:
a. Dimensi
Grafis
Dimensi
grafis berkaitan dengan kesamaan gambar. Pada aspek grafis dapat disunting
dengan meningkatkan kesinambungan yang halus atau bahkan kekontrasan mendadak. Anton
Mabruri mengatakan bahwa seorang editor yang menyadari aspek grafis diharapkan
mampu memanfaatkan kemungkinan cutting point antar shot.13 Setiap shot (gambar)
pasti mempunyai nilai grafis, unsur-unsurnya antara lain garis,
bentuk,
cahaya, warna, dan gerak (bisa gerak
subjek, gerak kamera ataupun kombinasi antara subjek dan kamera).
Setiap
pembuat film juga cenderung akan mengolah grafis ini secara berkesinambungan
(graphical continuity) ataupun terpadu (graphical match) bahkan bila
unsur-unsur tersebut saling berlawanan (graphic contrast). Jadi, kontinyuitas
grafis dapat dibentuk oleh unsur mise en scene dan sinematografi.
b. Dimensi
Ritmis
Menurut
Himawan Pratista, durasi shot sangat berhubungan dengan panjang pendeknya waktu
shot sebelum dan setelahnya. Sebuah shot yang disambung dengan shot lain pasti
akan membentuk sebuah hubungan ritmis (ritme). Pembuat film cenderung akan
memotong sebuah shot karena sebuah gerak subjek atau kamera berhenti atau
ketika sebuah suara tertentu yang sedang berbunyi berhenti, kecuali pada
beberapa kasus pembuat film memotong berdasarkan suasana hatinya (mood).
c. Dimensi
Spasial (Ruang)
Anton
Mabruri mengungkapkan istilah lain dari spasial adalah ruang. Media film adalah
media paling efektif dalam menciptakan ruang sesuai dengan keinginan yang
dibentuk oleh pembuat filmnya. Editing bisa dihubungkan “ruang dalam realita”
dengan “ruang dalam film” (ruang buatan/artifisial), antara yang interior dan eksterior.
Kusen Dony memberikan contoh pada film Hitchcock “The Birds”. Ketersambungan
antara dua shot atau lebih bisa menciptakan ruang baru yang ada di dalam kepala
penonton itu disebut sebagai koeksistensi spasial (ruang yang berdampingan).
Pembuat film untuk dapat mewujudkannya harus menguasai dengan benar mise en
scene (elemen visual), angle camera dan type of shot.
d. Dimensi
Temporal (Waktu)
Editing
menurut Anton Mabruri biasanya memberikan kontribusi pada manipulasi waktu penceritaan
dari setiap plotnya. Waktu dalam film merupakan salah satu aspek yang tersulit,
sebab banyak pembuat film yang seringkali luput dalam mengelola waktu. Pembuat
film seharusnya dapat memperkirakan waktu kejadian itu berlangsung atau dalam
peristilahan film disebut dengan Story Time / Real Time (durasi peristiwa yang
terjadi dalam film).
3. Jenis Kesinambungan Editing
(Continuity Editing)
Continuity
editing merupakan konsep yang paling banyak digunakan oleh para pembuat film,
tujuannya adalah membuat penonton merasa nyaman atau tidak terganggu oleh
ketidakjelasan ruang maupun waktunya dan bagaimana agar ada kesinambungan atau
matching antar shot. Menurut Marselli Soemarno dalam bukunya berjudul Dasar-dasar Apresiasi Film bahwa shot satu
dan yang lain dirangkai dengan memperhatikan asas kesinambungan, seperti
ketentuan-ketentuan tentang persambungan antara shot dan shot, adegan dengan adegan,
dan babak dengan babak.
Kesinambungan
antar shot inilah yang ditemukan oleh para leluhur film editing, misalnya Edwin
S.Porter dan Pudvokin yang melanjutkan kiprah G.W. Griffith sebelumnya.
Griffith menemukan formula agar terjadi kesinambungan antar shot. Roy Thompson
dan Christopher Bowen (2009) juga menambahkan bahwa seorang pembuat film
membutuhkan sebuah konsepsi untuk dapat menyatukan shot-shot menjadi sebuah
peristiwa, hingga menjadi film yang utuh. Oleh karena itu, seni film tidak
hanya bergantung pada materi shot saja tetapi juga kesinambungan dari beberapa
shot yang akan dirangkai. Teori tersebut dinamakan three match cut, antara
lain:
Himawan
Pratista dalam bukunya berjudul Memahami Film mengatakan bahwa continuity
editing adalah sebuah sistem penyuntingan gambar untuk memastikan kesinambungan
tercapainya suatu rangkaian aksi cerita dalam sebuah adegan. Seormardjono
seorang editor film, mengatakan bahwa penyuntingan film di Indonesia pada
umumnya masih menggunakan jenis editing ini.
Penggunaan
jenis continuity editing, jalan cerita dalam film jadi mudah diikuti dan
dipahami oleh penonton. Sambungan antar shot dalam sebuah adegan didasarkan
atas kesinambungan gambar. Prinsip penyuntingan ini digunakan agar hubungan
kontinyuitas naratif antar shot tetap terjaga. Menurut Himawan Pratista bahwa
terdapat beberapa teknik dan aturan yang digunakan untuk mencapai editing
continuity, yaitu aturan 180o, shot / reverse shot, eyeline match, establishing
/ reestablishing shot, match on action, point of view cutting, serta cut in.
·
Aturan 180o
Dalam bukunya Teori Dasar Editing Produksi Program Acara Televisi dan Film,
Anton Mabruri mengatakan Aturan 180o merupakan aturan dengan posisi kamera
tidak boleh melewati garis aksi ketika transisi shot (cut) dilakukan. Garis
180o merupakan garis imajiner persis dari sebuah aksi berlangsung yang biasanya
searah dengan arah karakter atau objek menghadap.
Tujuan dari aturan ini adalah untuk memudahkan serta menghindari kesalahan
mendasar tanpa perlu memikirkan lebih jauh tentang posisi kamera, pergerakan
karakter, setting, dan lainnya ketika transisi shot dilakukan. Adapun fungsi
penggunaan aturan 180o menurut Himawan Pratista dalam sebuah adegan, sebagai
berikut :
- Memastikan posisi objek / karakter
dalam frame selalu konsisten
- Memastikan garis mata (eyelines)
selalu konsisten
- Memastikan screen directing selalu konsisten – screen directing adalah
hubungan arah ke kanan dan ke kiri dalam sebuah adegan yang ditentukan oleh posisi,
pergerakan, serta arah pandang karakter.
·
Shot / Reverse Shot
Teknik shot / reverse-shot menurut Anton Mabruri merupakan gabungan dua
shot atau lebih yang membedakan para karakternya dan biasanya digunakan pada
adegan dialog. Syarat ini untuk menunjukkan bahwa setiap apa yang dilihat oleh
tokoh haruslah ditampakkan di dalam urutan shot-nya. Apapun bentuknya harus diperlihatkan, baik
orang lain maupun benda. Selain itu, kemunculannya haruslah berimbang, artinya
tidak boleh satu shot penting hanya keluar satu atau dua kali saja.
·
Eyeline Match
Menurut Peter Ward (2000) dalam bukunya berjudul TV Technical Operations. Teknik
ini biasanya digunakan dalam setiap adegan dalam film, misalnya pada shot
pertama memperlihatkan seorang karakter yang melihat suatu objek di luar frame,
kemudian pada shot kedua memperlihatkan objek yang dilihatnya.
·
Establishing / Reestablishing shot
Menurut Himawan, teknik ini dapat memperlihatkan latar secara luas,
sebagian, hingga keseluruhan ruang bersama seluruh isinya, contoh pada adegan
pesta ulang tahun di gedung serba guna. Umumnya diawali dengan establishing
shot yang memperlihatkan keseluruhan isi gedung tersebut, termasuk posisi
tokoh-tokoh utama, pendukung, dan objek penting lain. Selanjutnya
memperlihatkan orang yang sedang bernyanyi. Sebelum adegan tersebut diakhiri,
seringkali establishing shot kembali lagi digunakan. Shot inilah yang dimaksud
reestablishing shot.
·
Match on Action
Menurut Anton Mabruri, Match on Action merupakan
perpindahan shot yang diambil dari arah berbeda yang memperlihatkan sebuah aksi
tidak terputus dalam sebuah momen pergerakan yang sama.Teknik match on action
ditunjukkan dengan karakter yang bergerak ke arah kanan frame dan pada shot
berikutnya masuk ke dalam frame dari arah kiri. Akibat pergerakan objek atau
karakter yang sangat kuat, match on action sangat dimungkinkan untuk melanggar
aturan 180o.
·
Point of View (POV) Cutting
POV cutting mirip dengan eyeline match namun pada shot
kedua memperlihatkan objek dari arah pandang sang karakter, misalnya tampak
seorang anak meneropong ke arah jauh pemandangan dan shot berikutnya
pemandangan yang di teropong tadi, kemudian shot berlanjut ke ekspresi wajah
anak tersebut. Hal itu sesuai dengan yang dikatakan Peter Ward mengenai teknik
ini yaitu, Someone on-screen looks out of one side of the frame. The following
shot reveals what the person is looking at.
·
Cut in & Cutaway
Anton Mabruri dalam bukunya Teori Dasar Editing
Produksi Program Acara Televisi dan Film mengungkapkan bahwa Cut in adalah
sebuah transisi langsung dari jarak shot yang jauh ke shot yang lebih dekat di
ruang yang sama. Hal ini dapat dilihat dari contoh sebuah shot memperlihatkan
dua anak yang satu duduk dan satunya berdiri memandangi anjing, kemudian adegan
kedua mengikatkan hingga adegan ketiga MCU, dan adegan keempat detail dari
pengikatan.
Sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Peter Ward bahwa go tighter on an
aspect of the main subject. Sebaliknya cut away kebalikan dari cut in, cut away
yaitu shot yang semakin menjauh dari shot sebelumnya. Peter Ward menambahkan
bahwa a cutaway literally means to cut away from the main subject, maksudnya
adalah penggabungan dua shot yang berbeda yang saling mendukung adegan
tersebut. Hal ini dapat dilihat dari contoh, bila adegan dua anak tadi sedang
mengikat anjing yang diperlihatkan Close up, maka shot berikutnya Long Shot
anjing telah berhasil diikat kemudian diajak jalan-jalan.
4. Bentuk Editing
Menurut
Anton Mabruri dalam bukunya berjudul Teori Dasar Editing Produksi Program Acara
Televisi dan Film, transisi shot dalam film umumnya dilakukan dalam empat
bentuk, yaitu cut, fade in/out, dissolve, dan wipe. Cut merupakan transisi shot
ke shot lainnya secara langsung. Fade out merupakan penggambaran akhir shot
secara perlahan atau cepat tenggelam dalam layar yang kemudian menjadi hitam,
putih, atau warna apapun yang dibutuhkan.
Sedangkan
fade in digunakan untuk membuka sebuah adegan (intensitas gambar bertambah
terang). Dissolve adalah peralihan dari sebuah gambar perlahan atau cepat
diikuti pemunculan gambar berikutnya mulai terlihat sejenak dua gambar menyatu
lalu gambar pertama menghilang berganti gambar berikutnya secara utuh. Wipe
merupakan transisi shot dengan frame sebuah shot bergeser ke arah kiri, kanan,
atas, dan bawah hingga berganti menjadi sebuah shot baru.
5. Metode Editing
Metode
Editing menurut Anton Mabruri adalah
sebuah cara atau pendekatan dari seorang penyunting dalam melakukan
penyambungan dan penyusunan shot-shot-nya. Hal ini banyak berkaitan dengan
aktivitas fisik dan pemikiran penyunting. Seiring dengan berkembangnya industri
film, maka terdapat variasi editing yang bisa digunakan oleh seorang
penyunting, antara lain:
1. Parallel
Editing:
Penyambungan
secara berselang-seling dua peristiwa atau lebih yang terjadi di ruang yang
berbeda namun penonton merasa bahwa waktu terjadinya bersamaan.
2. Cross
Cutting:
Penyambungan
secara berselang-seling dua peristiwa atau lebih dengan ruang dan waktu terjadinya berbeda. Umumnya dihubungkan
oleh tema.
3.
Continuity Cutting :
Merupakan
penyambungan yang paling umum digunakan sebab tidak ada aturan yang mengikat
kecuali match on action / match on cut, maksudnya penyambungan dibuat
sedemikian
rupa agar penonton merasa nyaman dan tidak merasakan interupsi dari cutting
tersebut.
4. Match
cutting :
Pemotongan
pada editing yang dilakukan untuk mengikuti pola kesinambungan shot sebelumnya
dengan shot berikutnya.
5. Montage
Editing :
Roy Thompson
dan Christopher Bowen mengatakan, The Montage Theory of Editing, which is a
belief that two unrelated images can be edited together to generate a new
thought, idea, or emotion in the mind of the viewer. Deskripsi tersebut
menjelaskan bahwa penyambungan berselang-seling dua gambar atau lebih secara
bersama-sama untuk menciptakan sesuatu, ide, atau emosi baru di pikiran
penonton.
Bab II
ISI
A. Arah Cerita
Inception adalah
film fiksi ilmiah berbalut action-thriller, bersetting di dunia entah kapan
ketika ada teknologi dream-sharing, yaitu beberapa orang bisa
berpartisipasi dalam alam mimpi yang sama. Dom Cobb (Leonardo DiCaprio) adalah
ahli manipulasi dream-sharing itu, dan ia menggunakannya untuk mencuri
ide dari otak seseorang (atas perintah klien dengan imbalan tentu saja) lewat
alam mimpi: dia sih bisa masuk mimpi secara sadar, tapi subjek atau “korban”nya
dibuat percaya seakan mimpi itu nyata dan tidak sadar idenya sedang dicuri,
namun ketika bangun si korban pun akan mengira itu hanya mimpi. Pencurian ide
itu dikenal dengan sebutan “extraction”, dan Cobb mengklaim dirinya extractor
terbaik. Benang merah utama film ini sederhana sekali sebenarnya, Cobb yang
diminta bukan untuk mencuri ide, tapi menanamkan ide, inception. Saito
(Ken Watanabe) ingin Cobb—beserta timnya—menanamkan ide pada benak pewaris
usaha pesaingnya, Robert Fischer Jr (Cillian Murphy) agar terinspirasi untuk
menghentikan ekspansi perusahaan ayahnya.
1. Plot
Dominick
"Dom" Cobb (Leonardo DiCaprio) dan Arthur (Joseph Gordon-Levitt)
adalah "ekstraktor", yang melakukan spionase perusahaan menggunakan
teknologi militer eksperimental untuk menyusup ke alam bawah sadar target
mereka dan mendapatkan informasi berharga melalui dunia mimpi. Target terakhir
mereka, pengusaha dari Jepang Mr. Saito (Ken Watanabe), mengungkapkan bahwa ia
mengatur misi mereka untuk menguji Dom atas pekerjaan yang tampaknya tidak
mungkin: menanamkan ide di alam bawah sadar seseorang atau melakukan
"permulaan".
Untuk
membubarkan perusahaan energi yang dipimpin oleh pengusaha yang sedang sakit
keras, Maurice Fischer (Pete Postlethwaite), Saito ingin Dom meyakinkan putra
dan pewaris tunggal perusahaan Maurice, Robert (Cillian Murphy), untuk
membubarkan perusahaan ayahnya. Sebagai gantinya, Saito berjanji untuk
menggunakan pengaruhnya untuk membersihkan nama Dom dari tuduhan pembunuhan,
membiarkan Dom kembali ke rumah untuk anak-anaknya.
Dom menerima
tawaran tersebut dan membuat timnya: Arthur; Eames (Tom Hardy), penipu dan
pemalsu identitas; Yusuf (Dileep Rao), seorang ahli kimia yang membuat obat
penenang yang kuat untuk strategi "mimpi dalam mimpi" yang stabil;
dan Ariadne (Ellen Page), seorang mahasiswa arsitektur yang bertugas merancang
labirin di dalam mimpi, direkrut dengan bantuan ayah mertua Dom, Profesor
Stephen Miles (Michael Caine). Ketika berbagi mimpi dengan Dom, Ariadne
mempelajari alam bawah sadar Dom yang menempatkan proyeksi invasif dari
mendiang istri Dom, Mal (Marion Cotillard).
2. Konflik
Ketika
Maurice meninggal di Sydney, Robert membawa jenazah ayahnya dalam penerbangan
sepuluh jam kembali ke Los Angeles, di mana tim Dom (termasuk Saito, yang ingin
menguji keberhasilan mereka) menggunakan hal ini sebagai kesempatan untuk
menidurkan diri dan membawa Fischer ke mimpi yang sama. Pada setiap level
mimpi, orang yang mengatur mimpi tetap berada di belakang untuk menyiapkan
"tendangan" yang akan digunakan untuk membangunkan anggota tim
lainnya yang tidur dari level mimpi yang lebih dalam. Agar sukses, tendangan
ini harus terjadi bersamaan pada setiap level mimpi, sebuah fakta yang rumit
karena sifat waktu yang berjalan lebih cepat di setiap level yang berurutan.
Level pertama
adalah mimpi Yusuf tentang Los Angeles ketika hujan. Tim tersebut menculik
Robert, namun mereka diserang oleh proyeksi kereta api dan senjata dari alam
bawah sadar Robert, yang telah dilatih secara khusus untuk bertahan dari
serangan penyusup tersebut. Tim tersebut membawa Robert dan Saito yang terluka
ke sebuah gudang, di mana Dom mengungkapkan bahwa saat sekarat di dalam
mimpinya biasanya membangunkan Saito, namun obat penenang yang kuat untuk
menstabilkan mimpi multi-level akan mengirim pemimpi yang sekarat ke dalam
"limbo", sebuah dunia bawah sadar yang tak terbatas di mana sangat
sulit untuk keluar dari sana, jika memungkinkan, dan seorang pemimpi berisiko
lupa bahwa mereka berada dalam mimpi. Terlepas dari kendala ini, tim
melanjutkan misinya.
Eames
menyamar sebagai ayah baptis Robert, Peter Browning (Tom Berenger), dan
menyarankan Robert mempertimbangkan kembali kehendak ayahnya. Yusuf mengendarai
mobil ketika anggota tim lainnya terbius ke level kedua dan mereka dikejar oleh
proyeksi Robert. Di level kedua, sebuah hotel yang dimimpikan oleh Arthur, Dom
membujuk Robert bahwa ia telah diculik oleh Peter Browning dan Dom adalah
pelindung bawah sadarnya. Dom membujuknya untuk turun ke level lain untuk
mengeksplorasi alam bawah sadar Peter Browning (kenyataannya, ini adalah tipu
muslihat untuk memasuki alam bawah sadar Robert).
Level ketiga
adalah rumah sakit besar di sebuah pegunungan bersalju yang dimimpikan oleh
Eames. Tim harus menyusupi rumah sakit tersebut dan menahan para penjaga saat
Dom membawa Robert ke alam bawah sadarnya. Yusuf, di bawah pengejaran proyeksi
Robert di level pertama, pergi ke jembatan dan menjatuhkan mobilnya, memulai
tendangannya terlalu cepat. Hal ini menyebabkan longsoran salju di level Eames
dan gravitasi nol di level Arthur, memaksanya untuk melakukan improvisasi
tendangan baru yang dapat diiringi dengan mobil Yusuf yang jatuh ke air.
Proyeksi Mal muncul dan membunuh Robert. Dom membunuh Mal dan Saito meninggal
karena lukanya. Dom dan Ariadne masuk limbo untuk menyelamatkan Robert dan
Saito, sementara Eames melakukan tendangan dengan meledakkan rumah sakit dengan
bom.
Dom memberitahu
Ariadne bahwa ia dan Mal pergi ke limbo saat bereksperimen dengan teknologi
berbagi mimpinya. Tertidur selama beberapa jam di dunia nyata, mereka
menghabiskan lima puluh tahun dalam mimpi membangun dunia dari kenangan mereka
bersama. Ketika Mal menolak untuk kembali ke dunia nyata, Dom menggunakan
langkah permulaan yang tidak sempurna dengan mengaktifkan kembali totem Mal
(pemimpi menggunakan totem untuk membedakan mimpi dari kenyataan) dan
mengingatkan alam bawah sadar Mal bahwa dunia mereka tidak nyata. Namun, saat
terbangun, Mal masih percaya bahwa ia sedang bermimpi. Berusaha
"bangun" ke dunia nyata, Mal bunuh diri dan menjebak Dom atas
kematiannya untuk memaksa Dom melakukan hal yang sama. Menghadapi tuduhan
pembunuhan, Dom melarikan diri dari Amerika Serikat, meninggalkan anak-anaknya
dalam pengawasan Profesor Stephen Miles.
Dengan
pengakuannya, Dom berdamai dengan rasa bersalahnya atas kematian Mal. Ariadne
membunuh proyeksi Dom, Mal, dan membangunkan Robert dengan sebuah tendangan.
Dihidupkan kembali ke rumah sakit di pegunungan, Robert masuk ke sebuah ruangan
untuk melihat dan menerima ide yang ditanam: sebuah proyeksi dari ayahnya yang
sekarat, yang memberitahunya untuk menjadi diri sendiri. Sementara Dom tetap
berada di limbo untuk mencari Saito, anggota tim lainnya menuju ke tendangan
yang disinkronkan kembali ke level pertama. Dom akhirnya menemukan Saito yang
sudah tua di limbo dan mengingatkannya akan kesepakatan mereka. Semua pemimpi
terbangun di pesawat dan Saito menelepon.
Setibanya di
bandara Los Angeles, Dom melewati pos pemeriksaan imigrasi Amerika Serikat dan
Profesor Stephen Miles menemaninya ke rumahnya. Menggunakan totem Dom, sebuah gasing
yang berputar tanpa batas waktu di dunia mimpi namun jatuh di dunia nyata, Dom
melakukan tes untuk membuktikan bahwa ia memang berada di dunia nyata, namun ia
mengabaikan hasilnya dan menemui anak-anaknya di kebun.
3. Konsep
Inception memang film
yang brilian dan Christopher Nolan
adalah sutradara jenius. Dua pernyataan itu memang tak bisa disangkal namun
bukan berarti semua penonton Inception
paham benar ide cerita yang ditawarkan sutradara ini. Walaupun Nolan sudah membuat tutorial di awal
cerita namun konsep penyajian film ini sendiri kadang masih membingungkan buat
beberapa penonton. Karena itu tak ada salahnya kalau kita coba untuk meneliti
kembali konsep yang ditawarkan Nolan
lewat Inception. Semoga ini bisa
menjawab sebagian pertanyaan kita tentang film ini.
1. Mimpi
Adalah ‘hasil karya’ alam bawah
sadar manusia. Mimpi bukanlah sebuah kenyataan dan karena itu hal-hal yang tak
mungkin terjadi di alam nyata seperti paradox tangga yang tak berujung bisa
saja terjadi. Mimpi memiliki sebuah dunia sendiri yang dibentuk oleh alam bawah
sadar orang yang sedang bermimpi (Dreamer).
Selain memungkinkan terjadinya hal-hal yang tak mungkin, alam mimpi juga tidak
memiliki ujung yang jelas karena itu sering kali kita tidak tahu persis
bagaimana kita bisa sampai pada situasi di alam mimpi tersebut.
2. Konsep
waktu di alam mimpi
Berbeda dengan alam nyata, waktu di
alam mimpi bergerak lebih cepat. Karena itu mimpi yang rasanya berjalan
berjam-jam bisa saja hanya berlangsung dalam hitungan menit di alam nyata.
Perbedaan tingkatan mimpi juga berpengaruh pada pergerakan waktu. Semakin dalam
maka waktu akan bergerak semakin cepat.
3. Tingkatan
mimpi
Seperti sebuah gedung, mimpi
memiliki tingkatan. Bila alam nyata dianggap sebagai lantai pertama, maka alam
mimpi adalah tingkatan lantai yang ada di bawahnya. Bagian paling bawah dari
tingkatan ini disebut Limbo.
4. Limbo
Bukanlah alam mimpi pribadi namun
sebuah alam mimpi yang bisa didatangi oleh siapa saja. Di dalam Limbo tidak ada
apa-apa kecuali apa yang telah dibangun oleh orang yang pernah masuk ke Limbo. Orang yang memasuki Limbo akan kehilangan kewarasan. Ia
tak akan bisa membedakan antara alam nyata dan alam mimpi.
5. Mati/
Sakit
Bila orang yang bermimpi mati atau
terbunuh di alam mimpi, maka secara otomatis ia akan terbangun karena mati
adalah sebuah ‘keadaan’. Sebaliknya, bila orang yang bermimpi disakiti di alam
mimpi maka rasa sakit ini akan ikut dirasakan oleh fisik orang tersebut karena
rasa sakit adalah pengalaman psikologi bukan sebuah keadaan. Bekas luka tidak
akan terbawa tapi rasa sakit akan tetap dirasakan.
Dalam kasus mimpi yang dipaksakan
mencapai beberapa tingkatan dengan menggunakan bahan kimia maka tubuh di alam
nyata akan tetap tertidur meskipun Dreamer
mati di alam mimpi. Ini menyebabkan orang yang mati di alam mimpi akan
terlempar ke Limbo sampai batas
waktu yang sangat panjang. Bila ia berada di dalam Limbo dan terbunuh di sini
maka proses ini akan berputar kembali ke alam nyata.
6. Proyeksi
Orang yang sedang bermimpi (Dreamer) bisa membentuk proyeksi yang
berbentuk orang-orang lain di alam mimpi tadi. Proyeksi ini bertugas seperti
sel darah putih. Pada saat dreamer sadar kalau ia sedang berada di alam mimpi
orang lain maka proyeksi ini mulai berlaku agresif dan mencari orang yang
menjadi ‘tuan rumah’ dari mimpi ini dan berusaha menghancurkannya.
Dom Cobb adalah orang yang mampu
membuat mimpi ini sebagai sebuah aktivitas kolektif. Ia bisa masuk ke alam
mimpi orang lain atau membawa orang lain ke dalam alam mimpinya. Dibantu dengan
timnya, Cobb mampu memanipulasi alam bawah sadar seseorang dengan masuk ke
dalam mimpi orang tersebut, mirip dengan hipnotis.
Saat Cobb ditugaskan untuk
menanamkan ide ke dalam pikiran Fischer, Cobb memerlukan beberapa orang untuk
membantunya. Masing-masing orang ini memiliki tugas masing-masing.
7. Architect
Adalah orang yang bertugas merancang
alam mimpi untuk digunakan bersama-sama. Architect bisa merancang alam ini sesuai keinginannya dengan
syarat alam ini tidak boleh sama dengan alam nyata. Ini dimaksudkan untuk
menghindari kebingungan membedakan antara alam nyata dan alam mimpi. Architect inilah yang menjadi pemandu
di setiap level mimpi.
4.
Alur
Inception menyajikan alur cerita
yang terkesan rumit, dimana banyak dialog dan adegan yang harus diperhatikan dengan
baik tentunya, agar tidak ketinggalan setiap momen dalam film. Setiap adegan
berhubungan satu sama lain sehingga memberikan petunjuk pada adegan berikutnya
bahkan hingga akhir film. Mungkin memang ada beberapa film yang mengambil mimpi
sebagai latar belakang ceritanya, namun Inception berbeda, dimana penggambaran
tentang mimpi terasa lebih nyata.
Inception memberikan plot yang cukup
detail hampir tidak ada plot hole didalamnya, seandainya ada tidak begitu
dirasakan oleh penonton. Yang menjadi daya tarik lain dari Inception adalah
Nolan berhasil membawa penonton ke dalam alam mimpinya sehingga seakan-akan
penonton ikut terbawa berpikir dan merasakan apa yang ada di dalam film.
Pendalaman masing-masing karakter juga cukup baik, walaupun karakter Cobb
mendapatkan porsi lebih di film ini. Terlihat sekali bahwa alur cerita
sebenarnya berkisar padanya.
Sebagai suatu film, Inception menghadirkan segalanya. Mulai dari action
yang ciamik, dialog yang cukup cerdas serta didukung dengan special effect
yang menawan. Sebagian besar film dipenuhi dengan dialog-dialog yang cukup
cerdas, bisa dibilang dialog yang dihasilkan tidak mubazir. Pada bagian special
effect, Nolan menggambarkan dunia mimpi dengan sangat baik seperti hal-hal
yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata kini digambarkan di dalam dunia mimpi
dengan penampilan grafis yang memukau.
Alur cerita film ini
begitu rumit dan mengharuskan kita berkonsentrasi tinggi untuk bisa benar-benar
memahaminya. Meski rumit namun bukan berarti film ini sama sekali tak bisa
dipahami. Bukan Christopher Nolan kalau tak memberikan sesuatu yang mengejutkan
buat penonton. Plot yang unik membuat
film ini semakin menarik. Efeknya bagus dan menarik.
Aksi laganya pun tidak kalah menarik.
5. Pesan
Moral
Ketika mimpi
bisa dikendalikan, direncana, diintersep, "kenyataan" bisa menjadi
amat absurd seperti yg diucapkan Mal, " Hidup itu tidak
nyata". kesadaran yg dimanipulasi menghasilkan "realitas"
yg membingungkan, dimana batas mimpi dengan kenyataan tidak lagi jelas. Cobb
sang peniliti mimpi, menjadikan istrinya sendiri sebagai kelinci percobaan.
Tindakan memanipulasi kesadaran istrinya ternyata berakibat fatal.
Cobb yang
dibagian awal mencoba mengingatkan, bahwa " ide lebih berbahaya daripada
virus, ide-ide yang disusupkan bisa menginterferensi keyakinan". adalah
pihak yang pernah menjadi korban dari kemampuan yang dikembangkan. Nasehat
bijak tersebut menjadi peringatan terhadap bahaya yang muncul dari bayangan
& "mimpi" Cobb sendiri yang menari-nari dan menganggu perasaan
kemanapun ia pergi. Saat terjebak dalam dunia mimpi yang tidak lagi menarik
untuk dinikmati, Mal & Cobb melarikan diri dari realitas mimpi dengan cara
"bunuh diri" dengan menggilaskan kepala mereka diatas rel hingga
terlindas Kereta Api.
Dengan cara
sadis tersebut, mereka bisa kembali ke "alam nyata". Jalan pintas
tersebut menjadi pelik & membuahkan tragedi ketika akhirnya Mal "ingin
keluar dari dunia nyata" dengan cara yg sama. Cobb seterusnya, didera
penyesalan dan perasaan bersalah yang menjadi sumber interferensi kisah di film
tersebut. Muncul kereta maut yang nyelonong diawal misi menjelajahi
dunia mimpi Fischer, berulang kali munculnya mendiang Mal serta gambaran kedua
anaknya yg membuntuti dengan perasaan bersalah. Ke dunia mana sekarang Mal
pergi ? benarkah dunia nyata yang saat ini pun hanya sebuah mimpi? benarkah ia
berada di suatu “Limbo”.
B.
Teknik
Editing
1.
Aspek Editing
Film Inception lebih fokus pada
penggunaan Cutting. Cut digunakan hampir pada keseluruhan film Inception.
Kegunaannya selain untuk menyambungkan satu gambar ke gambar lain tanpa adanya
perubahan waktu diantaranya, cut pada film ini juga digunakan untuk memberikan
ritme dramatik dan fleksibelitas untuk menunjukkan bagaimana alur cerita dan
gaya penceritaan dari film ini sendiri.
Banyak adegan ini yang menunjukkan
perubahan scene dan waktu yang drastis tetapi tetap menggunakan cutting
dalam perpindahannya sehingga kita tidak diberikan waktu untuk menerka-nerka
apakah konteks cerita masih dalam waktu yang sama. Tetapi maksud dari
penggunaan cut yang demikian disinkronkan dengan tujuan dari cerita ini dan
genrenya yang merupakan fiksi ilmiah.
Penonton diberikan lebih banyak
waktu untuk memikirkan cerita dalam film ini dan memperhatikan detail-detail
untuk menyatukan maksud-maksud yang ingin disampaikan dalam setiap adegan. Ada
adegan montase yang diceritakan pada adegan tim Cobb tengah menyusun rencana
untuk bisa menginvansi mimpi Fischer tetapi tidak ada satu kalipun dissolve
yang digunakan untuk memberikan penegasan terhadap perubahan waktu pada setiap
scene, tetapi justru tetap dengan menggunakan cutting dalam setiap perpindahan
scene. Hal tersebut masih digabungkan dengan ilustrasi musik yang memungkinkan
kita ikut merasakan ketegangan dalam pemikiran para tokohnya.
Jika melihat dari bentuk ceritanya,
ada banyak sekali adegan flashback atau bahkan adegan-adegan ketika tokoh masuk
ke dalam sebuah mimpi. Tetapi bahkan tanpa adanya fade in fade out ataupun
transisi dalam perpindahan scene itu kita tetap bisa mengerti bahwa saat itu
adegan telah berpindah ke scene yang lain.
Itulah kenapa penonton haruslah
benar-benar mencermati film ini, karena ketika fokus kita teralihkan sedangkan
cerita tengah berpindah ke scene lain, dan bahwa poin penting dalam memahami
perubahan adegan itu adalah dengan mencermati adegan tepat pada shot sebelumnya
ketika adegan di cut ke shot lain, maka bisa dipastikan kita akan kehilangan
arah mengenai kemana dan dimana adegan tersebut terjadi.
Cut dalam film Inception juga
membantu penonton untuk memahami bahwa semua yang terjadi di setiap adegan
bukan hanya sebuah mimpi atau bayangan masa lalu seperti yang diungkapkan film
ini, tetapi film ini ingin mengajak penontonnya untuk merasakan semua
pengalaman secara nyata bukan seolah sedang berada di dalam film. Itu juga
ditunjang oleh penggunaan cut tanpa transisi dari satu adegan ketika masih di
masa kini kemudian berpindah ke masa lalu atau bahkan ke dalam mimpi.
Dengan penggunaan Cut kita jadi
merasa bahwa ketika adegan diceritakan sedang berada di dalam mimpi yang kita
rasakan bukan berada di dalam mimpi, tetapi tetap berada di dalam kehidupan
nyata.
Penggunaan transisi pada film ini
ditambahkan untuk menekankan unsur dramatiknya bukan untuk penegasan bahwa
waktu atau scene pada adegan telah berubah. Hal ini bisa dilihat dari tidak
munculnya transisi-transisi ketika tokoh tengah berpindah dari kondisi sadar ke
alam bawah sadar tetapi ada di bagian lain yang memunculkan bagian tersebut.
Jika dilihat secara sekilas, bisa dibilang hal itu menghilangkan kekonsistenan
dalam perpindahan scenenya, tetapi jika dilihat dari pola ceritanya, munculnya
transisi dikarenakan emosi yang dialami pemainnya.
Adegan ketika Cobb pada adegan ia
akan melakukan tidur di dalam kamar hotel pada mimpi tingkat kedua dan di
bagian itu ia terus-menerus mendapat gambaran mengenai waktu terakhir sebelum
Mal bunuh diri, kemudian tiba-tiba terjadi transisi dan ia berada di atas gurun
salju sebenarnya hanya untuk memperlihatkan bahwa saat itu kendali emosi yang
dialami Cobb sedang dalam level yang tinggi sehingga bisa membahayakan timnya
pada saat itu. Emosi yang ia rasakan kemudian ditabrakan pada transisi yang
menandakan bahwa ia tiba-tiba kehilangan kesadaran dan langsung berada di gurun
pasir.
Adegan serupa tidak selalu terjadi
di adegan lainnya ketika tokoh berpindah ke alam mimpi karena pada adegan yang
lain tidak ada pergulatan emosi selama transisi itu berlangsung. Adapula
penggunaan transisi dengan tujuan yang sama yaitu di bagian akhir ketika semua
orang disentakkan untuk dibangunkan kembali. Selain didukung oleh musik yang
dijadikan backsound pada proses tersebut, munculnya ritme yang cepat dan
cerita dimana waktu menjadi pusat penceritaan membuat cerita menjadi tegang,
sehingga transisi hanya digunakan untuk memberikan penekanan pada ketengan
tersebut bukan secara sengaja digunakan sebagai jembatan perpindahan waktu.
Sedangkan fade in dan fade
out tetap tidak digunakan hingga akhir cerita bahkan ketika cerita telah
mencapai titik penghabisan cerita. Fade in atau fade out memberikan kesan
adanya unsur ‘lebih lambat’ dari ritme penceritaan, tetapi Inception
menggunakan ritme yang sangat cepat dalam penceritaannya sehingga memang harus
benar-benar harus ikut berlari dalam mengikuti iramanya, itulah kenapa fade
tidak digunakan sebagai transisi.
Pada bagian akhir cerita ketika
memasuki bagian credit title sekalipun tidak ada transisi wipe tetapi
justru cut yang cepat yang digunakan dimana pada bagian tersebut ingin
menekankan sebuah solusi yang harus dengan cepat diambil oleh penontonnya dan
untuk memberikan dampak shock secara tiba-tiba.
2. Dimensi
Editing
Dimensi Editing dibagi menjadi 4 yaitu
adanya Kontinuitas Grafik, Ritmik, Spatial, dan Temporer. Pada Inception,
keempat hal tersebut dipenuhi secara sadar dalam film ini sehingga dimensi film
ini juga terasa adanya. Untuk Kontinuitas Grafik, antar shot pada film
Inception terjadi secara tidak sadar. Hal tersebut terjadi karena dibentuk dari
konsisten penggunaan warna, bentuk, komposisi, pergerakan, set, kostum, tata
cahaya, dan unsur mise en scene yang lainnya.
Pergerakan kamera dan perubahan
angle dan shot size sama sekali tidak menganggu karena film ini pada setiap
adegannya selalu berhasil untuk tetap berada pada penggunaan aturan 180 derajat
yang tepat. Sudut pandang setiap tokohnya selalu diarahkan ke objek yang tepat
sehingga pada shot selanjutanya kita tidak dibuat bingung kemana tokoh sedang
memandang.
Pada bagian-bagian ketika tokoh
sedang berbicara satu dengan yang lain, selalu terdapat shot yang diambil
secara luas sebelum kemudian diambil secara lebih dekat sehingga penonton tahu
bahwa mereka berada di tempat yang sama. Selain itu, sebelum shot berpindah ke
shot yang lain, arah pandang dan pemotongan selalu tepat sehingga tidak terasa
adanya kejanggalan dari dua shot dan terasa seperti satu aliran yang halus.
Komposisi menjadi unsur yang paling
penting untuk mendukung aspek kontinuitas grafik dalam film Inception.
Komposisi dibangun berdasarkan peletakkan property, peletakkan gambar frame di
kamera yang konsisten pada setiap shotnya. Komposisi pada gambar akan membantu
pergerakan. Kontinuitas Grafik yang terjadi pada pergerakan kamera terlihat
dari bagaimana setiap pergantian shot tetap seimbang dari satu shot yang lain
dan tidak mengganggu aspek naratif yang disampaikan meskipun kamera tengah
bergerak.
Pergerakan kamera juga sangat
mendukung sebagai bagian editing pada film ini, terlebih ketika objek dalam
film ini bergerak. Seperti pada scene ketika Adriene untuk pertama kalinya
mencoba untuk melakukan eksperimen untuk mendesain mimpinya. Pergerakan kamera
hand held dimunculkan untuk memperlihatkan bahwa kedua tokoh sedang berjalan
dan juga untuk memperlihatkan aspek mess pada apa yang tengah terjadi saat itu
bahwa ada yang tidak seimbang meskipun secara verbal tidak ditunjukkan, tetapi
perasaan yang muncul menjadi terkesan seperti itu.
Kemudian editing juga dilakukan
ketika mata subjek mengikuti objek, seperti ketika Adriene berusaha untuk
membuat bangunan menjadi satu dengan langit, dan mata mereka mengikuti
pergerakan objek tersebut sehingga kamera juga mengikuti mata tokoh yaitu
bergerak ke atas.Inception selalu memperhatikan kontinuitas grafik dalam
setiap shotnya, bahkan pada adegan action ketika cerita cenderung tegang,
selain itu Inception juga detail pada kontiniti setiap adegan yang diceritakan
berada pada scene yang berbeda.
Editing Spatial juga dimasukkan
dalam film ini. Tidak sedikit adegan ketika tokoh sedang berdiri memandang ke
suatu tempat kemudian disambung shot berikutnya adalah sesuatu yang
memungkinkan shot tersebut diambil dalam waktu yang berbeda tapi tidak
mengganggu unsur atau pergerakan naratif ceritanya. Pengambilan gambarnya
secara terpisah tidak pada satu frame yang sama karena tidak lebih dulu
diperlihatkan pengambilan gambar secara long shot, meskipun begitu kita tahu
bahwa maksud penceritaannya berada dalam scene yang sama.
Terdapat editing spatial yang sering
terjadi dalam film ini: shot Cobb kemudian Shot totem, shot cob kemudian shot
istrinya Mal, shot Cobn kemudian shot anak-anaknya. Sedangkan Shot cob
dan totem sering dimunculkan juga menunjukkan pola yang sama, yaitu fungsi dari
totem tersebut, bahwa ada pengaruh yang cukup besar bagi totem tersebut untuk
menunjukkan pada Cobb mana yang nyata dan tidak. Pola ini juga menjadi kunci di
akhir cerita.
Sesuai dengan nadanya, pada bagian
action yang menegangkan ritmiknya menjadi cepat, durasi rata-ratanya hanya
sekitar 3-5 detik/cut sebelum pindah ke cut lain. Ritmik editing dalam film
Inception menjadi lebih lambat ketika cerita mulai beralih keadegan-adegan
drama dalam film ini, seperti ketika Cobb bertemu dengan ayahnya, ketika Cobb
mencari parner, ketika Cobb berada dalam mimpinya, hal-hal semacam itu
menggunakan ritmik yang lebih lambat karena fokus untuk memberikan informasi
kepada penonton mengenai masalah dan konflik-konflik yang diangkat dalam film
ini.
Pola-pola ini akan mulai dipahami
oleh penonton ketika ia sadar bahwa perpindahan yang tiba-tiba secara naratif
itu sering terjadi sehingga seringkali kita terpaksa untuk mengulang lagi dari
awal atau dari scene sebelumnya untuk mampu menggabungkan puzzle-puzzle yang
terbentuk dari scene satu ke scene berikutnya.
Sebagai contoh saja, di adegan awal
kita baru tahu bahwa Cobb sedang berada di dalam mimpi ketika kita
diperlihatkan pada tiga scene berikutnya: scene apartemen dan scene kereta dan
bahkan ketika cerita berakhir di scene kereta kita baru sadar bahwa itu adalah
alam nyata dan cerita pada sequence tersebut berakhir disana unsur lainnya
dalam Dimensi Editing adalah Temporal yang terbagi atas Editing Kontiniti dan
Editing Diskontiniti.
Editing Kontiniti bisa disamakan
dengan Kontinuitas Grafik dimana adanya kontinuitas grafik akan membantu dalam
kontiniti editingnya. Grafik pada film Inception di setiap adegannya selalu
dibangun dengan unsur yang selalu konsisten dalam adegan yang sama yaitu
penggunaan dan peletakan property, make-up wardrobe, dan juga setting ceritanya
sehingga tidak menjadi masalah ketika kamera berpindah dari satu angle ke angle
lain atau dari satu shot size ke shot size lain dan pada gambar visual lain.
Selain itu aspek lain dalam editing kontiniti yang dipenuhi dalam film
Inception antara lain:
Melalui screen directing dari
pergerakan kameranya yang mengikuti aturan 180 derajat dengan tepat. Pada
setiap percakapan atau adegan dialog yang terjadi dalam adegan di film
Inception, posisi objek atau karakter berada dalam frame yang selalu konsisten,
hal ini bisa dilihat bahwa pada adegan dialog, tokoh akan selalu berada di
posisi yang sama, dan ini juga mempertegas bahwa posisi kamera selalu konsisten
berada di tempat yang sama.
Garis mata (eyelines) juga selalu
konsisten. Dalam adegan dialog, setiap tokohnya berbicara ke arah lawan bicara,
dan itu juga sekaligus memenuhi aturan 180 derajat dalam pengambilan gambar
sehingga tetap seimbang. Melalui mise en scene dan sinematografi agar hubungan
kontinuitas naratif antar shot tetap terjaga.
Reverse shot: gabungan dua shot atau
lebih yang membedakan para karakternya dan biasanya digunakan pada adegan
dialog: jelas, pundak ke pundak, dan hal tersebut terjadi pada bagian dialog
dua arah yang terjadi dalam film ini. Establing shot beberapa kali dimunculkan
di film ini pada bagian dimana tokoh tengah pergi ke suatu tempat. Establing
shot membantu penonton memahami dimana setting lokasi tokoh pada saat kejadian
tengah berada.
Match on Action: perpindahan shot
dari arah beda, tetapi momennya sama: dimunculkan ketika adegan action.
Pada adegan-adegan action, perpindahaan shot yang diambil dari arah berbeda
yang memperlihatkan sebuah aksi tidak terputus dalam sebuah momen pergerakan
yang sama, termasuk di dalamnya juga dipengaruhi oleh ritme editing yang cepat
sehingga mata tidak sempat untuk menghitung ada berapa shot yang terjadi dalam
adegan tersebut.
Point of View: mata tokoh kemudian
mata tokoh menjadi mata penonton apa yang dilihat tokoh dimunculkan dalam
directing yang sama sering dimunculkan pada adegan-adegan dimana tokoh tengah
mengamati sesuatu.
Cut in hampir terjadi disetiap
adegan yaitu cut dari shot yang luas ke yang lebih dekat, ini lebih sering
terjadi pada adegan-adegan dialog yang membutuhkan pengenalan terhadap lokasi
tempat sebelum memasuki pemahaman pada dialog yang dilakukan oleh tokoh.
Cross cutting pada film Inception
banyak dilakukan banyak untuk menunjukkan adegan-adegan tegang, terutama ketika
tensi cerita sedang naik, karena cerita berfokus pada mimpi di dalam mimpi,
sehingga seringkali kita diajak untuk benar-benar teliti dan detail
memperhatikan yang mana scene ketika berada di mimpipertama, mimpi kedua,
ketiga, dan seterusnya. Karena menggunakan tokoh-tokoh yang sama, seringkali
cerita menjadi cukup membingungkan jika kita kehilangan atau ketinggalan salah
satu adegan kunci yang menentukan perpindahaan ke setiap mimpi.
Seperti pada bagian ketika mereka
dikejar waktu karena perbedaan waktu di setiap mimpi, atau untuk menunjukkan
kegelisahan para tokohnya karena harus mempersiapkan sentakan untuk
membangunkan tokoh-tokoh yang lain dari mimpi mereka. Cross cutting lebih
sering terjadi untuk menceritakan apa yang terjadi pada tingkatan-tingkatan
mimpi di waktu yang sama.
Kemudian seperti juga pada awal
cerita, disitu diceritakan bahwa ada 2 mimpi yang dibangun Cobb dan
teman-temannya. Terdapat tiga scene berbeda yaitu mimpi pertama di kediaman
Saito, mimpi kedua di apartemen Saito, dan ketiga adalah di kehidupan nyata di
dalam kereta api. Ketiga scene tersebut menggunakan tokoh-tokoh yang sama tapi
dalam 3 scene tersebut mereka menggunakan pakaian yang berbeda, property, dan
setting yang berbeda.
Pada 3 unsur utama tersebut penonton
harus benar-benar memperhatikan sehingga bisa mengkategorikan dimana cerita
berada di mimpi keberapa karena seringnya dilakukan cross cutting sehingga
penonton harus mampu mengkategorikannya seperti itu agar tidak salah pengertian
terhadap ceritanya. Selain itu, tidak semua adegan diceritakan secara verbal,
beberapa hanya diceritakan secara visual sehingga perbedaan setiap scene harus
melihat dari mise en scene film ini.
Montase dimunculkan pada adegan
persiapan team cobb untuk masuk ke mimpi Fisicher itu diceritakan secara cepat,
tap tap tap, tapi tetap memperjelas maksud dari adegan adegan itu yaitu
bagaimana kritis dan rinci persiapan mereka. Setiap dialog ditabrakan pada
scene-scene yang berbeda sehiingga penonton diarahkan untuk lebih mencerpati
kalimat-kalimat yang disampaikan meskipun apa yang muncul pada frame berubah
secara cepat.
Sedangkan untuk Editing Diskontiniti digunakan dalam
film Inception secara sengaja untuk mempertegas aspek dramatiknya. Pada editing
diskontiniti dibagi menjadi 3 hal yaitu:
Pelanggaran aturan 180: Film
Inception tidak melakukan pelanggaran pada aturan 180 derajat, semua arah
disesuaikan dengan ketentuan pada aturan tersebut, kalaupun ada pengambilan
gambar yang melewati garis imajiner secara berlawanan itu dikarenakan memang
dibutuhkan sudutu pandang lain untuk bisa memberikan arahan atau mempertegas
posisi dan lokasi subjek. Seperti misalnya pada adegan mimpi di lobi hotel
ketika diceritakan Cobb berperan sebagai Mr. Charles dan mengajak Fischer untuk
berbicara. Adegan tersebut beberapa kali Cobb mengubah posisi duduknya, pertama
berada di sebelah kiri Fischer sehingga Fischer harus memutar kursi ke kiri
kemudian ia berjalan ke sebelah kanan Fischer sehingga Fischer harus memutar
tubuh ke sebelah kanan.
Untuk tetap mampu memperlihatkan
lawan bicara tanpa membuat penonton kehilangan arah dimana posisi setiap tokohnya
sedang berada saat itu, kamera perlu melakukan perpindahan yang melewati garis
imajiner untuk mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Meskipun begitu, arahnya
menjadi sama, meskipun Cobb ada di sebelah kiri atau kanan Fischer, pada frame
dia selalu muncul di sebelah kiri begitu pula sebaliknya.
Diskontiniti pada Jump Cut tidak
ditemukan tetapi terdapat Non diagetic insert yang dimunculkan beberapa kali
sebagai sebuah pola dan symbol sebagai penguat naratif cerita. Seperti
adegan-adegan Mal yang tiba-tiba muncul, Cut anak-anak cob mendadak muncul, mal
mendadak muncul, adegan kereta yang tiba-tiba muncul sebagai symbol memori dan
ingatan Cobb yang terus menerus menganggu pikirannya. kereta yang tiba-tiba
muncul tanpa ada penjelasan apapun dari maksud adegan tersebut, tidak ada
percakapan hanya pengungkapan secara visual.
Jika
tidak benar-benar memperhatikan, kita akan menganggap bahwa ada shot yang salah
karena terselip tidak pada adegannya ketika tokoh sedang tidak menghadap ke
shot berikutnya. Jika memperhatikan secara detail, barulah penonton tahu bahwa
maksud dari shot tersebut adalah sebuah kenangan atau memori, yang setelah
muncul berulang-ulang menjadi pola untuk menunjukkan konflik internal dari
tokoh utama, bahwa hal-hal yang sering muncul tiba-tiba itu adalah apa yang
paling mengganggu hidupnya selama ini.
Awalnya tentu kita akan merasa
terganggu dan bertanya-tanya maksud dari dimunculkannya shot-shot tersebut,
terlebih ketika shot-shot tersebut secara tidak kontiniti dimunculkan terus menerus.
Tetapi menariknya, dari ketidakteraturan kemunculan shot-shot tersebut, kita
dibawa lebih dalam pada unsur dramatik dan konflik tokohnya dimana shot-shot
itupulalah yang membawa kita semakin penasaran pada setiap adegan yang
mengiringinya.
Unsur editing lain seperti
Overlapping nyaris tidak pernah dimunculkan karena kegunaannya justru akan
memperpanjang waktu dalam adegan sedangkan pada film Inception semuanya
diceritakan secara cepat. Tetapi banyak terjadi Elliptical pada editingnya
untuk menunjukkan bahwa waktu yang bisa dijangkau dalam waktu jam atau menit
hanya diceritakan beberapa detik saja dalam frame. Seperti adegan ketika Cobb
memutuskan untuk pergi menemui ayahnya. Terdapat adegan ia di dalam pesawat,
tapi tidak diperlihatkan adegan ketika pesawat melaju atau apa yang Cobb
lakukan di dalam pesawat hingga ia sampai ke tujuan, hanya ditunjukkan ia duduk
dan shot kemudian ia sudah berada di lokasi yang ditujunya yaitu kampus tempat
ayahnya mengajar.
3. Visual
Effect
Sutradara berusia 40 tahun ini tidak
asal mengobral efek visual untuk mendominasi cerita, justru sebaliknya. Beliau
menempatkan berbagai efek visual pada tempat yang pas dan sesuai untuk membantu
cerita, mewujudkan khayalan penonton menjadi nyata. Ada sekitar 600 pengambilan
gambar efek visual untuk film ini dan itu termasuk sedikit jika dibandingkan
dengan Avatar misalnya yang membutuhkan lebih dari 2000 pengambilan
gambar efek visual.
Untuk membantu Nolan, ratusan kru
efek visual dan efek khusus pimpinan Paul Franklin dan Chris Corbould harus
bekerja keras untuk merealisasikannya senyata mungkin. Adegan aksi dalam Inception
yang pasti teringat terus oleh penonton tentu saja pertarungan Arthur melawan
para musuhnya di sepanjang koridor hotel yang terus berguncang dalam situasi
gravitasi nol. Tentu saja Corbould dan Franklin merencanakan hal ini
sebaik-baiknya dengan anak buah mereka. Dengan arahan Nolan yang begitu
perfeksionis, Corbould cs membangun satu ruangan khusus yang dapat berputar
dalam berbagai arah, termasuk horizontal dan vertikal. Banyak kamera dipasang
khusus di situ untuk merekam adegan baku hantam yang melibatkan Arthur dan
lawannya.
Satu adegan lagi yang takkan
terlupakan tentu saat satu bagian kota Paris berlipat-lipat sehingga sebagian
kota menjadi tegak lurus. Butuh usaha keras untuk melakukan hal ini dan
Franklin sebagai supervisor efek visual tahu betul tugas ini tidaklah ringan.
Demikian juga saat Cobb dan Ariadne melakukan percakapan di kafe pinggir jalan
sementara simulasi terus berlanjut dengan berbagai ledakan di sekeliling
mereka. Franklin cs tentu melakukan hal itu dengan hati-hati. Mereka melakukan
berbagai ledakan kecil, lalu adegan itu direkam dengan kamera, lalu
dimanipulasi secara besar-besaran di studio efek visual sehingga terlihat
spektakuler.
Kinerja Franklin dan Corbould telah
mendapatkan pengakuan berupa nominasi Oscar untuk karya mereka bersama Nolan di
film adaptasi komik terbaik dan terlaris sepanjang masa The Dark Knight.
Kini untuk Inception, hasil karya mereka tampaknya akan berbuah lebih.
4.
Sinematografi
Film ini direkam terutama dalam format anamorphic pada film
35 mm, dengan urutan kunci difilmkan pada 65 mm, dan sekuens udara di VistaVision.
Nolan tidak merekam rekaman apa pun dengan kamera IMAX
seperti yang dilakukannya dengan The Dark Knight. "Kami tidak merasa bahwa kami akan dapat syuting di IMAX
karena ukuran kamera karena film ini mengingat bahwa ini berhubungan dengan
area yang berpotensi sureal, sifat mimpi dan sebagainya, saya ingin itu menjadi
serealistis mungkin. Tidak terikat oleh skala kamera IMAX itu, meskipun saya
suka formatnya mahal ".
Selain itu, Nolan dan Pfister menguji menggunakan Showscan
dan Super Dimension 70 sebagai potensi format besar sistem kamera dengan frekuensi
gambar tinggi yang digunakan untuk film, tetapi akhirnya memutuskan formatnya.
Urutan dalam gerakan lambat difilmkan pada kamera
Photo-Sonics 35mm dengan kecepatan hingga 1000 bingkai per detik. Wally Pfister menguji syuting beberapa rangkaian ini
menggunakan kamera digital berkecepatan tinggi, tetapi menemukan formatnya
tidak dapat diandalkan karena gangguan teknis. "Dari
enam kali kami mengambil gambar dalam format digital, kami hanya memiliki satu
bagian yang bisa digunakan dan tidak berakhir di film.
Dari enam kali kami mengambil gambar dengan kamera
Photo-Sonics dan 35mm berlari melaluinya, setiap satu tembakan berada di film.
Nolan juga memilih untuk tidak merekam film apa pun dalam 3D karena ia lebih
suka memotret pada film menggunakan lensa prima, yang tidak dimungkinkan dengan
kamera 3D. Nolan juga mengkritik gambar suram
yang dihasilkan proyeksi 3D, dan perselisihan bahwa film tradisional tidak
memungkinkan persepsi kedalaman yang realistis, mengatakan "Saya pikir itu
keliru untuk menyebutnya 3D versus 2D. Inti dari citra sinematik adalah tiga
dimensi ... Anda tahu 95% dari petunjuk kedalaman kami berasal dari oklusi,
resolusi, warna dan sebagainya, sehingga ide untuk memanggil film 2D 'film 2D'
sedikit menyesatkan.
Nolan melakukan tes mengkonversi Inception ke 3D di
pasca-produksi tetapi memutuskan bahwa, sementara itu mungkin, ia tidak
memiliki waktu untuk menyelesaikan konversi ke standar. Pada bulan Februari 2011 Jonathan Liebesman menyarankan agar
Warner Bros mencoba konversi 3D untuk rilis Blu-ray. Wally Pfister memberikan masing-masing lokasi dan tingkat
mimpi tampilan yang berbeda untuk membantu pengakuan penonton tentang lokasi
narasi selama bagian potongan berat film: benteng gunung tampak steril dan
sejuk, lorong hotel memiliki warna hangat, dan pemandangan di dalam van lebih
netral.
5. Sound
Skor untuk Inception ditulis oleh Hans Zimmer, yang menggambarkan karyanya sebagai
"sangat elektronik, skor padat", diisi dengan "nostalgia dan
kesedihan" untuk menandingi perasaan Cobb di sepanjang film. Musik ini ditulis secara bersamaan untuk syuting, dan fitur
suara gitar mengingatkan Ennio Morricone, dimainkan oleh Johnny Marr, mantan
gitaris The Smiths. Édith Piaf's " Non, je
ne regrette rien " dengan tajam muncul di sepanjang film, digunakan untuk
menentukan waktu mimpi secara akurat, dan Zimmer mengolah kembali potongan lagu
menjadi isyarat skor. Album soundtrack dirilis pada 11 Juli 2010 oleh Reprise
Records. Sebagian besar skor juga termasuk dalam
suara surround 5.1 beresolusi tinggi pada disk kedua dari rilis 2 disc Blu-ray.
Musik Hans Zimmer dinominasikan untuk Academy Award dalam kategori Skor Asli
Terbaik pada tahun 2011, kalah dari Trent Reznor dan Atticus Ross dari The
Social Network.
6.
Format
Inception dirilis pada DVD dan Blu-ray pada tanggal 3 Desember
2010, di Perancis, dan seminggu setelahnya di Inggris dan Amerika Serikat (7
Desember 2010). Warner Bros juga
tersedia di Amerika Serikat edisi Blu-ray terbatas yang dikemas dalam replika
logam dari koper PASIV, yang termasuk ekstra seperti replika logam totem atas
yang berputar. Dengan produksi kurang dari 2000,
terjual habis dalam satu minggu. Inception
dirilis pada 4K UHD bersama dengan setiap film Christopher Nolan pada 19
Desember 2017.
7.
Durasi
Dalam 2,5 jam
bergulirnya Inception, yang anehnya tidak terasa selama itu, banyak momen-momen
yang berkesan, gimmick yang
bakal keingat terus, kata-kata yang
terngiang-ngiang bahkan lama setelah selesai menonton. Selain adegan “kafe
meledak” dan “kota bengkok” dalam dream-sharing perdana Ariadne, momen
yang saat itu juga langsung jadi favorit adalah aksi Arthur (Joseph
Gordon-Levitt) melawan agen-agen “contraception” di gravitasi jungkir balik,
dan semua adegan zero gravity nya. Lalu konsep mimpi yang ditawarkan
Inception pun masih lingering:
tentang “totem” lah, tentang bahwa kita tidak pernah ingat bagaimana mimpi kita
dimulai lah, tentang perbedaan waktu dunia sadar dan bawah sadar, tentang mimpi
berlapis-lapis lah, limbo lah.
Bab
III
Penutup
A.
Kesimpulan
Film Inception, untuk menunjukkan
perbindahan dari satu scene ke scene yang lain, bahkan ketika berpindah ke
sequen lain selalu tiba-tiba, tidak ada penjelasan untuk menunjukkan kemana
cerita akan diarahkan, dan hanya penonton yang mampu menganalisis bagaimana
kemudian cerita tiba-tiba berada pada adegan itu dan bagaimana atau apa
tujuannya.
Seperti
di awal cerita, kita tiba-tiba dibawa pada sebuah cerita seorang laki-laki yang
terdampar di pantai dan dibawa ke dalam sebuah kediaman, kemudian melakuakn
percakapan yang sama sekali tidak terkesan seperti sedang memperkenalkan diri.
Sebagai penonton kita tidak diberikan petunjuk apapun sama sekali, hanya bisa
mengikuti percakapan antara Cobb dan Saito tanpa clue mengenai apapun yang
tengah terjadi pada saat itu.
Bahkan
ketika kita dihadapkan pada scene berikutnya, dengan wajah tokoh yang sama
yaitu Cobb dalam keadaan yang jauh lebih terawatt dengan rapih, kita juga masih
tidak diberikan petunjuk mengenai apa yang terjadi. Biasanya orang akan
menganggapnya sebagai flashback? Atau jika tidak benar-benar jeli, orang bahkan
menganggap scene tersebut sebagai scene selanjutnya.
Dan itu terjadi secara teratur
hingga akhir cerita, dimana kita tiba-tiba melihat adegan berpindah scene tanpa
petunjuk atau pemberitahuan apa maksud scene berikutnya. Terlebih ketika adegan
berpindah dari alam nyata kea lama mimpi, yang benar-benar terjadi adalah kita
tidak tahu bahwa cerita saat itu sedang berada di scene mimpi, kita hanya bisa
meraba dari percakapan yang terjadi berikutnya bahwa ternyata mereka sedang
berada di dalam mimpi.
Jadi, film Inception ini menunjukkan
dua hal yang harus diperhatikan ketika menontonnya: kita diajak untuk berfikir
melalui unsur auditif dan visual yang ditunjukkan film ini, tetapi kita juga
diajak untuk terus mengikuti pergulatan emosi, dan konflik dalam dramatiknya.
Bisa dibilang Inception sempurna dalam menampilkan hal-hal tersebut kepada
penontonnya sehingga tidak heran jika ratingnya saja bagus.
Inception
telah
menyajikan sebuah pengalaman sinematik yang tidak hanya menjadi hiburan yang
berkualitas tetapi juga begitu dalam memasuki pikiran kita, apalagi jika
membahas soal nilai filosofi kehidupan yang dituangkan Nolan dan bercampur
dengan dunia mimpinya yang secara magis mempesona tersebut. Sedikit banyak
menyinggung rapuhnya manusia, pikiran bisa kapan saja “tercuri” atau “tertanam”
yang baru, tetapi luka dari masa lalu terkadang lebih sulit untuk dilupakan.
Karena hati lebih pintar mengingat,
apalagi jika kita terbebani oleh rasa bersalah yang tidak kasat mata tapi
tersimpan jauh di dalam sana (tema rasa bersalah memang sudah menjadi ciri khas
Nolan). Itulah yang terjadi dengan Dom, yang diperankan dengan sangat cemerlang
oleh Leonardo DiCaprio. Film ini memang disempurnakan dengan pemain yang bisa
memainkan perannya dengan baik.
Memaksimalkan apa yang sudah menjadi
pekerjaan rumah mereka dan memberikan porsi peran yang tidak mengecewakan,
termasuk Marion Cotillard yang walau diberi porsi lebih sedikit tetapi bisa
mencuri perhatian sebagai istri Dom, yaitu Mal. Sebagai penutup, Hans Zimmer
mengikatkan pita cantik lewat alunan-alunan score yang menghipnotis dan membuat
merinding.





0 komentar