Sejarah Museum Uang

by - November 22, 2018





Bab I
    Pendahuluan

   A.    Latar Belakangan

Pengelola sekaligus penjaga Museum Uang Sumatera, Medi Syahputra, mengatakan, museum uang ini sudah Launching semenjak tiga bulan yang lalu dan merupakan museum uang Sumatera yang pertama. Museum Sumatera bukan menampilkan mata uang keluaran Bank Indonesia, melainkan mata uang yang digunakan masyarakat pada masa revolusi Sumatera Utara.

Uang yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat ini pun memiliki arti tertentu selain sebagai alat tukar juga sebagai kode untuk memasuki suatu daerah. Beberapa koleksi uang yang tersedia dalam museum ini antara lain, uang Banten, Bukit Tinggi, Palembang dan juga Jambi, semua mata uang tersebut merupakan uang yang dicetak oleh Bistok Siregar.

Museum ini terdiri dari dua lantai, lantai satu terpajang uang kertas mata rupiah yang tersedia mulai dari 2,5 rupiah, 10 rupiah, 25 rupiah, dan tidak hanya jenis uang kertas.Selain itu, ada juga bon beras yang pada saat itu digunakan sebagai kode dalam berperang dan juga sebagai alat barter. Di museum ini juga terdapat mesin pencetak uang dan alat pemotong uang di zaman tersebut.

Sedangkan di lantai dua, terdapat uang logam dengan berbagai macam dan ada juga yang terbuat dari emas asli, semua jenis mata uang mulai dari zaman VOC sampai ke zaman penjajahan Jepang tersedia di museum tersebut. Museum yang terdapat di Gedung Juang 45, Jalan Pemuda tersebut tidak mengutip uang masuk bagi pengunjung yang datang, hanya saja jika ingin mendapatkan Souvenir berupa uang zaman dulu, maka pengunjung dikenakan biaya Rp10.000.

   B.     Rumusan Masalah

1.      Sejarah Museum Uang
2.      Manfaat Museum Uang
3.      Tanggapan Masyarakat

   C.    Tujuan Penulisan

1.      Mengajak masyarakat untuk menganal museum uang
2.      Menganalisa museum uang dari segi penulisan eksposisi
3.      Dan apa tanggapan masyarakat tentang museum uang

Bab II
Pembahasan

A.               Sejarah Museum Uang

Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara diresmikan tanggal 19 April 1982 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr.Daoed Yoesoef, namun peletakan koleksi pertama dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno, tahun 1954 berupa makara. Oleh karena itu museum ini terkenal dengan nama Gedung Arca. Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara terletak di Jalan H.M.Joni no. 15, Medan. Jarak dari bandara udara Polonia sekitar 3 km, dan dari pelabuhan laut Belawan sekitar 25 km. Sedangkan dari pusat pemerintahan kantor Gubernur Sumatera Utara berkisar 3 km.

Bangunan museum berdiri di atas lahan seluas 10.468 meter persegi, terdiri dari bangunan induk dua lantai yang difungsikan sebagai ruang pameran tetap, ruang pameran temporer, ruang audio-visual/ceramah, ruang Kepala Museum, tata usaha, ruang seksi bimbingan, perpustakaan, ruang mikro film, ruang komputer, serta gudang. Secara arsitektur, bentuk bangunan induk museum ini menggambarkan rumah tradisional daerah Sumatera Utara. Pada bagian atap depan dipenuhi dengan ornamen dari etnis Melayu, Batak Toba, Simalungun, Karo, Mandailing, Pakpak, dan Nias.

Berdasarkan koleksi yang dimiliki, Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara dikategorikan sebagai museum umum. Sebagian besar koleksinya berasal dari daerah Sumatera Utara berupa benda-benda peninggalan sejarah budaya mulai dari masa prasejarah, klasik pengaruh Hindu-Buddha, Islam, hingga sejarah perjuangan masa kini. Sebagian lainnya berasal dari beberapa daerah lain di Indonesia dan dari negara lain seperti Thailand. Hingga tahun 2005 Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara menyimpan kurang lebih 6.799 koleksi. Berikut akan diuraikan koleksi museum ini.

MASA PRASEJARAH

Pada ruang pertama ini ditampilkan sejarah geologi mulai terbentuknya alam semesta, pergeseran benua, dan Pulau Sumatera. Sejarah alam mengenai migrasi manusia, sebaran flora dan fauna, juga mengenai kehidupan prasejarah. Koleksi yang ditampilkan meliputi replika hewan khas Sumatera, replika fosil manusia purba, diorama kehidupan prasejarah, serta beragam perkakas prasejarah.

KEBUDAYAAN SUMATERA UTARA KUNO

Menampilkan jejak dari peradaban awal masyarakat Sumatera Utara, mulai dari masa megalitik tua hingga masa perundagian. Koleksi yang ditampilkan meliputi temuan budaya megalit seperti peti mati dari batu (sarkofagus), benda-benda religi berupa patung batu dan kayu, tongkat perdukunan, wadah obat dari gading, serta koleksi naskah Batak Kuno yang ditulis pada kulit kayu yang disebut Pustaha Laklak.

MASA KERAJAAN HINDU-BUDDHA

Peradaban Hindu dan Buddha menyebar ke wilayah Indonesia seiring dengan berkembangnya perniagaan Asia sekitar abad ke-2 Masehi. Ruang ini menampilkan koleksi peninggalan agama Hindu-Buddha yang ditemukan di daerah Sumatera Utara, diantaranya temuan arkeologi dari situs Percandian Padang Lawas dan situs Kota Cina. Benda koleksi meliputi arca batu, perunggu, pecahan keramik, dan mata uang kuno, juga sebuah replika candi induk dari Candi Bahal I.

MASA KERAJAAN ISLAM

Ruang Islam menampilkan berbagai artefak peninggalan masa Islam seperti replika berbagai batu nisan dari makam Islam yang ditemukan di daerah Barus, Sumatera Utara. Serta nisan peninggalan Islam yang bercorak khas Batak, beberapa Al Qur'an, dan naskah Islam tua yang ditulis dengan tangan. Serta sebuah replika Masjid Azizi di Medan (note: tepatnya di Tanjung Pura, Langkat; negeri kelahiran Amir Hamzah).

KOLONIALISME DI SUMATERA UTARA

Sebelum Pemerintah Hindia Belanda masuk dan memerintah di wilayah Sumatera, para pengusaha dari Eropa khususnya Jerman telah datang dan membuka perkebunan di Sumatera. Koleksi masa kolonial membawa kita kembali pada masa-masa tersebut, ketika kemajuan usaha perkebunan telah melahirkan Medan sebagai kota multikultur yang kaya, unik, dan menarik. Koleksi yang ditampilkan meliputi komoditas perdagangan kolonial, alat-alat, dan mata uang perkebunan, foto-foto bersejarah yang langka, model figur kolonial, serta replika dari kehidupan kota Medan tempo dulu.

PERJUANGAN RAKYAT SUMATERA UTARA

Seperti halnya daerah lain di Indonesia, di Sumatera Utara telah tumbuh benih-benih perlawanan terhadap penjajah jauh sebelum kemerdekaan. Ruang perjuangan menceritakan sejarah perjuangan masyarakat Sumatera Utara sejak sebelum 1908 sampai masa revolusi fisik 1945-1949, juga ditampilkan sejarah perjuangan pers di Sumatera Utara. Benda koleksi meliputi senjata tradisional dan modern, obat-obatan tradisional, peralatan komunikasi yang digunakan melawan penjajah. Juga ditampilkan lukisan kepahlawanan dan poster propaganda masa perang.

GUBERNUR & PAHLAWAN SUMATERA UTARA

Ruang ini menampilkan para pahlawan nasional yang berasal dari provinsi Sumatera Utara, juga para mantan gubernur yang telah berjasa membangun dan memajukan provinsi Sumatera Utara. Koleksi berupa foto-foto serta lukisan dari para pahlawan dan mantan gubernur Sumatera Utara.

B.                Manfaat Museum Uang

Pameran uang perjuangan dibuka di Gedung Juang 45, Jalan Pemuda Medan. Acara diselenggarakan oleh dewan harian daerah 45. Acara ini rencananya diselenggakan hingga acara dibuka oleh Ketua Dewan Harian Daerah 45, Nurdin Lubis. Ia menyampaikan tujuan terswlenggaranya acara ini yaitu agar munculnya patriotisme, idealisme, dan nilai-nilai perjuangan 45.

Menurutnya dipembukaan pameran kali ini akan ditampilkan uang yang pernah dibuat oleh Bupati Karo pada Tahun 1945 kala itu."Uangnya dari kertas tulis, " ujarnya dihadapan hadirin.
Sebelumnya, para pengunjung disuguhkan tarian daerah dari Toba, Samosir yang dibawakan oleh 3 pasang muda-mudi. Acara ini diselenggarakan pleh Dewan Harian Daerah 45 Sumatera Utara, Museum Uang Sumatera dan Pusat Atudi Ilmu-Ilmu Sosial dan Sejarah Universitas Negeri Medan (PUSSIS - UNIMED).

Di sisi lain, perwakilan PUSSIS Unimed memberikan keterangan kepada hadirin menyampaikan terbitnya uang perjuangan dari perspektif sejarah. "Ada 142 uang yang diterbitkan di Sumatera Utara, Rantau parapat 29. 22 asahan, 18 bambang muda, pematang siantar 16, Nias 14, Medan nyaris tidak ada," ujarnya.

Menurutnya, uang perjuangan tersebut dipakai untuk menembus blokade Belanda, membeli komoditi impor dan lainnya. Laki-laki itu juga mengatakan, dahulu ada tentara NICA yang memakai uang perjuangan untuk membeli lontong, dan keperluannya sehari-hari.

C.               Tanggapan Masyarakat

Museum ini mampu mengenalkan masyarakat akan perjuangan pahlawan lewat arsitekturnya. Juga mampu memberikan cerita atau pemahaman baru tentang sejarah masa lalu Indonesia. Proses pembelanjaan dan pembelian juga bagaimana ekonomi Indonesia masa lalu tercipta.

Lebih banyak nilai historis yang terkandung dalam museum ini. Sebagaimana museum pada umumnya, yang berfungsi menyampaikan pesan sejarah juga kuat akan pesan nasionalisme dan juga kebudayaan. Museum uang di jalan pemuda, mampu menghidupi peranan penting akan lemahnya masyarakat kita terhadap nilai-nilai sejarah bangsanya.

Bab III
Penutup

A. Kesimpulan

Sejak diresmikan tiga bulan yang lalu tepatnya pada bulan Mei 2017, Medan miliki museum uang pertama di Sumatera. Pengelola sekaligus penjaga Museum Uang Sumatera, Medi Syahputra, di Medan, Kamis mengatakan bahwa museum uang ini sudah launching semenjak tiga bulan yang lalu dan  merupakan museum uang Sumatera yang pertama.

Museum Sumatera bukan menampilkan mata uang keluaran Bank Indonesia melainkan mata uang yang digunakan masyarakat pada masa revolusi Sumatera Utara. Uang yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat ini pun memiliki arti tertentu selain sebagai alat tukar juga sebagai kode untuk memasuki suatu daerah.

“Uang yang ada di museum ini mempunyai arti, jadi dulu masyarakat menggunakannya sebagai alat perang melawan Belanda, sebagai kode untuk memasuki suatu daerah tetapi sebagai alat barter juga,” kata Medi.

Beberapa jenis uang yang tersedia dalam museum uang Sumatera yaitu uang Banten, Bukit Tinggi, Palembang dan juga Jambi, semua mata uang tersebut merupakan uang yang dicetak oleh Bistok Siregar. Museum ini terdiri dari dua lantai, Lantai satu dari museum terpajang uang kertas mata rupiah yang tersedia mulai dari 2,5 rupiah, 10 rupiah, 25 rupiah bukan hanya uang kertas.

Ada juga bon beras yang pada saat itu digunakan sebagai kode dalam berperang dan juga sebagai alat barter, ada juga mesin pencetak uang dan alat pemotong uang di zaman tersebut.

Sedangkan dilantai dua terdapat uang logam dengan berbagai macam dan ada juga yang terbuat dari emas asli, semua jenis mata uang mulai dari zaman VOC sampai ke zaman penjajahan Jepang tersedia di museum tersebut. Museum yang terdapat di Gedung Juang 45, Jalan Pemuda tersebut tidak mengutip uang masuk bagi pengunjung yang datang hanya saja jika ingin mendapatkan souvenir berupa uang zaman dulu maka pengunjung dikenakan biaya Rp 10.000.


You May Also Like

0 komentar