Sejarah Museum Uang
Bab I
Pendahuluan
Pendahuluan
A. Latar Belakangan
Pengelola sekaligus penjaga Museum Uang Sumatera, Medi
Syahputra, mengatakan, museum uang ini sudah Launching semenjak tiga
bulan yang lalu dan merupakan museum uang Sumatera yang pertama. Museum
Sumatera bukan menampilkan mata uang keluaran Bank Indonesia, melainkan mata
uang yang digunakan masyarakat pada masa revolusi Sumatera Utara.
Uang yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat ini pun
memiliki arti tertentu selain sebagai alat tukar juga sebagai kode untuk
memasuki suatu daerah. Beberapa koleksi uang yang tersedia dalam museum ini
antara lain, uang Banten, Bukit Tinggi, Palembang dan juga Jambi, semua mata
uang tersebut merupakan uang yang dicetak oleh Bistok Siregar.
Museum ini
terdiri dari dua lantai, lantai satu terpajang uang kertas mata rupiah yang
tersedia mulai dari 2,5 rupiah, 10 rupiah, 25 rupiah, dan tidak hanya jenis
uang kertas.Selain itu, ada juga bon beras yang pada saat itu digunakan sebagai
kode dalam berperang dan juga sebagai alat barter. Di museum ini juga terdapat
mesin pencetak uang dan alat pemotong uang di zaman tersebut.
Sedangkan di
lantai dua, terdapat uang logam dengan berbagai macam dan ada juga yang terbuat
dari emas asli, semua jenis mata uang mulai dari zaman VOC sampai ke zaman
penjajahan Jepang tersedia di museum tersebut. Museum yang terdapat di Gedung
Juang 45, Jalan Pemuda tersebut tidak mengutip uang masuk bagi pengunjung yang
datang, hanya saja jika ingin mendapatkan Souvenir berupa uang zaman
dulu, maka pengunjung dikenakan biaya Rp10.000.
B. Rumusan
Masalah
1.
Sejarah Museum
Uang
2.
Manfaat Museum
Uang
3.
Tanggapan
Masyarakat
C. Tujuan Penulisan
1.
Mengajak masyarakat untuk menganal museum uang
2.
Menganalisa museum uang dari segi penulisan eksposisi
3.
Dan apa tanggapan masyarakat tentang museum uang
Bab II
Pembahasan
A.
Sejarah Museum Uang
Museum Negeri Provinsi Sumatera
Utara diresmikan tanggal 19 April 1982 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,
Dr.Daoed Yoesoef, namun peletakan koleksi pertama dilakukan oleh Presiden
Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno, tahun 1954 berupa makara. Oleh karena
itu museum ini terkenal dengan nama Gedung Arca. Museum Negeri Provinsi
Sumatera Utara terletak di Jalan H.M.Joni no. 15, Medan. Jarak dari bandara
udara Polonia sekitar 3 km, dan dari pelabuhan laut Belawan sekitar 25 km.
Sedangkan dari pusat pemerintahan kantor Gubernur Sumatera Utara berkisar 3 km.
Bangunan museum berdiri di atas
lahan seluas 10.468 meter persegi, terdiri dari bangunan induk dua lantai yang
difungsikan sebagai ruang pameran tetap, ruang pameran temporer, ruang
audio-visual/ceramah, ruang Kepala Museum, tata usaha, ruang seksi bimbingan,
perpustakaan, ruang mikro film, ruang komputer, serta gudang. Secara
arsitektur, bentuk bangunan induk museum ini menggambarkan rumah tradisional
daerah Sumatera Utara. Pada bagian atap depan dipenuhi dengan ornamen dari
etnis Melayu, Batak Toba, Simalungun, Karo, Mandailing, Pakpak, dan Nias.
Berdasarkan koleksi yang dimiliki,
Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara dikategorikan sebagai museum umum.
Sebagian besar koleksinya berasal dari daerah Sumatera Utara berupa benda-benda
peninggalan sejarah budaya mulai dari masa prasejarah, klasik pengaruh
Hindu-Buddha, Islam, hingga sejarah perjuangan masa kini. Sebagian lainnya
berasal dari beberapa daerah lain di Indonesia dan dari negara lain seperti
Thailand. Hingga tahun 2005 Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara menyimpan
kurang lebih 6.799 koleksi. Berikut akan diuraikan koleksi museum ini.
MASA
PRASEJARAH
Pada ruang pertama ini ditampilkan sejarah geologi
mulai terbentuknya alam semesta, pergeseran benua, dan Pulau Sumatera. Sejarah
alam mengenai migrasi manusia, sebaran flora dan fauna, juga mengenai kehidupan
prasejarah. Koleksi yang ditampilkan meliputi replika hewan khas Sumatera,
replika fosil manusia purba, diorama kehidupan prasejarah, serta beragam
perkakas prasejarah.
KEBUDAYAAN SUMATERA UTARA KUNO
Menampilkan
jejak dari peradaban awal masyarakat Sumatera Utara, mulai dari masa megalitik
tua hingga masa perundagian. Koleksi yang ditampilkan meliputi temuan budaya
megalit seperti peti mati dari batu (sarkofagus), benda-benda religi berupa
patung batu dan kayu, tongkat perdukunan, wadah obat dari gading, serta koleksi
naskah Batak Kuno yang ditulis pada kulit kayu yang disebut Pustaha Laklak.
MASA KERAJAAN HINDU-BUDDHA
Peradaban
Hindu dan Buddha menyebar ke wilayah Indonesia seiring dengan berkembangnya
perniagaan Asia sekitar abad ke-2 Masehi. Ruang ini menampilkan koleksi
peninggalan agama Hindu-Buddha yang ditemukan di daerah Sumatera Utara,
diantaranya temuan arkeologi dari situs Percandian Padang Lawas dan situs Kota
Cina. Benda koleksi meliputi arca batu, perunggu, pecahan keramik, dan mata
uang kuno, juga sebuah replika candi induk dari Candi Bahal I.
MASA KERAJAAN ISLAM
Ruang Islam menampilkan
berbagai artefak peninggalan masa Islam seperti replika berbagai batu nisan
dari makam Islam yang ditemukan di daerah Barus, Sumatera Utara. Serta nisan
peninggalan Islam yang bercorak khas Batak, beberapa Al Qur'an, dan naskah
Islam tua yang ditulis dengan tangan. Serta sebuah replika Masjid Azizi di
Medan (note: tepatnya di Tanjung Pura, Langkat; negeri kelahiran Amir Hamzah).
KOLONIALISME DI SUMATERA
UTARA
Sebelum
Pemerintah Hindia Belanda masuk dan memerintah di wilayah Sumatera, para pengusaha
dari Eropa khususnya Jerman telah datang dan membuka perkebunan di Sumatera.
Koleksi masa kolonial membawa kita kembali pada masa-masa tersebut, ketika
kemajuan usaha perkebunan telah melahirkan Medan sebagai kota multikultur yang
kaya, unik, dan menarik. Koleksi yang ditampilkan meliputi komoditas
perdagangan kolonial, alat-alat, dan mata uang perkebunan, foto-foto bersejarah
yang langka, model figur kolonial, serta replika dari kehidupan kota Medan
tempo dulu.
PERJUANGAN RAKYAT SUMATERA
UTARA
Seperti
halnya daerah lain di Indonesia, di Sumatera Utara telah tumbuh benih-benih
perlawanan terhadap penjajah jauh sebelum kemerdekaan. Ruang perjuangan
menceritakan sejarah perjuangan masyarakat Sumatera Utara sejak sebelum 1908
sampai masa revolusi fisik 1945-1949, juga ditampilkan sejarah perjuangan pers
di Sumatera Utara. Benda koleksi meliputi senjata tradisional dan modern,
obat-obatan tradisional, peralatan komunikasi yang digunakan melawan penjajah.
Juga ditampilkan lukisan kepahlawanan dan poster propaganda masa perang.
GUBERNUR & PAHLAWAN
SUMATERA UTARA
Ruang ini
menampilkan para pahlawan nasional yang berasal dari provinsi Sumatera Utara,
juga para mantan gubernur yang telah berjasa membangun dan memajukan provinsi
Sumatera Utara. Koleksi berupa foto-foto serta lukisan dari para pahlawan dan
mantan gubernur Sumatera Utara.
B.
Manfaat
Museum Uang
Pameran uang perjuangan dibuka di Gedung Juang
45, Jalan Pemuda Medan. Acara diselenggarakan oleh dewan harian daerah 45.
Acara ini rencananya diselenggakan hingga acara dibuka oleh Ketua Dewan Harian
Daerah 45, Nurdin Lubis. Ia menyampaikan tujuan terswlenggaranya acara ini
yaitu agar munculnya patriotisme, idealisme, dan nilai-nilai perjuangan 45.
Menurutnya dipembukaan pameran kali ini akan ditampilkan
uang yang pernah dibuat oleh Bupati Karo pada Tahun 1945 kala itu."Uangnya
dari kertas tulis, " ujarnya dihadapan hadirin.
Sebelumnya, para pengunjung disuguhkan tarian
daerah dari Toba, Samosir yang dibawakan oleh 3 pasang muda-mudi. Acara ini diselenggarakan
pleh Dewan Harian Daerah 45 Sumatera Utara, Museum Uang Sumatera dan Pusat
Atudi Ilmu-Ilmu Sosial dan Sejarah Universitas Negeri Medan (PUSSIS - UNIMED).
Di sisi lain, perwakilan PUSSIS Unimed memberikan
keterangan kepada hadirin menyampaikan terbitnya uang perjuangan dari
perspektif sejarah. "Ada 142 uang yang diterbitkan di Sumatera Utara,
Rantau parapat 29. 22 asahan, 18 bambang muda, pematang siantar 16, Nias 14,
Medan nyaris tidak ada," ujarnya.
Menurutnya, uang perjuangan tersebut dipakai
untuk menembus blokade Belanda, membeli komoditi impor dan lainnya. Laki-laki
itu juga mengatakan, dahulu ada tentara NICA yang memakai uang perjuangan untuk
membeli lontong, dan keperluannya sehari-hari.
C.
Tanggapan
Masyarakat
Museum ini mampu mengenalkan
masyarakat akan perjuangan pahlawan lewat arsitekturnya. Juga mampu memberikan
cerita atau pemahaman baru tentang sejarah masa lalu Indonesia. Proses
pembelanjaan dan pembelian juga bagaimana ekonomi Indonesia masa lalu tercipta.
Lebih banyak nilai historis yang
terkandung dalam museum ini. Sebagaimana museum pada umumnya, yang berfungsi
menyampaikan pesan sejarah juga kuat akan pesan nasionalisme dan juga
kebudayaan. Museum uang di jalan pemuda, mampu menghidupi peranan penting akan
lemahnya masyarakat kita terhadap nilai-nilai sejarah bangsanya.
Bab
III
Penutup
A.
Kesimpulan
Sejak
diresmikan tiga bulan yang lalu tepatnya pada bulan Mei 2017, Medan miliki
museum uang pertama di Sumatera. Pengelola sekaligus penjaga Museum Uang
Sumatera, Medi Syahputra, di Medan, Kamis mengatakan bahwa museum uang ini
sudah launching semenjak tiga bulan yang lalu dan merupakan museum uang
Sumatera yang pertama.
Museum
Sumatera bukan menampilkan mata uang keluaran Bank Indonesia melainkan mata
uang yang digunakan masyarakat pada masa revolusi Sumatera Utara. Uang yang
dikeluarkan oleh pemerintah setempat ini pun memiliki arti tertentu selain
sebagai alat tukar juga sebagai kode untuk memasuki suatu daerah.
“Uang yang
ada di museum ini mempunyai arti, jadi dulu masyarakat menggunakannya sebagai
alat perang melawan Belanda, sebagai kode untuk memasuki suatu daerah tetapi
sebagai alat barter juga,” kata Medi.
Beberapa jenis uang yang tersedia dalam museum uang
Sumatera yaitu uang Banten, Bukit Tinggi, Palembang dan juga Jambi, semua mata
uang tersebut merupakan uang yang dicetak oleh Bistok Siregar. Museum ini
terdiri dari dua lantai, Lantai satu dari museum terpajang uang kertas mata
rupiah yang tersedia mulai dari 2,5 rupiah, 10 rupiah, 25 rupiah bukan hanya
uang kertas.
Ada juga bon beras yang pada saat itu digunakan
sebagai kode dalam berperang dan juga sebagai alat barter, ada juga mesin
pencetak uang dan alat pemotong uang di zaman tersebut.
Sedangkan dilantai dua terdapat uang logam dengan berbagai
macam dan ada juga yang terbuat dari emas asli, semua jenis mata uang mulai
dari zaman VOC sampai ke zaman penjajahan Jepang tersedia di museum tersebut. Museum
yang terdapat di Gedung Juang 45, Jalan Pemuda tersebut tidak mengutip uang
masuk bagi pengunjung yang datang hanya saja jika ingin mendapatkan souvenir
berupa uang zaman dulu maka pengunjung dikenakan biaya Rp 10.000.


0 komentar